Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Silsilah dan Monumen Hasibuan



Hasibuan adalah salah satu marga Batak Toba, jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hasibuan berada pada keturunan (sundut) kedelapan : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan.

Dalam silsilah masyarakat suku batak (dalam struktur tarombo) bahwa si Raja Hasibuan adalah keturunan dari si Raja Sobu, si Raja Sobu yang hidup pada abad xv atau sekitar tahun 1455 adalah keturunan ke V dari si Raja Batak, ayahnya bernama Tuan Sorbadibanua anak dari istrinya yang ke dua bernama si Boru Basopaet (Putri Mojopahit).

Si Raja Sobu memiliki dua orang anak putra yang bernama Raja Tinandang atau lebih dikenal dengan bernama Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan.

Di masa kecil, Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan tinggal bersama orang tuanya di Desa Lobu Galagala yang terletak di kaki Gunung Dolok Tolong (Kabupaten Toba Samosir saat ini) dan setelah beranjak dewasa si Raja Hasibuan pergi merantau ke Desa Sigaol – Uluan dan menetap di sana yang pada akhirnya menjadi bonapasogit marga Hasibuan, dan ia pun meminang boru Simatupang dari Muara.

Toga Hasibuan memiliki keturunan :
  1. Raja Manjalo : tinggal di Sigaol, Uluan dan tetap memakai marga Hasibuan, namun setelah berumah tangga Raja Marjalo membuat atau membuka perkampungan baru yang diberi nama Hariaramarjalo di Lumban Bao Sigaol saat ini, Hariara (pohon ara) marjalo (namanya) dan membuat pertanda dengan menamakan pohon Hariara (ara) yang sampai saat ini masih berdiri kokoh dan di sampingnya telah dibangun Monumen si Raja Hasibuan yang sudah diresmikan tahun 2002 lalu.
  2. Guru Mangaloksa : pergi merantau ke daerah Silindung dan menetap disana di kampung Marsaitbosi dan menikah dengan marga boru (putri) Pasaribu. Keturunan Guru Mangaloksa telah memakai nama/marga baru yaitu marga Hutagalung, marga Hutabarat, marga Hutatoruan dan marga Lumbantobing, sementerata keturunan marga Panggabean ada yang menjadi marga Simorangkir dan keturunan dari Guru Mangaloksa ini dikemudian hari dikenal dengan sebutan "Si Opat Pusoran", menurut cerita bahwa sebahagian keturunan Guru Mangaloksa yang merantau ke Tapanuli Sealatan Sipirok tetap memaki marga Hasibuan, begitu juga dengan marga Hasibuan dan marga Lumbantobing yang bermukim di Laguboti.
  3. Guru Hinobaan : pergi merantau ke Barus/Sibolga atau Asahan dan tetap memakai marga Hasibuan.
  4. Raja Manjalang : pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan
  5. Raja Maniti : dikabarkan pergi meranatau ke daerah Aceh (Nangro Aceh Darussalam saat ini), dan kemungkinan keturunan inilah yang mengaku batak sampulu pitu (17) yang bermukim di kabupaten Alas saat ini, dan hingga saat ini Parsadaan Pomparan ni Raja Hasibuan dimanapun berada masih menanti kembalinya keturunan anak yang hilang ini.Anak ke lima adalah Guru Marjalang, dan ini pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan.
  6. Lima putri si Raja Hasibuan :
  • Si Boru Turasi : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Sitorus Pane di Lumban Lobu,
  • Si Boru Tumandi : marhamulian/marhuta (kawin) ke Marga Panjaitan di Sitorang,
  • Si Boru Taripar laut : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Simanjuntak di Sitandohan Balige,
  • Si Boru Sande Balige : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siahaan di Hinalang Balige, dan
  • Si Boru Nauli : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siringo-ringo di Muara.

Monumen Hasibuan

Tidak semua keturunan Hasibuan (termasuk keturunan Guru Mangaloksa) tahu di mana dan bentuk seperti apa monumen/Tugu Hasibuan.




Ketika diadakan perayaan Monumen si Raja Hasibuan di Lumban Bao Hariaramarjalo tahun 2002 lalu semua perwakilan dari si Raja hasibuan dan boru hadir bersama rombongannya masing-masing, kecuali keturunan dari Guru Maniti yang tidak hadir.


Polemik Hukum Adat Pernikahan sesama keturunan Hasibuan

Dalam Hukum ada pernikahan Batak Toba tidak boleh saling menikahi sesama marga, demikian halnya dengan Hasibuan, tidak boleh menikah dengan sesama Hasibuan, namun hal itu tidak disadari oleh beberapa keturunan Hasibuan bahwa sesungguhnya telah terjadi saling menikahi sesama Hasibuan, dan keturunan Hasibuan yang saling menikahi tersebut adalah keturunan dari Guru Mangaloksa sendiri. Parahnya ada pula aturan atau padan yang menyatakan bahwa keturunan Guru Mangaloksa tidak boleh menikah dengan Hasibuan yang menggunakan marga/boru Hasibuan.

Lalu kenapa sesama Si Opat Pusoran bisa saling menikahi? Ada sejarahnya, sebab pada zaman dahulu marga dan boru lain tidak sebanyak sekarang yang dijumpai pada waktu itu i daerah Si Opat Pisoran. Apalagi teknologi Informasi dan komunikasi serta transportasi tidak secanggih sekarang, maka untuk menghindari para putra dan putri Guru Mangaloksa tidak menjadi lajang terus atau tidak ketuaan menikah maka diberilah kebebasan untuk saling menikahi. Sebenarnya pemberian kebebasan seperti itu adalah melanggar aturan yang dijelaskan di atas.

Haruslah disadari, semua keturunan si opat pisoran atau keturunan Guru Mangaloksa berhak memakai marga/boru Hasibuan.

Bila memang sudah terjadi biarlah terjadi dan berlalu, namun jangan diulang lagi kebiasaan lama tersebut. Sebagai contoh: Buat apa dibuat kumpulan/punguan Guru Mangaloksa tapi saling menikahi? Bayangkan bila kumpulan tersebut membuat acara dan tentunya yang banyak bekerja atau repot adalah pihak "boru", dan ternyata pihak "boru" tersebut adalah bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa, otomatis yang merasa bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa tidak akan melakukan pekerjaan sebagai pihak "boru".


Referensi:
  • W. M. Hutagalung, PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak.
  • http://agusthutabarat.wordpress.com/guru-mangaloksa-dan-hutabarat/
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Tarombo_Batak
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Hasibuan
  • Dari berbagai sumber.

Minggu, 01 Juni 2014

Aksara Batak Toba Baru Untuk Komputer



Puji Tuhan kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan karunia-Nyalah salah satu dari Saudara kita keturunan marga Hutagalung berhasil memperbaharui Font/Huruf Aksara Batak Toba yang dibuat oleh Uly Kozok sebelumnya.

Dalam hal ini saya memperbaharui kekurangan Font yang diciptakan oleh beliau dan semua itu adalah untuk menjaga dan mempertahankan budaya kita.

Telah disediakan dua file, satu file Font dan satu file Cara pengetikan, dan untuk mendapatkannya klik gambar Download di bawah ini:





Setelah kita klik DOWNLOAD di atas maka akan muncul seperti di bawah ini:
Klik tombol yang dilingkari warna merah! (klik gambar untuk melihat dengan jelas)

Klik kiri tombol yang ada dalam lingkaran warna merah di gambar di atas, lalu pilih tulisan Download. Ingat,  file yang kedua yang harus didownload, setelah didownload lalu ekstrak file zipnya. Jika kurang paham, klik Judulnya Batak Toba New.ttf, kemudian save as, dan juga Cara Pengetikannya, lalu save as.

Bagi yang memiliki akun 4shared.com (daftar bila belum memiliki) : klik DOWNLOAD!

Jika yang di atas tidak berhasil, maka, silahkan klik ini : DOWNLOAD! (otomatis)



CATATAN: Font ini bisa digunakan di komputer berbasis Linux dan Machintos, namun rumit cara instalnya, cara mudah salin terlebih dahulu fontnya ke komputer Linux/Machintos, klik font tersebut lalu klik tulisan instal.


Marilah kita menjaga, memelihara dan mempertahankan budaya kita.

HORAS!

Jumat, 09 Mei 2014

Misteri Guru Mangaloksa Ditemukan?


"Apa maksud dan tujuan judul tersebut mari kita baca dan simak penjelasannya di bawah ini!"


Misteri Guru Mangaloksa Ditemukan? 
Oleh: Jekson L. Tobing, SE

  • Telah Ditemukan Beberapa Benda Pusaka dari tempat yg berbeda;
  • Utusan PGM di Silindung sudah mengadakan Rapat.
# Surat Terbuka buat Pinompar Guru Mangaloksa#
Syalom / Assalamu Alaikum WWW


Sehubungan dengan adanya informasi yang beredar (Berita di Koran SIB, Sabtu 12 April 2014) perihal: adanya “Sorangan/Sandaran” atau orang yang menjadi sumber berita muncul, di mana Ompu i, Guru Mangaloksa “menunjukkan diri” (dalam tanda kutip) melalui orang yang kita sebut saja, Boy Tobing, umur 23 tahun, tinggal di Siatas Barita - Tapanuli Utara; dan ditemukannya Hinambor / Makam/ Kuburan di Sigaol – Lumban Bao dan beberapa benda pusaka (seperti Kursi, Keris, Buku Laklak) dari beberapa tempat yang berbeda yang diyakini sebagai peninggalan Ompung Guru Mangaloksa, Oleh berita tersebut sudah banyak terjadi pro kontra khususnya di media jaringan sosial.

Sebagaimana disampaikan oleh Amang MPL. Tobing (Sekjen PGM) pada pertemuan awal tanggal 11 April 2014, di Siatas Barita yang dihadiri oleh 43 org yang mewakili PGM, menyampaikan bahwa berita atau kabar tersebut nantinya akan menjadi perdebatan, menimbulkan beragam pendapat baik yang berupa pertanyaan, kritik, rasa penasaran bahkan sinisme yang kita kuatirkan dapat menimbulkan rasa ketidakenakan, perpecahan atau sikap bermusuhan di antara sesama kita.
Pada prinsipnya, wajar saja kalau tidak semua sepaham, percaya atau bahkan akan ada yang memandang sinis akan berita tersebut. Semua itu karna KITA keluarga besar PGM, adalah orang atau pribadi yang berbeda dalam banyak hal dalam Umur, Pengalaman, Pendidikan, Latar belakang, Era/zaman, bahkan berbeda Kepercayaan, dan lain-lain.

Penulis dan rekan Jurnalis yang lain, yang hadir dalam pertemuan tersebut memandang perlu untuk menyampaikan informasi dengan tujuan agar hal-hal yang tidak kita inginkan sedini mungkin dapat diantisipasi, agar jangan sampai ada orang atau kelompok yang memanfaatkan isu tersebut demi kepentingan pribadi atau memengaku-ngaku sorangan (titisan) dari Ompung kita, Guru Mangaloksa.
Oleh karena itu, sepanjang yang Penulis ikuti, ada beberapa hal atau fakta yang ingin disampaikan sebagai berikut:
  1. Bahwa benar, pada hari Jumat, 11 April 2014 telah diadakan pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 50 orang (dalam daftar Absensi berjumlah 43 orang), bertempat di Siatas Barita, di rumah keluarga Tobing untuk membicarakan, mendengar penjelasan dari orang-orang yang terlibat langsung dalam proses penemuan tersebut, membahas langkah-langkah selanjutnya sehubungan dengan adanya Penemuan Makam dan benda peninggalan (Harta Pusaka) dari Ompung kita Guru Mangaloksa dari beberapa tempat dan waktu yang berbeda.
  2. Bahwa dari penuturan beberapa orang yang terlibat langsung mencari Pusaka tadi, diperoleh penjelasan-penjelasan serta cerita yang cukup dan dapat dipercaya dan dari orang terpercaya juga. Dalam pertemuan awal tersebut, yang dihadiri Bendahara PGM, Freddy L. Tobing dan Amang Sekjen PGM (MPL.Tobing) dan di mana Amang MPL. Tobing, ternyata sudah ikut serta (minggu lalu) ke Sigaol – Lumban Bao dalam proses pencarian, yang belakangan ini diinfokan ditemukan Hinambor (Makam), tempat dikuburkan Ompung kita. Dengan berurai air mata, Beliau bercerita telah menyaksikan langsung hahomion (Keanehan/keajaiban) dalam proses penentuan lokasi Makam Ompung Guru Mangaloksa. Diceritakan bahwa sebelum Makam diketemukan, terlebih dahulu diinfokan oleh kita, sebut saja tondi (roh) melalui sorangan-nya (Boy Tobing) bahwa nanti akan ada ‘tanda’ jika sorangan sudah terjerembab/tergeletak di tanah, maka di situlah Ompung tersebut dikubur, lalu Kilat dan Petir tiba-tiba datang, hujan gerimis yang sebelumnya turun juga segera reda.
  3. Bahwa sudah ada 3 (tiga) jenis benda peninggalan yang diyakini sebagai Harta Pusaka yang ditemukan dari tempat dan waktu yang seperti Barus, Portibi, dan Batu Mardinding (Siatas Barita) dan sekarang diamankan di suatu tempat. Sehubungan dengan proses penemuan tersebut, orang yang terlibat juga menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal yang menuntun mereka kepada tempat-tempat yang harus mereka tuju.
  4. Bahwa masih ada Peninggalan Ompung Guru Mangaloksa yang harus diambil dari beberapa tempat yang proses pencarian (pengambilannya masih harus melalui proses yang bertahap).
  5. Bahwa pada hari Sabtu, 12 April 2014 telah diadakan gotong-royong yang dihadiri oleh utusan PGM yang ada di wilayah Silindung untuk ‘mangarintis’ (membersihkan) jalan di Dolok Siatas Barita (di bawah Patung Yesus), titik kumpul di Rumah Amang Tobing (Pak Kembar) di Simorangkir.
  6. Bahwa semua yang hadir pada pertemuan tadi, yang sudah mewakili PGM telah sepakat untuk mensosialisasikan “BERITA” tersebut kepada Marganya masing-masing.
  7. Bahwa pada hari Senin, 14 April 2014, juga ditemukan benda berupa Hujur (tombak?) dari Batu Mardinding Siatas Barita.

Saran-saran :
  • Untuk semua PGM di mana pun berada, diharapkan agar: jika belum mengetahui jelas atau tidak mengikuti sejarah dari awal, tidak terlibat langsung, diharapkan tidak sembarangan membuat berita, meng-upload (mengunggah/memosting) topik yang dapat menimbulkan perdebatan yang tidak perlu, yang berhubungan dengan Ompung kita, Guru Mangaloksa.
  • Adalah lebih baik, kita semua secara arif dan bijaksana, bersabar menunggu HASIL KESEPAKATAN atau perkembangan dan penjelasan dari pihak-pihak yang berkompeten, sehingga Kabar/Berita yang muncul tidak simpang siur.
Jayalah PGM. Mari kita bersatu, dalam Kasih Persaudaraan!
HORAS! HORAS! HORAS!


Editor HC: B. Marada Hutagalung (lihat profilnya -> klik FB - B. Marada Hutagalung )

Minggu, 02 Februari 2014

Penggunaan Marga dan Boru Salah Satu Identitas Orang Batak


Penggunaan marga/boru pada nama orang Batak adalah merupakan salah satu ciri khas suku Batak (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, dan Karo) dan itu merupakan identitas diri sebagai orang batak.

Bukan hal langka lagi jika beberapa orang Batak tidak menggunakan marga/boru pada namanya. Dulu banyak alasan orang Batak bila menggunakan marga/boru pada namanya maka akan kesulitan untuk mendapat pekerjaan, atau tertindas. Apalagi suku Batak diidentifikasi sebagai orang yang menganut agama Kristen (dan Katolik), sehingga ada istilah yang menyebutkan "Sudah Batak, Kristen Pula!" Atau "Sudah Kristen, Batak pula!" Apakah orang Batak pada zaman dahulu kala sudah beragama Kristen? Jawabannya tidak, sebab agama pertama orang Batak pada zaman dahulu adalah agama suku atau aliran kepercayaan.


Catatan Penting

Penghilangan marga/boru pada nama orang batak itu merupakan menghilangkan identitas diri sbgi orang batak, serta menjadi cikal bakal kepunahan budaya orang batak. Sebagai orang Batak Jika sudah terlanjur tidak menggunakan marga/boru maka untuk keturunan selanjutnya sebaiknya marga/boru itu digunakan.

Ciri khas utama orang batak :
- menggunakan marga/boru pada nama,
- memiliki silsilah, tutur sapa umum dan khusus,
- memiliki upacara adat umum dan khusus,
- memiliki bahasa dan aksara.

Tidak boleh ada alasan takut tidak dapat pekerjaan atau tertindas bila menggunakan marga/boru batak. Ada baiknya nama tidak usah terlalu panjang supaya marga/boru dapat digunakan pada namanya. Tidak harus mengikuti saran pembuatan nama dari ompung dari kedua belah pihak, orang tua kedua belah pihak, dari tulang kedua belah pihak, dan lain-lain.

Pengaruh negatif tidak menggunakan marga/boru sangatlah besar akibatnya, sekarang tidak masalah tapi di generasi berikutnya tak ingat lagi marganya, berikutnya tidak ingat lagi bahasa/budayanya, dan tidak ingat lagi suku dan asalnya.

Menghilangkan marga/boru pada nama orang batak adalah sama dengan menghilangkan identitas diri sebagi orang batak.

Horas.

Penulis : B. Marada Hutagalung (Klik - Lihat Profil Facebooknya)

Selasa, 28 Januari 2014

Mencari Kedudukan Dalihan Na Tolu Dalam Pesta Adat Perkawinan dan Adat Meninggal Batak Toba


Sekilas Tentang Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku tersebut adalah:
  1. Pertama, Somba Marhulahula/sembah/hormat kepada keluarga pihak Istri,
  2. Kedua, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita),
  3. Ketiga, Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga).

Dalihan Na Tolu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hulahula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu.

Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama, ketiga hal tersebut :
  1. Somba Marhulahula: ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hul-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata "Somba", yang tekanannya pada som berarti menyembah, akan tetapi kata "Somba" di sini tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula. Hula-hula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu (istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan.
  2. Elek Marboru/lemah lembut tehadap boru/perempuan. Berarti rasa sayang yang tidak disertai maksud tersembunyi dan pamrih. Boru adalah anak perempuan kita, atau kelompok marga yang mengambil istri dari anak kita (anak perempuan kita). Sikap lemah lembut terhadap boru perlu, karena dulu borulah yang dapat diharapkan membantu mengerjakan sawah di ladang. Tanpa boru, mengadakan pesta suatu hal yang tidak mungkin dilakukan.
  3. Manat mardongan tubu/sabutuha, suatu sikap berhati-hati terhadap sesama marga untuk mencegah salah paham dalam pelaksanaan acara adat. Hati-hati dengan teman semarga. Kata orang tua-tua “hau na jonok do na boi marsiogoson” yang berarti kayu yang dekatlah yang dapat bergesekan. Ini menggambarkan bahwa begitu dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik, konflik kepentingan, kedudukan, dan lain-lain.

Inti ajaran Dalihan Natolu adalah kaidah moral berisi ajaran saling menghormati (masipasangapon) dengan dukungan kaidah moral: saling menghargai dan menolong. Dalihan Natolu menjadi media yang memuat azas hukum yang objektif.


Pokok Pembahasan : Cara Mencari Kedudukan Dalihan Na Tolu Dalam Pesta Adat Perkawinan dan Meninggal (Oleh Dans Hutagalung)

Dalam hal ini kita mencoba menelusuri dengan mencari keududukannya pada pesta pernikahan dan pada acara Adat sesudah si Bola meninggal menurut Adat Batak.

Skema Silsilah :
Bp. Op. Bola
|
Op. Bola
|
Bp. Bola
|
Si Bola


Keterangan :
- Op. = Ompung,
- Bp. = Bapak (ayah).

Penjelasan
Namar Dongan Tubu:
1. Abang dan Adiknya bapak si Bola disebut Pamarai,
2. Abang dan Adiknya Op. Si Bola disebut Amangtua/Amang Uda,
3. Abang-Adiknya Opung bapak Bola disebut  Parmaan.
4. Abang-Adik dari Opungnya Opung si Bola disebut Bola Tambirik.

Hula-Hula:
  1. Saudara Laki-laki dari Istrinya Bp. Si Bola disebut; Tulang, dan Tulangnya Tulang itulah yang disebut; Tulang Narobot.
  2. Saudara laki dari Istrinya Op. Bola disebut Bona Tulang.
  3. Saudara Laki-laki Istrinya Op. Bp. Bola disebut Bona Ni Ari.
  4. Saudara Laki-laki Istrinya Opungnya Op. Bola disebut Pangabis.

Boru:
  1. Saudari perempuan Bp. Bola disebut Namboru/Parorot.
  2. Saudari perempuan Op. Bola disebut Parsonduk.
  3. Saudari perempuan Op. Bp. Bola disebut Sihunti Ampang.
  4. Saudari perempuan Op. Op. Bola disebut; Pangabis (boru na leleng).

Demikianlah cara mencari Dalihan Na tolu pada Pesta Adat Batak Dalihan Na Tolu dan Semoga bermanfaat bagi yang belum memahaminya. Horas.

Penulis : Dans Hutagalung (klik profil facebooknya)
Editor dan Penulis Sekilas Dalihan Na Tolu : B. Marada Hutagalung (klik profil facebooknya)
Referensi tentang Dalihan Na Tolu : id.wikipedia.com.

Rabu, 22 Mei 2013

Sotul atau Buah Kecapi



Pernahkah Saudara/i melihat atau mendengar Sotul (Buah Kecapi)? Sotul tidak hanya ada di daerah Tapanuli (Batak) saja, namun ada juga di daerah lain dandi luar negeri.


Sotul atau Kecapi, sentul atau ketuat adalah nama sejenis buah dan juga pohon penghasilnya. Nama-nama lainnya adalah kechapi (Mal.), sentol, santol atau wild mangosteen (Inggris), santor (Filipina) dan lain-lain. Nama ilmiahnya Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Meliaceae
Genus : Sandoricum
Spesies : S. koetjape
Nama binomial : S. indicum dan S. nervosum

I. Pemerian

Pohon kecapi merupakan pohon yang rimbun dan besar, dapat mencapai tinggi 30 m, meski umumnya di pekarangan hanya mencapai sekitar 20-an meter. Batang dapat mencapai diameter 90 cm, bergetah seperti susu.

Daun majemuk berselang-seling, bertangkai s/d 18 cm, menyirip beranak daun tiga, bentuk jorong sampai bundar telur, 6-26 × 3-16 cm; membulat atau agak runcing di pangkal, meruncing di ujung; hijau berkilat di sebelah atas, hijau kusam di bawahnya. Anak daun ujung bertangkai panjang, jauh lebih panjang dari tangkai anak daun sampingnya.

Bunga dalam malai di ketiak daun, berambut, menggantung, sampai dengan 25 cm. Bunga berkelamin dua, bertangkai pendek; kelopak bertaju 5; mahkota 5 helai, kuning hijau, lanset sungsang, 6-8 mm; samar-samar berbau harum.

Buah buni bulat agak gepeng, 5-6 cm, kuning atau kemerahan jika masak, berbulu halus seperti beludru. Daging buah bagian luar tebal dan keras, menyatu dengan kulit, kemerahan, agak masam; daging buah bagian dalam lunak dan berair, melekat pada biji, putih, masam sampai manis. Biji 2-5 butir, besar, bulat telur agak pipih, coklat kemerahan berkilat; keping biji berwarna merah.

II. Penyebaran dan hasilnya

Kecapi diperkirakan berasal dari Indocina dan Semenanjung Malaya. Berabad-abad yang silam, tumbuhan ini dibawa dan dimasukkan ke India, Indonesia (Borneo, Maluku, Tapanuli), Mauritius, dan Filipina, di mana tanaman buah ini kemudian menjadi populer, ditanam secara luas dan mengalami naturalisasi, dalam bahasa Batak disebut Sotul.

Pohon ini ditanam terutama karena diharapkan buahnya, yang berasa manis atau agak masam. Kulit buahnya yang berdaging tebal kerap dimakan dalam keadaan segar atau dimasak lebih dulu, dijadikan manisan atau marmalade.

Kayu kecapi bermutu baik sebagai bahan konstruksi rumah, bahan perkakas atau kerajinan, mudah dikerjakan dan mudah dipoles.

Berbagai bagian pohon kecapi memiliki khasiat obat. Rebusan daunnya digunakan sebagai penurun demam. Serbuk kulit batangnya untuk pengobatan cacing gelang. Akarnya untuk obat kembung, sakit perut dan diare; serta untuk penguat tubuh wanita setelah melahirkan.

Kecapi ada dua macam, yakni dengan daun tua sebelum gugur berwarna kuning dan yang berwarna merah. Dahulu, kedua varietas ini dianggap sebagai spesies yang berbeda (Sandoricum indicum berdaun kuning dan S. nervosum berdaun merah).


Bahan Bacaan :
  • Rasadah, M. A. et al (2004). Anti-inflammatory agents from Sandoricum koetjape Merr. Phytomedicine. 11:2 261-3.
  • Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. Pradnya Paramita, Jakarta.
  • Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2.
  • Fajar Andriyanto (2001). Kajian Aktivitas Antimikroba Ekstrak Buah Sotul (Sandoricum koetjape (Burm. f.) Merr.) Terhadap Bakteri Patogen dan Perusak Makanan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.

Referensi :

Terima kasih. HORAS!

Kamis, 09 Mei 2013

Rimbang atau Takokak


Pernahkah Saudara/i melihat atau mendengar Rimbang (Takokak)? Ternyata rimbang tidak hanya ada di daerah Tapanuli (Batak) saja, namun ada juga di daerah lain bahkan di luar negeri juga dibudiyakan. Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?

Seperti apakah rimbang itu? Mari kita baca dan simak di bawah ini.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : S. torvum
Nama binomial : Solanum torvum - Sw.


Rimbang atau Takokak atau terung pipit (Solanum torvum Sw.) adalah tumbuhan dari suku terung-terungan (Solanaceae) yang buah dan bijinya dipakai sebagai sayuran atau bumbu. Nama dalam perdagangan internasional tidak baku, beberapa di antaranya adalah turkey berry (buni turki) atau mini-eggplant (terung mini).

Nama lain di daerah-daerah adalah rimbang (Batak Toba, Minangkabau) dan tekokak.


Deskripsi

Takokak adalah tumbuhan semak kecil, yang tingginya dapat mencapai 5 m. Namun biasanya, kurang dari 2 m. Hampir semua bagian tumbuhan ini berduri, kecuali hanya buah yang ditutupi rambut. Daunnya bulat telur dengan pangkal seperti jantung atau membulat, dengan ujung yang tumpul. Panjang daun 7-20 cm dan lebarnya 4-18 cm. Tangkai perbungaannya pendek, sering bercabang-cabang dan banyak bunganya. Bunganya berbentuk bintang berwarna putih, yang ditengahnya kuning. Buahnya berjenis buah buni, kecil, dan banyak.


Persebaran dan habitat

Spesies ini tersebar di Antilla. Namun kini tersebar luas di wilayah tropis. Di Indonesia, ia tumbuh liar di hutan-hutan semak dan hutan-hutan terbuka. Hidup dari dataran rendah sampai pada ketinggian 1600 mdpl.

Rimbang dapat ditanam baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Penanamannya lebih baik dilakukan pada musim kemarau, tetapi pada musim penghujan, rimbang masih dapat ditanam.


Kegunaan

Takokak adalah salah satu tanaman yang memiliki khasiat cukup tinggi, tetapi kebanyakan masyarakat tidak mengetahuinya. Di zaman sekarang ini, dengan umur yang masih muda anak-anak sudah mengalami gangguan mata. Bisa di lihat banyak sekali anak-anak yang memakai alat bantu kacamata akibat pengaruh teknologi seperti televisi dan komputer. Bagaimana untuk mengatasinya? kita dapat menemukan obatnya di pasar. Buah rimbang banyak sekali dijual di pasar. Cukup dengan mencucinya dan makan mentah-mentah sebanyak 5 butir per hari, lama kelamaan mata anda akan membaik. sebab rimbang sangat kaya akan vitamin A yang sehat untuk mata, selain itu rimbang juga mengandung vitamin C.

Tetapi tanaman ini tidak begitu diketahui khasiatnya oleh masyarakat. Apalagi, orang-orang cenderung tidak suka karena rasanya sangat pahit. Kalau kita tidak suka karena terlalu pahit, kita bisa mencampur rimbang ke makanan lain seperti Sup, taucho, dan lain-lain. Tetapi tetap saja rimbang yang mentah memiliki khasiat yang lebih. Cucilah terlebih dahulu sebelum memakan yang mentah.

Pohon takokak dikenal tahan penyakit yang menyerang batang dan biasa dijadikan batang bawah untuk terung, meskipun praktik ini hanya dipakai bagi pertanaman di pekarangan.

Buahnya bisa dimakan, baik yang muda maupun yang tua. Orang mandailing/tapanuli biasanya menggunakan rimbang sebagai campuran sayur daun ubi tumbuk (daun singkong tumbuk), penggunaan buah takokak umum di dalam masakan Sunda, dan diperlakukan seperti ranti (leunca), yaitu dijadikan lalap atau dimasak sayur. Di Thailand, buah takokak muda menjadi bagian dari kari sayur (แกงเขียวหวาน) yang populer. Orang Laos dan Kamboja juga memanfaatkan buahnya.

Selain mengobati mata dan memperjelas penglihatan rimbang juga dapat digunakan sebagai antioksida, mengobati kepala pusing, mengatasi kurangnya nafsu makan, mengatasi tekanan darah tinggi, dan melancarkan sirkulasi.


Sumber :

HORAS!

Selasa, 30 April 2013

Ulos Batak dan Jenis-jenisnya

Ulos Batak (sumber foto : Sitohang Untuk Tapanuli)

Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera. Dari bahasa asalnya, ulos berarti kain. Cara membuat ulos serupa dengan cara membuat songket khas Palembang, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin.

Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Mulanya ulos dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung saja, kerap digunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak, namun kini banyak dijumpai di dalam bentuk produk sovenir, sarung bantal, ikat pinggang, tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan gorden.

Ulos juga kadang-kadang diberikan kepada sang ibu yang sedang hamil|mengandung supaya mempermudah lahirnya sang bayi ke dunia dan untuk melindungi ibu dari segala mara bahaya yang mengancam saat proses persalinan.

Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan sebagai pembungkus jenazah), dan Ulos Sibolang.


Arti Ulos

Mangulosi adalah suatu kegiatan adat yang sangat penting bagi orang batak. Dalam setiap kegiatan seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan dukacita ulos selalu menjadi bagian adat yang selalu di ikut sertakan.

Menurut pemikiran moyang orang batak, salah satu unsur yang memberikan kehidupan bagi tubuh manusia adalah “kehangatan”. Mengingat orang-orang batak dahulu memilih hidup di dataran yang tinggi sehingga memiliki temperatur yang dingin.

Demikian juga dengan huta/kampung yang ada di daerah tapanuli umumnya dikelilingi dengan pepohonan bambu. Dimana memiliki kegunaan bukan hanya sebagai pagar untuk menjaga serangan musuh saja, namun juga menahan terjangan angin yang dapat membuat tubuh menggigil kedinginan.

Ada 3 (tiga) hal yang di yakini moyang orang batak yang memberi kehidupan bagi tubuh manusia, yaitu : Darah, Nafas dan Kehangatan. Sehingga “rasa hangat” menjadi suatu kebutuhan yang setiap saat di dambakan.

Ada 3 (tiga) “sumber kehangatan” yang di yakini moyang orang batak yaitu : matahari, api dan ulos. Matahari terbit dan terbenam dengan sendirinya setiap saat. Api dapat dinyalakan setiap saat, namun tidak praktis untuk di gunakan menghangatkan tubuh, misalnya besarnya api harus di jaga setiap saat sehingga tidur pun terganggu. Namun tidak begitu halnya dengan Ulos yang sangat praktis digunakan di mana saja dan kapan saja.

Ulos pun menjadi barang yang penting dan di butuhkan semua orang kapan saja dan di mana saja. Hingga akhirnya karena ulos memiliki nilai yang tinggi di tengah-tengah masyarakat batak. Dibuatlah aturan penggunaan ulos yang di tuangkan dalam aturan adat, antara lain :
  • Ulos hanya di berikan kepada kerabat yang di bawah kita. Misalnya Natoras tu ianakhon'' (orang tua kepada anak).
  • Ulos yang di berikan haruslah sesuai dengan kerabat yang akan di beri ulos. Misalnya Ragihotang diberikan untuk ulos kepada hela (menantu laki-laki).

Sedangkan menurut penggunaanya  antara lain :
  • Siabithonon (dipakai ke tubuh menjadi baju atau sarung) digunakan ulos ragidup, sibolang, runjat, jobit dan lainnya.
  • Sihadanghononhon (diletakan di bahu) di gunakan ulos Sirara, sumbat, bolean, mangiring dan lainnya.
  • Sitalitalihononhon (pengikat kepala) di gunakan ulos tumtuman, mangiring, padang rusa dan lain-lain.

Saat ini kita tidak membutuhkan ulos sebagai penghangat tubuh di saat tidur ataupun saat beraktifitas, karena ada berbagai alat dan bahan yang lebih maju untuk memberi kehangatan bagi tubuh pada saat berada pada udara yang sangat dingin. Tetapi Ulos sudah menjadi perlambang kehangatan yang sudah mengakar di dalam budaya batak.

Namun ini juga menjadi tantangan bagi budaya batak di masa depan, karena cara pandang dan penghargaan anak-anak muda masa depan sangat berbeda dengan para orang tua yang sempat merasakan berharganya nilai ulos dalam kekerabatan. Akankah anak-anak kita memandang ulos seperti memandang “kain pada umumnya”, bahkan lebih parahnya setelah kain tersebut di gunakan dalam acara adat yang melelahkan kemudian ulos tersebut tersimpan rapat dalam lemari saja.

Sangat berbeda “rasanya” dengan dengan menggunakan setelan jas yang modis dan ingin menggunakannya lagi dan lagi begitu setiap saat.

Jangan-jangan yang terbayang dalam pikiran mereka saat melihat ulos yang tergolek dalam lemari adalah acara adat yang melelahkan, njelimet adatnya, pusing karena gak tau bahasa batak, malu karena gak pinter martutur (menempatkan diri dalam pertalian darah atau keturunan).

Akan sangat banyak tantangan masa depan yang akan menghimpit “niat maradat” bagi generasi muda masa depan. Seperti masalah ke uangan, penggunaan waktu, perkembangan pola pikir praktis, berkurangnya “raja parhata” (orang yang mengetahui adat dan dapat memandu kegiatan adat dari awal hingga akhir).


Jenis, makna dan fungsi Ulos

1. Ulos Antakantak
Ulos ini dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat orang yang meninggal, selain itu ulos tersebut juga dipakai sebagai kain yang dililit pada waktu acara ''manortor ''(menari).

2. Ulos Bintang Maratur
Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba, beberapa diantaranya yakni:
  • Kepada anak yang memasuki rumah baru. Memiliki rumah baru (milik Sendiri) adalah merupakan suatu kebanggaan terbesar bagi masyarakat Batak Toba. Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru di anggap sebagai salah satu bentuk keberhasilan atau prestasi tersendiri yang tak ternilai harganya. Tingginya penghargaan kepada orang yang telah berhasil membangun dan memiliki rumah baru adalah karena keberhasilan tersebut di anggap merupakan suatu berkat dari Tuhan yang maha Esa yang di sertai dengan adanya usaha dan kerja keras yang bersangkutan di dalam menjalani kehidupan. Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru adalah merupakan situasi yang sangat menggembirakan, oleh karena itu ulos ini akan diberikan kepada orang yang sedang berada dalam suasana bergembira. Orang batak yang tinggal dan menetap di berbagai puak/horja di sekitar Tapanuli telah memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda pula. Walaupun konsep dan pemahaman tentang adat itu secara umum adalah sama, namun pada hal-hal tertentu ada kalanya memiliki perbedaan dalam hal pemaknaan terhadap nilai dan konsep adat yang ada sejak turun-temurun. Oleh karena itu pemberian Ulos Bintang Maratur khusus di daerah Silindung di berikan kepada orang yang sedang bergembira dalam hal ini sewaktu menempati atau meresmikan rumah baru.
  • Secara khusus di daerah Toba Ulos ini diberikan waktu acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hulahula kepada anaknya. Ulos ini juga di berikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang  selanjutnya, kemudian ulos ini juga di berikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa di pakai sebagai selendang.

3. Ulos Bolean
Ulos ini biasanya di pakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.

4. Ulos Mangiring
Ulos ini dipakai sebagai selendang, Talitali, juga Ulos ini di berikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang memiliki maksud dan tujuan sekaligus sebagai Simbol besarnya keinginan agar si anak yang lahir baru kelak di iringi kelahiran anak yang seterusnya, Ulos ini juga dapat dipergunakan sebagai Parompa (alat gendong) untuk anak.

5. Ulos Padang Ursa dan Ulos Pinan Lobu-lobu
Ulos ini dipakai sebagai Talitali dan Selendang.

6. Ulos Pinuncaan
Ulos ini terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian di satukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu Ulos. Kegunaannya antara lain:
  • Dipakai dalam berbagai keperluan acara-acara duka cita maupun suka cita, dalam   acara adat ulos ini dipakai/disandang oleh Raja-raja Adat.
  • Dipakai oleh Rakyat Biasa selama memenuhi beberapa pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat di pakai oleh suhut sihabolonon/Hasuhuton (tuan rumah).
  • Kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran (kelompok istri dari golongan hulahula), ulos ini juga di pakai/dililit sebagai kain/hohophohop oleh keluarga hasuhuton (tuan rumah).
  • Ulos ini juga berfungsi sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan. Ulos Passamot diberikan oleh Orang tua pengantin perempuan (Hulahula) kepada kedua orang tua pengantin dari pihak laki-laki (pangoli), sebagai pertanda bahwa mereka telah sah menjadi saudara dekat.

7. Ulos Ragi Hotang
Ulos ini di berikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat yang disebut dengan nama Ulos Hela. Pemberian ulos Hela memiliki makna bahwa orang tua pengantin perempuan telah menyetujui putrinya di persunting atau di peristri oleh laki-laki yang telah di sebut sebagai “Hela” (menantu). Pemberian ulos ini selalu di sertai dengan memberikan mandar Hela (Sarung Menantu) yang menunjukkan bahwa laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku layaknya seorang laki-laki lajang tetapi harus berperilaku sebagai orang tua. Dan sarung tersebut di pakai dan dibawa untuk kegiatan-kegiatan adat.

8. Ulos Ragi Huting
Ulos ini sekarang sudah jarang di pakai, konon pada jaman dulu sebelum Indonesia merdeka, anak perempuan (gadis-gadis) memakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari yang dililitkan di dada (Hobahoba) yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang putri (gadis perawan) batak Toba yang ber-adat.

9. Ulos Sibolang Rasta Pamontari
Ulos ini di pakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang, Ulos Sibolang bisa di katakan sebagai simbol duka cita, yang di pakai sebagai Ulos Saput (orang dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu), dan di pakai juga sebagai Ulos Tujung untuk Janda dan Duda dengan kata lain kepada laki-laki yang ditinggal mati oleh istri dan kepada perempuan yang di tinggal mati oleh suaminya. Apabila pada peristiwa duka cita Ulos ini di pergunakan maka hal itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah  sebagai keluarga dekat dari orang yang meninggal.

10. Ulos Si bunga Umbasang dan Ulos Simpar
Secara umum ulos ini hanya berfungsi dan  dipakai sebagai Selendang bagi para ibu-ibu sewaktu mengikuti pelaksanaan segala jenis acara adat-istiadat yang kehadirannya sebatas undangan biasa yang disebut sebagai Panoropi (yang meramaikan) .

11. Ulos Sitolu Tuho
Ulos ini difungsikan atau di pakai sebagai ikat kepala atau selendang.

12. Ulos Suri-suri Ganjang
Ulos ini di pakai sebagai Hande-hande (selendang) pada waktu margondang (menari dengan alunanan musik Batak) dan juga di pergunakan oleh pihak Hulahula (orang tua dari pihak istri) untuk manggabei (memberikan berkat) kepada pihak borunya (keturunannya) karena itu disebut juga Ulos gabegabe (berkat).

13. Ulos Simarinjam sisi
Dipakai dan difungsikan sebagai kain, dan juga di lengkapi dengan Ulos Pinunca yang disandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani (mendahului di depan), yang memakai ulos ini adalah satu orang yang berada paling depan.

14. Ulos Ragi Pakko dan Ulos Harangan
Pada zaman dahulu di pakai sebagai selimut bagi keluarga yang berasal dari golongan keluarga kaya,  dan itu jugalah apabila nanti setelah tua dan meninggal akan di saput (diselimutkan, dibentangkan kepada jasad) dengan ulos yang pakai Ragi di tambah Ulos lainnya yang di sebut Ragi Pakko  karena memang warnanya hitam seperti Pakko.

15. Ulos Tumtuman
Dipakai sebagai talitali yang bermotif dan dipakai oleh anak yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anak pertama dari hasuhutan (tuan rumah).

16. Ulos Tutur-Tutur
Ulos ini dipakai sebagai talitali (ikat kepala) dan sebagai Handehande (selendang) yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya (keturunannya).


Referensi :

Horas!

Kamis, 25 April 2013

Tortor Batak Toba dan Jenis-jenisnya serta konsep gondang

Musik gondang sabangunan terus mengentak sigale-gale bergoyang menari dan orang-orang pun bergantian manortor (menari). Kini tarian itu bukan lagi ritual untuk menghormati leluhur, melainkan bagian dari suguhan wisata. (Sumber foto: warisanindonesia.com).
Tortor Batak Toba adalah jenis tarian purba dari Batak Toba yang berasal dari Sumatera Utara yang meliputi daerah Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir dan Samosir.

Tortor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Secara fisik tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tortor adalah sebuah media komunikasi, di mana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara.

Tortor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (Hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan.

Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut : "Amang pardoal pargonci" :
  1. "Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion."
  2. "Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada, ompungta paidua, sahat tu papituhon."
  3. '"Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo."
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan/seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.

Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti : Permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.

Setiap penari tortor harus memakai ulos dan mempergunakan alat musik/gondang (Uninguningan).
Ada banyak pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti si penari sudah siap menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat (monsak), atau adu tenaga batin dan lain-lain.
 
Tari tortor digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.


Jenis-jenis Tortor

Tortor Somba
Tortor Somba (Sumber Foto : Pesona Batak).
Tortor Somba adalah Tari Tortor untuk menghormati Tuhan Yang Maha Kuasa, Raja serta para undangan agar mendapat berkat dan restu dari Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bekerja.

Tortor Tunggal Panaluan
Tortor Tunggal Panaluan
(Sumber Foto : Pesona Batak).
Tortor Tunggal Panaluan adalah Tari Tortor yang sangat sakral bagi orang batak karena tortor ini menjadi mediasi manusia dengan Mula Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tortor tunggal panaluan dilaksanakanseorang dukun (Datu Bolon) atas perintah sang Raja dengan tujuan untuk menolak bala, meminta atau menolak hujan, membentuk kampung, atau mengambil keputusan untuk berperang.

Sendratari Pernikahan
Sendratari pernikahan (Sumber Foto : Pesona Batak).
Sendratari ini menceritakan prosesi singkat pernikahan pesta adat Batak Toba mulai dari 5 pasang muda-mudi mengikuti pesta Naposo (Muda-Mudi) dan sepasang sejati dari mereka  saling jatuh cinta. Kemudian mereka meminta pesta dari kedua orangtuanya dan selanjutnya prosesi pernikahan yang diberkati Pengetua Adat.Kemudian diteruskan prosesi pesta adat hingga pesta besar karena pihak laki-laki dan pihak perempuan selalu membuat suatu keputusan dan mempersetujui pesta pernikahan segera dilaksanakan. 

Tortor Sipitu Sawan
Tortor Sipitu Sawan (Sumber Foto : Pesona Batak).
Tortor Sipitu Sawan adalah Tari tortor yang menceritakan ketika Mula Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Kuasa) pertama kali menurunkan orang Batak di Pusuk Buhit dan kembali menurunkan 7 (Tujuh) bidadari di Pusuk Buhit sambil menari dengan tujuh sawan yang berisi air dari 7 sumber mata air dan diperas dengan jeruk purut bertujuan membersihkan manusia yang sudah berbuat dosa agar hidup damai, rukun dan saling menghormat.
 

Konsep gondang masa kini

Sekilas tentang gondang, bahwa Gondang Mula-mula mengawali hajatan itu lalu berturut-turut menyusul Gondang Somba, Gondang Mangaliat, Gondang Simonang-monang, Gondang Sibungajambu, Gondang Marhusip. Sukaria itu pun berakhir dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio.

Dalam hal ini, konsep margondang pada masa sekarang dapat dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu :
  1. Margondang pesta, suatu kegiatan yang menyertakan gondang dan merupakan suatu ungkapan kegembiraan dalam konteks hibuan atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang pembangunan gereja, gondang naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dan sebagainya.
  2. Margondang adat, suatu kegiatan yang menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu, misalnya : gondang mamampe marga (pemberian marga), gondang pangoli anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang di luar suku Batak Toba, dan sebagainya.
  3. Margondang Religi, upacara ini pada saat sekarang hanya dilakukan oleh organisasi agamaniah yang masih berdasar kepada kepercayaan batak purba. Misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak kepercayaan mereka adalah mula jadi na bolon dan segala kegiatan yang berhubungan dengan adat serta hukuman dalam kehidupan sehari-hari adalah berdasarkan tata aturan yang dititahkan oleh Raja Sisingamangaraja XII yang dianggap sebagai wakil mula jadi na bolon.

Referensi :
 HORAS!

Selasa, 23 April 2013

Sejarah Berdirinya Kota Sibolga

Logo Kota Sibolga (Kota berbilang kaum)
Kota Sibolga (Sumber Foto: Binner Lumbagaol binnergaolsibolga.blogspot.com)
Mengingat Kota Sibolga didirikan oleh orang Batak Toba yang bermarga Hutagalung maka kita akan menyampaikan tentang Sejarah Berdirinya Kota Sibolga.

Jauh sebelum kota Sibolga terbentuk di pesisir teluk Tapian Nauli, teluk Tapian Nauli telah ramai dengan aktivitas perdagangan  di ketahui melalui catatan pelawat Islam abad ke-7 dan Portugis di abad ke-16 M,  dimana teluk Tapian Nauli merupakan salah satu pintu masuk perdagangan yang pertama di pantai barat sumatera  utara  dengan Bandar ( pelabuhan) nya Barus (Tengku Luckman sinar, SH, “Lintasan Sejarah Sibolga dan Pantai Barat Sumatera Utara", Harian Waspada, 23 juni 1981).

Mengutip apa yang di sampaikan oleh Tengku Luckman Sinar dalam tulisannya yang bertajuk (lintasan sejarah sibolga dan pantai barat sumatera utara 1981) di mana dalam tulisanya   tersebut beliau menyampaikan bagaimana kondisi teluk Tapian Nauli pada saat itu  telah terjadi interaksi antara masyarakat di pesisir pantai teluk Tapian Nauli dengan Orang-orang yang tinggal di pedalaman, yang sangat membutuhkan garam, dan bahan bahan lainya yang hanya dapat bisa diperoleh dari pesisir pantai, mereka melakukan barter dengan hasil hutan yang mereka peroleh, dengan garam dan lain-lain, hal ini sering dilakukan oleh “Parlanja” (Pengertian parlanja  adalah orang yang membawa barang dengan pikulan), makin lama makin banyak orang hilir mudik, dan menetap di pesisir pantai.

Berdirinya sibolga berawal dari di bukanya kampung oleh Ompu Datu Hurinjom yang berasal dari daerah Silindung (Tapanuli Utara) di Simaninggir yang pada saat ini Simaninggir merupakan wilayah yang termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Tapanuli Tengah. Letak Simaninggir tersebut berada di gunung dekat dengan teluk Tapian Nauli. Simaninggir/Tinggir yang dalam bahasa Toba Batak mempunyai arti tajam pendengaran/pemantauan. Oleh para parlanja daerah ini sering dijadikan sebagai tempat istirahatnya ketika hendak menuju daerah pesisir pantai atau pun sesudah sekembali dari daerah  pesisir pantai sebelum kembali ke daerahnya.

Semenjak Ompu Datu Hurinjom bermukim di Simaninggir, kawasan teluk Tapian Nauli diwarnai dengan perdagangan secara paksa antara penduduk dengan pihak Inggris yang berkembang menjadi perang. Walau pun demikian Ompu Datu Hurinjom yang memiliki postur tubuh tinggi besar tidak gentar menghadapi keadaan, bahkan memindahkan pemukiman mendekati teluk, yaitu di Simare-Mare (salah satu daerah di kecamatan Sibolga kota) di bawah kaki Dolok Simarbarimbing dan terus melakukan perlawanan terhadap pihak Inggris yang memonopoli perdagangan di teluk Tapian Nauli).

Dikarenakan taktik perang dan taktik wilayah dan untuk menjamin keperluan garam maka sekitar tahun 1700 M cucu Datu Horinjom bernama Raja Luka Hutagalung yang dalam perjalanan sejarahnya yang kemudian lebih dikenal sebagai Tuanku Dorong membuka perkampungan baru di sekitar aliran sungai Aek Doras (sungai di wilayah kecamatan Sibolga kota).

Ompu Datu Horinjom sebagai pemuka kampung pertama di Simaninggir merupakan seseorang yang dihormati oleh kalangan masyarakatnya di samping memiliki postur tubuh tinggi besar  ompu tersebut juga memilki kesaktian/tenaga hal ini juga  turun kepada anak dan cucunya yang juga memilki tubuh tinggi besar. Di mana dalam masyarakat Batak adalah Tabu  untuk menyebut nama seseorang apalagi orang tersebut lebih tua dan di hormati, sehinnga yang ingin bertemu dengannya sering disampaikan dengan sebutan : beta tu huta ni Sibalga’i, yang apabila diartikan sebagai berikut ayo ke tempat/kampung orang yang tinggi besar itu, kata tersebut merupakan awal kata di mana kemudian dalam perjalanan sejarah berikutnya berkembang menjadi Sibolga (Drs. Raja Ja’far  Hutagalung, “Sibolga Nama Legendaris Seorang Pejuang”, dalam buku “Hari Jadi Sibolga”, Pemko Sibolga 1998:111).
  
Periode 1815 pihak Inggris mengadakan perjanjian yang mana perjanjian tersebut disebut dengan perjanjian Tigo Badusanak, dengan Raja Sibogah serta Datuk-Datuk yang berada di pulau-pulau kecil di sekitar teluk Tapain Nauli yaitu pulau Poncan Ketek (kecil) dan Poncan Gadang (besar) yang saat itu tunduk di bawah kekuasan inggris, pihak inggris menyebut Poncan dengan Fort Tapanooly dikarenakan di sanalah Inggris mendirikan benteng dan pada tahun 1801 ditetapkan Jhon Prince sebagai residennya.

Menurut Tengku Luckman Sinar bahwa dari hasil catatan riset  seorang pembesar belanda E. B. Kielstra bahwa dalam periode 1833-1838 di Sibolga penuh berdiam penduduk segala bangsa terutama orang batak yang berasal dari wilayah Angkola yang mengungsi, dan setelah pusat  pemerintahan asisten Residensi Tapanuli bertempat di sekitar Aek Doras,  Sibolga menjadi ramai, meski pun di kelilingi oleh sawah dan rawa-rawa, penduduk asal batak yang sudah beragama islam sudah menjadi “Pesisir” dengan adat sendiri yang spesifik. Di masa Sibolga dibagun istana raja yang berada di tepi sungai Aek Doras dan perkampungan di sekelilingnya dipindahkan ke daerah baru  di Sibolga Ilir, dan sebagai pemangku adat berdasarkan data dan silsilah raja-raja/kepala kuria di Sibolga adalah sebagai berikut:
  1. Raja Luka Hutagalaung gelar Tuanku Dorong pembuka kampung pertama di sekitar sungai aek Doras yang kemudian berkembang menjadi kuria sibogah   
  2. Sutan Manukar
  3. Raja Ombun
  4. Sipalenta 
  5. Sultan Parhimpunan  
  6. Muhamad Sahib (merupakan kepala kuria terakhir, karena setelah zaman kemerdekaan istilah raja/kepala kuria sudah tidak ada lagi) (“Hari Jadi Sibolga”, Pemko Sibolga, 1998:13:111)
Periode selanjutnya antara tahun 1838-1842 setelah Belanda membuka jalan dari Sibolga hingga Portibi (Tapanuli Selatan) dan pada saat itu Sumatera Barat sudah meningkat menjadi “Gouvernement” (Propinsi) dan Tapanuli menjadi salah satu “Resident”-nya, di mana dengan Beslit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 7 Desember 1842 ditetapkan Sibolga menjadi ibukota  Residen Tapanuli yang  dipimpin oleh seorang Afdelinghoof   (kepala daerah).

Afdeling di bawah Kerisidenan Sibolga  :
1  Afdeling Singkil 
2  Afdeling Barus  
3  Afdeling Mandailing
4  Afdeling Natal 
5  Afdeling Angkola
6  Afdeling Nias
7  Afdeling Sibolga

Wilayah yang termasuk distrik afdeling  Sibolga ialah : Sibolga, Tapian Nauli, Badiri, Sarudik, Kolang, Tukka, Sai Ni Huta, dan pulau-pulau kecil di depan teluk Tapian Nauli, yang mana setiap distrik dikepalai oleh seorang Districhoof (Demang). Selanjutnya di tahun 1871 Belanda menghapuskan sistem pemerintahan Raja-Raja/Kepala Kuria dan diganti oleh Demang tetapi sebagian masyarakat masih mengangap Raja/Kepala kuria sebagai pemangku adat yang sah, pada tahun 1898 hampir semua daerah di Sibolga ditelan a mukan api akibat dari perlawanan masyarakat terhadap Belanda, dan pada tahun 1906 ibukota residen Tapanuli dipindahkan ke Padang Sidempuan. Pada masa pemerintahan militer Jepang, Sibolga dipimpin oleh seorang Sityotyo  (baca Sicoco) yang memegang pimpinan kota, sebagai kelanjutan dari kepala distrik yang masih dijabat oleh bekas Districhoofd (Demang) pada masa pendudukan belanda yaitu Z. A. Sutan Kumala Pontas.

Periode berikutnya tahun 1947, A. M. Djalaluddin diangkat menjadi kepala daerah di Sibolga di waktu jabatan beliau inilah Sibolga di bentuk menjadi daerah otonom tingkat B sesuai dengan surat keputusan Residen Tapanuli N.R.I (Negara Republik Indonesia) tanggal 29 November 1946 Nomor 999, dan selaku realisasi dari surat keputusan Gubernur Sumatera Utara N.R.I tanggal 17 Mei 1946 Nomor 103, dan kota otonom Sibolga itu dipimpin oleh seorang Walikota yang dirangkapkan  kepada Bupati Tapanuli Tengah (Prof. M. Solly Lubis, SH, “Sibolga  dan sekeping sejarahnya”, dalam buku “Hari Jadi Sibolga”, Pemko Sibolga, 1998:16:111).

Terhitung tanggal 24 November 1956 sejak  berlakunya Undang-Undang Darurat Nomor 8 Tahun 1956, yang mengatur pembentukan daerah otonom kota-kota besar dalam lingkungan daerah propinsi Sumatera Utara, di mana dalam pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 8 Tahun 1956 itu ditetapkan pembentukan 4 kota besar yaitu : Medan, Pematangsiantar, Sibolga dan Kutaraja, menurut Undang-Undang Darurat ini Sibolga menjadi kota besar, dengan batas wilayah sesuai dengan keputusan residen Tapanuli tanggal 29 November 1946 Nomor 999.

Setelah keluarnya Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri RI tanggal 14 Desember 1957 Nomor u.p15/2/1 diangkatlah D. E.  Sutan Radja Bungaran menjadi Walikota Sibolga, dan sejak 1 Januari 1958 berakhir pula perangkapan jabatan Walikota Sibolga oleh Bupati kabupaten Tapanuli Tengah dan secara administratif menjadi daerah kotamadya di luar Kabupaten Tapanuli Tengah.

Referensi/sumber :
  • Repository.usu.ac.id
  • Tengku Luckman sinar, SH, “Lintasan Sejarah Sibolga dan Pantai Barat Sumatera Utara”, Harian Waspada, 23 juni 1981;
  • “Buku Hari Jadi Sibolga”, Pemerintah Kota Sibolga, 1998.

Link terkait :

Dirangkum oleh: B. Marada Hutagalung (klik profil facebooknya atau klik twitternya @MaradaGv).

HORAS!

Pelabuhan Sibolga di tahun 1910-an (Sumber Foto : id.wikipedia.org/wiki/Sibolga atau collectie.tropenmuseum)

Rabu, 17 April 2013

Sejarawan yang mengatakan tentang Sejarah batak

Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu di zaman batu muda (Neolitikum). Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara di zaman logam.


Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal. Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.

Mayoritas orang Batak menganut agama Kristen dan sisanya beragama Islam. Tetapi ada pula yang menganut agama Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.


Logo Hutagalung Sedunia
Flag Counter