Tortor Batak Toba dan Jenis-jenisnya serta konsep gondang

Written By Hutagalung Cyber on Kamis, 25 April 2013 | 22.28

Musik gondang sabangunan terus mengentak sigale-gale bergoyang menari dan orang-orang pun bergantian manortor (menari). Kini tarian itu bukan lagi ritual untuk menghormati leluhur, melainkan bagian dari suguhan wisata. (Sumber foto: warisanindonesia.com).
Tortor Batak Toba adalah jenis tarian purba dari Batak Toba yang berasal dari Sumatera Utara yang meliputi daerah Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir dan Samosir.

Tortor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Secara fisik tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tortor adalah sebuah media komunikasi, di mana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara.

Tortor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (Hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan.

Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut : "Amang pardoal pargonci" :
  1. "Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion."
  2. "Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada, ompungta paidua, sahat tu papituhon."
  3. '"Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo."
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan/seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.

Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti : Permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.

Setiap penari tortor harus memakai ulos dan mempergunakan alat musik/gondang (Uninguningan).
Ada banyak pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti si penari sudah siap menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat (monsak), atau adu tenaga batin dan lain-lain.
 
Tari tortor digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.


Jenis-jenis Tortor

Tortor Somba
Tortor Somba (Sumber Foto : Pesona Batak).
Tortor Somba adalah Tari Tortor untuk menghormati Tuhan Yang Maha Kuasa, Raja serta para undangan agar mendapat berkat dan restu dari Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bekerja.

Tortor Tunggal Panaluan
Tortor Tunggal Panaluan
(Sumber Foto : Pesona Batak).
Tortor Tunggal Panaluan adalah Tari Tortor yang sangat sakral bagi orang batak karena tortor ini menjadi mediasi manusia dengan Mula Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tortor tunggal panaluan dilaksanakanseorang dukun (Datu Bolon) atas perintah sang Raja dengan tujuan untuk menolak bala, meminta atau menolak hujan, membentuk kampung, atau mengambil keputusan untuk berperang.

Sendratari Pernikahan
Sendratari pernikahan (Sumber Foto : Pesona Batak).
Sendratari ini menceritakan prosesi singkat pernikahan pesta adat Batak Toba mulai dari 5 pasang muda-mudi mengikuti pesta Naposo (Muda-Mudi) dan sepasang sejati dari mereka  saling jatuh cinta. Kemudian mereka meminta pesta dari kedua orangtuanya dan selanjutnya prosesi pernikahan yang diberkati Pengetua Adat.Kemudian diteruskan prosesi pesta adat hingga pesta besar karena pihak laki-laki dan pihak perempuan selalu membuat suatu keputusan dan mempersetujui pesta pernikahan segera dilaksanakan. 

Tortor Sipitu Sawan
Tortor Sipitu Sawan (Sumber Foto : Pesona Batak).
Tortor Sipitu Sawan adalah Tari tortor yang menceritakan ketika Mula Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Kuasa) pertama kali menurunkan orang Batak di Pusuk Buhit dan kembali menurunkan 7 (Tujuh) bidadari di Pusuk Buhit sambil menari dengan tujuh sawan yang berisi air dari 7 sumber mata air dan diperas dengan jeruk purut bertujuan membersihkan manusia yang sudah berbuat dosa agar hidup damai, rukun dan saling menghormat.
 

Konsep gondang masa kini

Sekilas tentang gondang, bahwa Gondang Mula-mula mengawali hajatan itu lalu berturut-turut menyusul Gondang Somba, Gondang Mangaliat, Gondang Simonang-monang, Gondang Sibungajambu, Gondang Marhusip. Sukaria itu pun berakhir dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio.

Dalam hal ini, konsep margondang pada masa sekarang dapat dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu :
  1. Margondang pesta, suatu kegiatan yang menyertakan gondang dan merupakan suatu ungkapan kegembiraan dalam konteks hibuan atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang pembangunan gereja, gondang naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dan sebagainya.
  2. Margondang adat, suatu kegiatan yang menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu, misalnya : gondang mamampe marga (pemberian marga), gondang pangoli anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang di luar suku Batak Toba, dan sebagainya.
  3. Margondang Religi, upacara ini pada saat sekarang hanya dilakukan oleh organisasi agamaniah yang masih berdasar kepada kepercayaan batak purba. Misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak kepercayaan mereka adalah mula jadi na bolon dan segala kegiatan yang berhubungan dengan adat serta hukuman dalam kehidupan sehari-hari adalah berdasarkan tata aturan yang dititahkan oleh Raja Sisingamangaraja XII yang dianggap sebagai wakil mula jadi na bolon.

Referensi :
 HORAS!

0 komentar:

Posting Komentar

Isilah komentar Saudara/i dengan baik dan benar, dilarang membuat komentar yang berbau SARA, Porno atau hal-hal yang melanggar Etika/Norma/Aturan yang berlaku.

Mauliate. HORAS!