Tampilkan postingan dengan label Hasibuan dan Guru Mangaloksa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasibuan dan Guru Mangaloksa. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Silsilah dan Monumen Hasibuan



Hasibuan adalah salah satu marga Batak Toba, jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hasibuan berada pada keturunan (sundut) kedelapan : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan.

Dalam silsilah masyarakat suku batak (dalam struktur tarombo) bahwa si Raja Hasibuan adalah keturunan dari si Raja Sobu, si Raja Sobu yang hidup pada abad xv atau sekitar tahun 1455 adalah keturunan ke V dari si Raja Batak, ayahnya bernama Tuan Sorbadibanua anak dari istrinya yang ke dua bernama si Boru Basopaet (Putri Mojopahit).

Si Raja Sobu memiliki dua orang anak putra yang bernama Raja Tinandang atau lebih dikenal dengan bernama Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan.

Di masa kecil, Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan tinggal bersama orang tuanya di Desa Lobu Galagala yang terletak di kaki Gunung Dolok Tolong (Kabupaten Toba Samosir saat ini) dan setelah beranjak dewasa si Raja Hasibuan pergi merantau ke Desa Sigaol – Uluan dan menetap di sana yang pada akhirnya menjadi bonapasogit marga Hasibuan, dan ia pun meminang boru Simatupang dari Muara.

Toga Hasibuan memiliki keturunan :
  1. Raja Manjalo : tinggal di Sigaol, Uluan dan tetap memakai marga Hasibuan, namun setelah berumah tangga Raja Marjalo membuat atau membuka perkampungan baru yang diberi nama Hariaramarjalo di Lumban Bao Sigaol saat ini, Hariara (pohon ara) marjalo (namanya) dan membuat pertanda dengan menamakan pohon Hariara (ara) yang sampai saat ini masih berdiri kokoh dan di sampingnya telah dibangun Monumen si Raja Hasibuan yang sudah diresmikan tahun 2002 lalu.
  2. Guru Mangaloksa : pergi merantau ke daerah Silindung dan menetap disana di kampung Marsaitbosi dan menikah dengan marga boru (putri) Pasaribu. Keturunan Guru Mangaloksa telah memakai nama/marga baru yaitu marga Hutagalung, marga Hutabarat, marga Hutatoruan dan marga Lumbantobing, sementerata keturunan marga Panggabean ada yang menjadi marga Simorangkir dan keturunan dari Guru Mangaloksa ini dikemudian hari dikenal dengan sebutan "Si Opat Pusoran", menurut cerita bahwa sebahagian keturunan Guru Mangaloksa yang merantau ke Tapanuli Sealatan Sipirok tetap memaki marga Hasibuan, begitu juga dengan marga Hasibuan dan marga Lumbantobing yang bermukim di Laguboti.
  3. Guru Hinobaan : pergi merantau ke Barus/Sibolga atau Asahan dan tetap memakai marga Hasibuan.
  4. Raja Manjalang : pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan
  5. Raja Maniti : dikabarkan pergi meranatau ke daerah Aceh (Nangro Aceh Darussalam saat ini), dan kemungkinan keturunan inilah yang mengaku batak sampulu pitu (17) yang bermukim di kabupaten Alas saat ini, dan hingga saat ini Parsadaan Pomparan ni Raja Hasibuan dimanapun berada masih menanti kembalinya keturunan anak yang hilang ini.Anak ke lima adalah Guru Marjalang, dan ini pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan.
  6. Lima putri si Raja Hasibuan :
  • Si Boru Turasi : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Sitorus Pane di Lumban Lobu,
  • Si Boru Tumandi : marhamulian/marhuta (kawin) ke Marga Panjaitan di Sitorang,
  • Si Boru Taripar laut : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Simanjuntak di Sitandohan Balige,
  • Si Boru Sande Balige : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siahaan di Hinalang Balige, dan
  • Si Boru Nauli : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siringo-ringo di Muara.

Monumen Hasibuan

Tidak semua keturunan Hasibuan (termasuk keturunan Guru Mangaloksa) tahu di mana dan bentuk seperti apa monumen/Tugu Hasibuan.




Ketika diadakan perayaan Monumen si Raja Hasibuan di Lumban Bao Hariaramarjalo tahun 2002 lalu semua perwakilan dari si Raja hasibuan dan boru hadir bersama rombongannya masing-masing, kecuali keturunan dari Guru Maniti yang tidak hadir.


Polemik Hukum Adat Pernikahan sesama keturunan Hasibuan

Dalam Hukum ada pernikahan Batak Toba tidak boleh saling menikahi sesama marga, demikian halnya dengan Hasibuan, tidak boleh menikah dengan sesama Hasibuan, namun hal itu tidak disadari oleh beberapa keturunan Hasibuan bahwa sesungguhnya telah terjadi saling menikahi sesama Hasibuan, dan keturunan Hasibuan yang saling menikahi tersebut adalah keturunan dari Guru Mangaloksa sendiri. Parahnya ada pula aturan atau padan yang menyatakan bahwa keturunan Guru Mangaloksa tidak boleh menikah dengan Hasibuan yang menggunakan marga/boru Hasibuan.

Lalu kenapa sesama Si Opat Pusoran bisa saling menikahi? Ada sejarahnya, sebab pada zaman dahulu marga dan boru lain tidak sebanyak sekarang yang dijumpai pada waktu itu i daerah Si Opat Pisoran. Apalagi teknologi Informasi dan komunikasi serta transportasi tidak secanggih sekarang, maka untuk menghindari para putra dan putri Guru Mangaloksa tidak menjadi lajang terus atau tidak ketuaan menikah maka diberilah kebebasan untuk saling menikahi. Sebenarnya pemberian kebebasan seperti itu adalah melanggar aturan yang dijelaskan di atas.

Haruslah disadari, semua keturunan si opat pisoran atau keturunan Guru Mangaloksa berhak memakai marga/boru Hasibuan.

Bila memang sudah terjadi biarlah terjadi dan berlalu, namun jangan diulang lagi kebiasaan lama tersebut. Sebagai contoh: Buat apa dibuat kumpulan/punguan Guru Mangaloksa tapi saling menikahi? Bayangkan bila kumpulan tersebut membuat acara dan tentunya yang banyak bekerja atau repot adalah pihak "boru", dan ternyata pihak "boru" tersebut adalah bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa, otomatis yang merasa bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa tidak akan melakukan pekerjaan sebagai pihak "boru".


Referensi:
  • W. M. Hutagalung, PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak.
  • http://agusthutabarat.wordpress.com/guru-mangaloksa-dan-hutabarat/
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Tarombo_Batak
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Hasibuan
  • Dari berbagai sumber.

Minggu, 10 Agustus 2014

Berita tentang Pusaka Peninggalan Guru Mangaloksa

Mungkin masih banyak di antara para keturunan Guru Mangaloksa bertanya-tanya tentang Pusaka peninggalan Guru Mangaloksa, namun mengenai hal tersebut dapat kita simak di bawah ini berita dari Harian Sinar Indonesia Baru Edisi Sabtu, 2 Agustus 2014.

SIB/Prins Jhon Manalu/ r / BARANG PUSAKA: Sorangan Raja Guru Mangaloksa, Dedy Boy Lumban Tobing (23) duduk memegang salah satu barang peninggalan Guru Mangaloksa yakni Tungkot Tunggal Panaluan yang ditemukan di hutan Garoga. Dedy didampingi Panitia Pembangunan Monumen Gold Paulus Hutabarat, Firma Lumban Tobing dan Sabang Simorangkir serta, Hula-hula Pasaribu dari Barus, di Desa Simarangkir Kecamatan Siatas Barita, Tarutung.


Berbagai Pusakko Peninggalan Raja Guru Mangaloksa Ditemukan di Beberapa Daerah


Tarutung (SIB) - Atas  petunjuk  'sahala raja'  kepada seorang “sorangannya”, berbagai barang “pusakko” (pusaka) peninggalan Raja Guru Mangaloksa  ditemukan di beberapa daerah. Penemuan barang pusaka tersebut setelah sorangannya bernama Dedy Boy Lumban Tobing (23) mendapat ilham dan petunjuk dari  'sahala ni'  Raja Guru Mangaloksa tentang keberadaan barang-barang pusaka yang berada di berbagai daerah.

Pengumpulan puluhan barang pusaka tersebut telah dilaksanakan sejak empat bulan lalu sampai sekarang. Pencarian dan pengambilannya dilakukan secara sakral. Barang-barang tersebut ditemukan di hutan belantara yang tidak dapat dilihat mata manusia secara langsung, namun melalui petunjuk 'sahala raja' kepada sorangannya barang tersebut dapat ditemukan dengan utuh dan langsung disaksikan  oleh 'pomparannya' yang mewakili empat marga yakni Hutabarat, Panggabean Hutagalung dan Hutatoruan serta Hula-hula Pasaribu dari Barus Tapanuli Tengah.

Menurut  Ketua Panitia Pembangunan Monumen Ompui Raja Guru Mangaloksa, Gold Paulus Hutabarat didampingi Sekretaris Firma Lumban Tobing,  Kamis (31/7), sejak empat bulan lalu sampai sekarang sudah ada 14 pusakko peninggalan Raja Guru Mangaloksa ditemukan di berbagai daerah dan sekarang  dikumpulkan  di rumah sorangannya di Desa Simarangkir Julu Kecamatan Siatas Barita,Tarutung. Barang-barang tersebut antara lain; buku lak-lak dari Barus, tano sanjomput,  kursi Guru Mangaloksa, keris (tujuh bayangan) dari Desa Portibi Gunung Tua, pinggan pasu dari Siatas Barita, buka parsantabian dari Siatas Barita, piso halasan  dan batu pitonggam dari Siatas Barita, tawar, baju moncak dari Marsait Bosi Simorangkir, sarung keris marsait, batu bola portibi (batu parpadanan) dari Aek Tangga Garoga, miak tawar dari Kabanjahe, piso yang datang sendiri dan tungkot Tunggal Panaluan dari Garoga. Semua barang itu ditemukan di hutan belantara di berbagai daerah.  

Pencarian barang-barang pusaka itu selain dihadiri marga keturunan Guru Mangaloksa juga disaksikan ratusan warga yang kepingin tahu di masing-masing tempat. Penemuan terakhir sampai saat ini yakni Tongkat Tunggal Panaluan di hutan Garoga yang pencariannya diawali dengan gondang sabangunan sehingga mendapat perhatian 300-an warga.

Sementara itu salah seorang pomparan Guru Mangaloksa, Sabang Simorangkir SE saat ditanya SIB mengatakan, pencarian barang-barang milik ompui sudah cukup banyak menghabiskan energi dan biaya, karena lokasinya berbeda-beda dan pengambilannya sudah dilakukan sejak empat bulan lalu. Namun atas dukungan dan bantuan dana yang diberikan mantan Bupati Tapanuli Utara Torang Lumban Tobing pihaknya jadi terbantu.

"Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada mantan bupati Taput bapak Torang Lumban Tobing yang memberikan perhatiannya dan memberikan bantuan dana sehingga proses pengumpulan barang-barang peninggalan Ompui Raja Guru Mangaloksa dapat terbantu," ucapnya.    
 
Belum diketahui secara pasti apakah masih ada lagi barang lain yang akan ditemukan karena sorangannya masih menunggu petunjuk 'sahala raja. Namun telah direncanakan akan memindahkan makam dari Desa Sigaol Porsea ke Siatas Barita, Tarutung.(E1/ r)

* * * * *

Demikian info yang disampaikan, untuk selanjutnya belum ada tanggapan kami, Saudara/i dapat menanggapi sendiri. Terima kasih dan Horas.

Sumber:


Minggu, 18 Mei 2014

Meninjau Pusaka Guru Mangaloksa

Dua Tim Admin HC (kanan), bersama Jekson Tobing dan Tulus Panggabean (kiri).

Siatas Barita, Tapanuli Utara (18/05/2014)

Peninjauan Pusaka Guru Mangaloksa yang telah ditemukan itu tidaklah direncanakan oleh admin, namun berkat rasa penasaran oleh salah satu admin Hutagalung Cyber (Dans Hutagalung), maka beliau langsung ke Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara bersama Tulus Panggabean, SH (Camat Sibabangun Kabupaten Tapanuli Tengah) dan salah seorang marga sihombing yang datang langsung dari Tapanuli Tengah.


Namun sebelumnya admin Dans Hutagalung telah terlebih dahulu komunikasi dengan Jekson L. Tobing, SE (Balige) supaya bersama-sama meninjau penemuan tersebut, dan hal itu terjadi setelah admin Dans Hutagalung membaca postingan HC sebelumnya.

 
Oleh karena itu Admin Dans menghubungi salah satu Admin Hutagalung Cyber yang berdomisili di Tarutung, yakni B. Marada Hutagalung (Penulis/Editor Artikel Red.).
Setelah meninjau penemuan tersebut dan juga setelah salah satu admin Hutagalung Cyber (B. Marada Hutagalung Red.) mensurvei penemuan ternyata penemuan tersebut tidak dipublikasi karena dikuatirkan menimbukan kontroversi. Dengan demikian penemuan tersebut tidak disajikan namun saudara/i bisa membaca artikel yang telah diposting sebelumnya, yakni lihat dan klik di
http://hutagalung-cyber.blogspot.com/2014/05/MisteriGMditemukan.html


Horas.

Jumat, 09 Mei 2014

Misteri Guru Mangaloksa Ditemukan?


"Apa maksud dan tujuan judul tersebut mari kita baca dan simak penjelasannya di bawah ini!"


Misteri Guru Mangaloksa Ditemukan? 
Oleh: Jekson L. Tobing, SE

  • Telah Ditemukan Beberapa Benda Pusaka dari tempat yg berbeda;
  • Utusan PGM di Silindung sudah mengadakan Rapat.
# Surat Terbuka buat Pinompar Guru Mangaloksa#
Syalom / Assalamu Alaikum WWW


Sehubungan dengan adanya informasi yang beredar (Berita di Koran SIB, Sabtu 12 April 2014) perihal: adanya “Sorangan/Sandaran” atau orang yang menjadi sumber berita muncul, di mana Ompu i, Guru Mangaloksa “menunjukkan diri” (dalam tanda kutip) melalui orang yang kita sebut saja, Boy Tobing, umur 23 tahun, tinggal di Siatas Barita - Tapanuli Utara; dan ditemukannya Hinambor / Makam/ Kuburan di Sigaol – Lumban Bao dan beberapa benda pusaka (seperti Kursi, Keris, Buku Laklak) dari beberapa tempat yang berbeda yang diyakini sebagai peninggalan Ompung Guru Mangaloksa, Oleh berita tersebut sudah banyak terjadi pro kontra khususnya di media jaringan sosial.

Sebagaimana disampaikan oleh Amang MPL. Tobing (Sekjen PGM) pada pertemuan awal tanggal 11 April 2014, di Siatas Barita yang dihadiri oleh 43 org yang mewakili PGM, menyampaikan bahwa berita atau kabar tersebut nantinya akan menjadi perdebatan, menimbulkan beragam pendapat baik yang berupa pertanyaan, kritik, rasa penasaran bahkan sinisme yang kita kuatirkan dapat menimbulkan rasa ketidakenakan, perpecahan atau sikap bermusuhan di antara sesama kita.
Pada prinsipnya, wajar saja kalau tidak semua sepaham, percaya atau bahkan akan ada yang memandang sinis akan berita tersebut. Semua itu karna KITA keluarga besar PGM, adalah orang atau pribadi yang berbeda dalam banyak hal dalam Umur, Pengalaman, Pendidikan, Latar belakang, Era/zaman, bahkan berbeda Kepercayaan, dan lain-lain.

Penulis dan rekan Jurnalis yang lain, yang hadir dalam pertemuan tersebut memandang perlu untuk menyampaikan informasi dengan tujuan agar hal-hal yang tidak kita inginkan sedini mungkin dapat diantisipasi, agar jangan sampai ada orang atau kelompok yang memanfaatkan isu tersebut demi kepentingan pribadi atau memengaku-ngaku sorangan (titisan) dari Ompung kita, Guru Mangaloksa.
Oleh karena itu, sepanjang yang Penulis ikuti, ada beberapa hal atau fakta yang ingin disampaikan sebagai berikut:
  1. Bahwa benar, pada hari Jumat, 11 April 2014 telah diadakan pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 50 orang (dalam daftar Absensi berjumlah 43 orang), bertempat di Siatas Barita, di rumah keluarga Tobing untuk membicarakan, mendengar penjelasan dari orang-orang yang terlibat langsung dalam proses penemuan tersebut, membahas langkah-langkah selanjutnya sehubungan dengan adanya Penemuan Makam dan benda peninggalan (Harta Pusaka) dari Ompung kita Guru Mangaloksa dari beberapa tempat dan waktu yang berbeda.
  2. Bahwa dari penuturan beberapa orang yang terlibat langsung mencari Pusaka tadi, diperoleh penjelasan-penjelasan serta cerita yang cukup dan dapat dipercaya dan dari orang terpercaya juga. Dalam pertemuan awal tersebut, yang dihadiri Bendahara PGM, Freddy L. Tobing dan Amang Sekjen PGM (MPL.Tobing) dan di mana Amang MPL. Tobing, ternyata sudah ikut serta (minggu lalu) ke Sigaol – Lumban Bao dalam proses pencarian, yang belakangan ini diinfokan ditemukan Hinambor (Makam), tempat dikuburkan Ompung kita. Dengan berurai air mata, Beliau bercerita telah menyaksikan langsung hahomion (Keanehan/keajaiban) dalam proses penentuan lokasi Makam Ompung Guru Mangaloksa. Diceritakan bahwa sebelum Makam diketemukan, terlebih dahulu diinfokan oleh kita, sebut saja tondi (roh) melalui sorangan-nya (Boy Tobing) bahwa nanti akan ada ‘tanda’ jika sorangan sudah terjerembab/tergeletak di tanah, maka di situlah Ompung tersebut dikubur, lalu Kilat dan Petir tiba-tiba datang, hujan gerimis yang sebelumnya turun juga segera reda.
  3. Bahwa sudah ada 3 (tiga) jenis benda peninggalan yang diyakini sebagai Harta Pusaka yang ditemukan dari tempat dan waktu yang seperti Barus, Portibi, dan Batu Mardinding (Siatas Barita) dan sekarang diamankan di suatu tempat. Sehubungan dengan proses penemuan tersebut, orang yang terlibat juga menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal yang menuntun mereka kepada tempat-tempat yang harus mereka tuju.
  4. Bahwa masih ada Peninggalan Ompung Guru Mangaloksa yang harus diambil dari beberapa tempat yang proses pencarian (pengambilannya masih harus melalui proses yang bertahap).
  5. Bahwa pada hari Sabtu, 12 April 2014 telah diadakan gotong-royong yang dihadiri oleh utusan PGM yang ada di wilayah Silindung untuk ‘mangarintis’ (membersihkan) jalan di Dolok Siatas Barita (di bawah Patung Yesus), titik kumpul di Rumah Amang Tobing (Pak Kembar) di Simorangkir.
  6. Bahwa semua yang hadir pada pertemuan tadi, yang sudah mewakili PGM telah sepakat untuk mensosialisasikan “BERITA” tersebut kepada Marganya masing-masing.
  7. Bahwa pada hari Senin, 14 April 2014, juga ditemukan benda berupa Hujur (tombak?) dari Batu Mardinding Siatas Barita.

Saran-saran :
  • Untuk semua PGM di mana pun berada, diharapkan agar: jika belum mengetahui jelas atau tidak mengikuti sejarah dari awal, tidak terlibat langsung, diharapkan tidak sembarangan membuat berita, meng-upload (mengunggah/memosting) topik yang dapat menimbulkan perdebatan yang tidak perlu, yang berhubungan dengan Ompung kita, Guru Mangaloksa.
  • Adalah lebih baik, kita semua secara arif dan bijaksana, bersabar menunggu HASIL KESEPAKATAN atau perkembangan dan penjelasan dari pihak-pihak yang berkompeten, sehingga Kabar/Berita yang muncul tidak simpang siur.
Jayalah PGM. Mari kita bersatu, dalam Kasih Persaudaraan!
HORAS! HORAS! HORAS!


Editor HC: B. Marada Hutagalung (lihat profilnya -> klik FB - B. Marada Hutagalung )

Sabtu, 06 April 2013

Keturunan Si Raja Hutagalung

Logo Komunitas Hutagalung se-dunia



Keturunan Guru Mangaloksa Hasibuan :
  1. Raja Nabarat (Hutabarat)
  2. Raja Panggabean
  3. Raja Hutagalung
  4. Raja Hutatoruan
  5. Putrinya menikah dengan marga Aritonang Rajagukguk.

Mari kita simak keturunan Si Raja Hutagalung di bawah ini.


Raja Hutagalung (menikah dengan Boru Simatupang) dengan keturunan :
  1. Putra 2 orang : Raja Miralopak (menikah dengan Boru Simatupang Sianturi) dan Si Raja Inaina (menikah Boru Simatupang Sianturi)
  2. Putri 2 orang : yang pertama menikah dengan marga Simamora Rumaijuk, dan kedua menikah marga Tambunan Lumbanpea

Raja Miralopak, memiliki putra 2 orang :
  1. Ompu Datu Harean (menikah dengan Boru Simatupang Sianturi)
  2. Ompu Tuan Napitu (menikah dengan Boru Siamtupang Sianturi)

Raja Inaina memiliki 4 putra :
  1. Ompu Matasapiak Langit
  2. Ompu Datu Sorga
  3. Ompu Sibulungmotung
  4. Ompu Partombus


Ompu Datu Harean memilik 3 putra :
  1. Ompu Datu Nalimuton
  2. Ompu Datu Mulia
  3. Ompu Nihobol

Ompu Tuan Napitu memilik 3 putra :
  1. Ompu Ni Ujung Oloan
  2. Ompu Namora Tonggor
  3. Ompu Datu Timpus

Ompu Ni Ujung Oloan memiliki 3 orang putra:
  1. Raja Anggoli
  2. Bagot Pinayungan
  3. Ompu Manahan

Ompu Namora Tonggor memiliki 4 putra :
  1. Datu Parngongo
  2. Dari Sabungan
  3. Namora Tanggul
  4. Raja Mangihuthon

Ompu Datu Timpus memiliki 2 putra :
  1. Saha Panaluan
  2. Saha Oloan

Raja Anggoli memiliki 2 putra:
  1. Ujung Tali
  2. Marluntak Dalan

Datu Parngongo memiliki 3 putra:
  1. Ompu Momos
  2. Jurampang
  3. Sodunggulon

Saha Panaluan memiliki 2 putra:
  1. Raja Bandol
  2. Saha Oloan, memiliki 1 orang putra : Ompu Somuana

Bagot Pinayungan memiliki 3 putra :
  1. Todo (??)
  2. Raja Usu
  3. Batu Rihit

Dari Sabungan memiliki 2 putra :
  1. Ompu Raja Bonar
  2. Ompu Raja Monang

Namora Tanggul memiliki 1 putra : Namora Toga Dua

Raja Mangihuthon memiliki 1 putra : Raja Soulangan

Keturunan keenam dari Si Raja Hutagalung adalah : Ujung Tali – Marluntak Dalan – Todo – Raja Usu – Batu Rihit/Ompu Momos – Jurampang – Sodunggulon – Raja Bonar – Raja Monang – Namora Togadua – Raja Soulangan/Raja Bandol – Ompu Somuana


Dari Nini Ompu Tuan Napitu :
  1. Cucu Ujung Oloan : 5 orang dari 2orang Putranya
  2. Cucu Namora Tonggor : 7 orang dari 4 orang Putranya
  3. Cucu Datu Timpus : 2 orang dari 2 orang Putranya

Catatan :
Kekurangan keturuanan Miralopak dan Raja Inaina hanya berpedoman pada keturunan laki-laki, sehingga kita tidak tahu berapa orang putri yang menikah.

Mari kita teruskan silsilah kita sesuai dengan nama Ompu sapai ke nama Ompung dari Amangnya yakni Bona ni Arina. Contoh :
Bila diketahui nomor ketuirunannya No. 13,  maka Nomor 12 adalah Amangnya, Nomor 11 adalah Ompungnya dan Nomor 10 adalah Ompung dari Amangnya yang disebut  “Hula Bona ni Ari ma marga  Ompungboru dari Amangnya. Jadi diketahui marga Ompungboru dari Amangnya tentu akan tahu nama Ompung dari Amangnya.


Pada tahun 18920-1962, Tuanku Rao berperang ke Silindung, sudah sampai ke keturunan kedelapan (sebagian kesembilan) keturunan si Raja Hutagalung yakni cucunya dari Miralopak bernama Tuan Napitu


Banyak orang yang menjadi korban perang diiris-iris , keturunan Hutagalung Tuan Napitu yang dibantu adik-adiknya berperang melawan Bonjo tersebut. Tetapi pasukan Bonjo lebih banyak dilengkapi senjata sehingga banyak keturunan Hutagalung mati dibunuh, dan dibuang ke sungai Situmandi, dan rumah-rumah mereka pun dibakar. Oleh karena itulah keturunan Tuan Napitu pindah ke Onan Sitahuru, dan dari situ dilanjutkan ke Lobu Singkam, ke Aek na las di bawah Gunung Martimbang, sampai ke Sigotom dan Parsingkaman. Mereka akhirnya membuka perkampungan dan menjadi, karena Ompu Raja Bonar putra dari Ompu Namora Tonggor menikah dengan boru Simanungkalit yang diberikan oleh Raja Simanungkalit dengan juga menghibahkan pertapakan di kampung mereka, yang berada di daerah Sipoholon.


Sumber :

Link :
http://faecbook.com/HutagalungCyber
http://twitter.com/HutagalungCyber atau @HutagalungCyber
http://facebook.com/LaguHutagalung

Jumat, 19 Oktober 2012

Beginilah asal usul nama-nama keturunan Guru Mangaloksa

Beginilah asal usul nama-nama keturunan Guru Mangaloksa (dalam bahasa batak toba).

HUTABARAT
Ia dung manang sadia leleng dung maporus simatuana i, tubu ma anak ni Guru Mangaloksa, dibahen ma goarna "si Raja Nabarat." Ala nabarat do roha ni pambahennna mangalele simatuana.

Senin, 08 Oktober 2012

Hubungan Hutagalung dan PGM ke Hasibuan


Kenapa semua keturunan Hutagalung/PGM panggil ompung ke marga Hasibuan atau panggil Namboru ke boru Hasibuan dan Hutagalung/PGM tidak bisa menikah dengan Hasibuan.

Begini penjelasannya.


Pertama kita berangkat dari silsilah Si Raja Hasibuan.
Hasibuan memiliki 5 anak :
1. Raja Marjalo
2. Guru Mangaloksa
3. Guru Hinobaan
4. Guru Maniti
5. Guru Marjalang

Keturunan Hasibuan yang tetap menggunakan marga Hasibuan :
- Raja Marjalo
- Guru Hinobaan
- Guru Maniti
- Guru Marjalang

Sedangkan Keturunan Guru Mangaloksa menggunakan marga baru yakni :
- Hutabarat
- Panggabean/Simorangkir
- Hutagalung
- Hutatoruan : Hutapea & Lumbantobing (ada jg yg memakai Hutatoruan).

Akan tetapi di waktu kemudian keturunan Guru Mangaloksa banyak yang merantau ke daerah lain dan sepakat menggunakan marga Hasibuan. Namun pada akhirnya mereka lupa apakah keturunan siapa mereka dari Guru Mangaloksa, apakah Hutapea/Tobing, Hutagalung, Panggabean atau pun Hutabarat.

Maka dengan demikiam dibuatlah aturan/kesepakatan atau Padan tentang larangan menikah antara keturunan Guru Mangaloksa dengan marga/boru Hasibuan dan memanggil ompung ke marga Hasibuan atau Namboru ke boru Hasibuan.

Namun pada akhirnya aturan itu pun diberlakukan ke semua Hasibuan, apakah dari keturunan Hasibuan yang tetap memakai marga Hasibuan (marjalo, hinoban, maniti, marjalang) atau Hasibuan dari si opat pisoran.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa hanya ke Hasibuan (Hutapea/Tobing, Hutagalung, Panggabean, Hutabarat) saja yang dilarang untuk menikah dan juga semua Hasibuan? Bagaimana pula dengan keturunan Guru Mangaloksa yang tidak memakai marga/boru hasibuan? Apakah mereka bukan Hasibuan juga? Sesungguhnya semua marga/boru Si Opat Pusoran berhak memakai sebutan marga/boru Hasibuan meski pun tidak harus dicantumkan. Bayangkanlah marga/boru Hasibuan jika saudara/i adalah putra dan putri Guru Mangaloksa.

Lalu kenapa sesama Si Opat Pusoran bisa saling menikahi? Ada sejarahnya, sebab pada zaman dahulu marga dan boru lain tidak sebanyak sekarang yang dijumpai pada waktu itu i daerah Si Opat Pisoran. Apalagi teknologi Informasi dan komunikasi serta transportasi tidak secanggih sekarang, maka untuk menghindari para putra dan putri Guru Mangaloksa tidak menjadi lajang terus atau tidak ketuaan menikah maka diberilah kebebasan untuk saling menikahi. Kendati demikian ada baiknya kebiasaan terus jangan lagi kita diulangi. Yang berlalu biarlah berlalu, dan karena zaman sudah semakin maju dan marga/boru lain sudah banyak ditemui.


Terima Kasih!
HORAS!
Twitter @HutagalungCyber

Selasa, 25 September 2012

Silsilah atau Tarombo Hutagalung Miralopak dan Si Raja Inaina




Dua Gambar di atas adalah merupakan Silsilah Hasibuan dan HUTAGALUNG Miralopak dan Si Raja Inaina, yang pertama adalah Miralopak dan yang kedua adalah Si Raja Inaina. Supaya jelas, klik gambar untuk memperbesar.

Untuk mendownload klik gambar di bawah ini :

Jika kesulitan, silahkan klik yang di bawah ini :
DOWNLOAD

Sumber : W. M. Hutagalung, PUSTAHA BATAK - Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak, 1991.

HORAS!
Facebook http://facebook.com/HutagalungCyber
Twitter https://twitter.com/HutagalungCyber atau @HutagalungCyber

Jumat, 21 September 2012

Sekilas Tentang Guru Mangaloksa dan Silsilah Toga Hasibuan - Si Opat Pisoran


Marga dari Keturunan Raja Sobu
Marga-marga keturunan Raja Sobu, antara lain: Sitompul dan si Raja Hasibuan. Dari si Raja Hasibuan berkembang lagi, yang tetap tinggal di Toba tetap Hasibuan, sedang "pomparan" Ompu Guru Mangaloksa yang merintis hidupnya ke wilayah Silindung, anak-anaknya berkembang menjadi si Raja Nabarat (Hutabarat), si Raja Panggabean (cabangnya, Simorangkir), si Raja Hutagalung dan si Raja Hutatoruan.
Si Raja Hutatoruan dua anaknya, itulah Hutapea (Silindung/Tarutung, beda dari Hutapea - Toba/Laguboti), dan Lumbantobing (biasa disingkat L. Tobing atau Tobing = Lumbantobing). Marga-marga tsb (diluar marga Hasibuan), secara "specific" pomparan Guru Mangaloksa dinamai "Pomparan ni si Opat Pu(i)soran".


Sejarah Singkat  Guru Mangaloksa

Guru Mangaloksa adalah keturunan Hasibuan. Pada suatu hari beliau berburu ke hutan, kebetulan Guru Mangaloksa mahir menggunakan sumpit (ultop). Pas berburu, dia berhasil menyumpit seekor burung yang konon katanya sebesar kambing, namun burung tersebut tidak langsung mati, malah terbang. Guru Mangaloksa pun mengikuti burung tersebut, namun tanpa disadari, beliau sudah semakin jauh dari kampung. Ketika dia sadar, dia tidak mengenal tempat itu. Namun tiba-tiba dia melihat asap, dan beliaupun mencari tahu asal asap itu. Dan akhirnya Guru Mangaloksa sampai lah ke Silindung (Sekarang Tarutung). Ternyata kampung tersebut milik marga Pasaribu.

Pada saat itu, kampung sedang dilanda teror. Di kampung tersebut sering didatangi burung rajawali berkepala tujuh yang suka memangsa anak-anak dan hewan ternak. Sudah banyak cara yang dilakukan raja Pasaribu untuk mengusir burung tersebut, namun hasilnya sia-sia. Akhirnya Guru Mangaloksa yang pandai menggunakan sumpit dan juga sakti itu, menawarkan diri untuk membunuh burung tersebut. Dan akhirnya dia berhasil membunuh burung rajawali berkepala tujuh itu. Sebagai imbalan, raja Pasaribu memberikan salah seorang putrinya untuk dijadikan istri oleh Guru Mangaloksa.

Setelah guru Mangaloksa menikah dengan boru Pasaribu, Guru Mangaloksa berniat meminta sedikit tanah untuk bertani kepada mertuanya(Raja Pasaribu). Sehingga dia mengutus istrinya untuk mengahadap sang raja. Namun ternyata terjadi salah paham, Guru Mangaloksa meminta sedikit tanah yang oleh Raja Pasaribu diartikan berbeda. Dia pun memberikan tanah dalam tandok (tempat beras/padi) untuk dibawa boru Pasaribu ke suaminya (Guru Mangaloksa).

Melihat hal itu, Guru Mangaloksa sakit hati terhadap mertuanya. Namun dia tidak ingin bertengkar dengan mertuanya. Akhirnya dia memikirkan sebuah siasat untuk mengelabui mertuanya dan menyuruh mereka untuk keluar dari kampung tersebut.

Guru Mangaloksa membuat seolah-olah kampung mereka sedang dikepung musuh, kemudian dia meletakkan poring (sebuah tanaman jika dipijak akan menimbulkan bunyi seperti letusan senjata). Ketika dia menyampaikan kabar bahwa kampung telah di kepung musuh, mertuanya pun panik dan berlari keluar. Tiba-tiba dia menginjak poring tadi, mertuanya mengira itu adalah suara letusan senapan (bodil) musuh. Akhirnya Guru Magaloksa berhasil mengajak mertuanya mengungsi. Sejak kejadian itu ada ungkapan dalam masyarakat batak yaitu “Pasaribu na dilele ni poring (Pasaribu yang dikejar poring)”.

Dalam perjalanan ke pengungsian bersama mertuanya, Guru Mangaloksa meminta izin kepada mertuanya untuk kembali ke kampung untuk melihat keadaan, dan mertuanya pun merestui. Dalam perjalanan, pas di tepi aek situmandi, anak pertama guru Mangaloksa pun lahir. Anak itu diberi nama Si Raja Nabarat, na barat artinya yang berlawanan. Saat itu Guru Mangaloksa menyadari perbuatannya terhadap mertua (hula-hula) bahwa itu sebenarnya bertentangan.

Kemudian lahirlah anak kedua, yang dinamakan Si Raja Panggabean, yang artinya sejahtera. Guru Mangaloksa melihat, walaupun dia telah berbuat salah terhadap mertua (hula-hula)nya, tapi dia masih diberikan kesejahteraan (hagebeon) oleh Ompu Mulajadi Nabolon.

Kemudian anak ketiga lahir diberi nama Si Raja Hutagalung. Dan Anak Keempat diberi nama Si Raja Hutatoruan (Hutapea dan Lumbantobing).

Minggu, 30 Maret 2008

Hutagalung

Hutagalung adalah salah satu marga dari suku batak, termasuk golongan batak toba. Hutagalung merupakan salah satu anak dari Hasibuan, memiliki 3 saudara, yaitu Hutabarat, Panggabean dan Tobing. Keturunan marga Hutagalung dilarang menikah dengan sesama marga Hutagalung dan dengan marga Hasibuan. Jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hutagalung berada pada sundut ke 8 : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan -- Guru Mangaloksa -- Hutagalung.

Hutagalung adalah anak ketiga Guru Mangaloksa dan keturunannya inilah yang bermarga Hutagalung. Hutagalung sendiri memiliki dua anak : Miralopak dan Raja Ina-ina.
Berikut adalah keturunan dari :
A. Miralopak
1. Datu Harean --> 1. Dt.Mulia | 2. Dt.nalimuton | 3. O.Ni Hobol | 4. Siboru Oloan
2. Tuan Napitu --> 1. O. Ni UjungOloan | 2. Namoratonggor | 3. Datu Timpus

Logo Hutagalung Sedunia
Flag Counter