Tampilkan postingan dengan label film Batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film Batak. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

Film Batak - Demi Ucok

Poster Film (sumber : boleh.com)

Demi Ucok adalah salah satu film drama dan komedi Indonesia yang bernuansa budaya batak.

Tema Film

Film ini bertema ibu dan anak yang dibalut dalam kisah kultur Batak. Alur cerita film Demi Ucok lebih condong pada ambisi orang tua dan idealismi seorang anak.

Sinopsis film
Glo atau Gloria Sinaga tidak mau jadi seperti ibunya, yaitu menikah, lupa mimpi, dan hidup dengan rutinitas setelahnya. Glo ingin mengejar mimpi, yaitu membuat film. Sementara Mak Gondut (ibu Glo) yang dalam keadaan sakit dan divonis hidup tinggal setahun lagi tetap bertekad mencari pasangan untuk Glo agar kemudian menikah dan hidup bahagia setelahnya.

Mak Gondut yang diperankan oleh Lina Marpaung, seorang janda berusia 55 tahun memiliki seorang anak perempuan bernama Gloria Sinaga (diperankan oleh Geraldine Sianturi) atau dalam filmnya kerap disapa Glo. Usia Glo sudah matang, namun dia belum juga mau menikah, bahkan pacar pun tidak dimilikinya. Dia juga selalu menolak untuk di jodohkan.

Melihat kenyataan itu, Mak Gondot pun resah. Mak Gondut yang divonis hidupnya tinggal setahun lagi terus bertekad mencari Ucok agar Glo bisa kawin dan hidup bahagia selamanya.

Ambisi seorang Mak Gondot sangat berlawanan dengan idealismi Glo yang memiliki tekad kuat untuk mengejar cita-citanya menjadi sutradara film. Glo juga tidak ingin bernasib seperti ibunya yang dalam pandangan dia : kawin, lupa mimpi dan hidup membosankan selamanya.

Mencapai mimpi memang tidak semudah membalikan telapak tangan, baik itu mimpi Mak Ucok agar anaknya bisa kawin maupun mimpi yang sangat didambakan seorang Glo sebagai sutradara film. Masalah yang diahapi Glo adalah dia tidak memiliki dana segar untuk membuat film.

Di saat Glo pusing mencari dana untuk filmnya, Mak Gondut datang dengan sebuah penawaran. Uang asuransinya senilai satu milyar pun siap digelontorkan Mak Gondut, dengan satu syarat, Glo harus mau menikah dengan laki-laki Batak pilihannya.

Pesan dari film ini adalah : "Jika Anda ingin sukses, bersikap baiklah terhadap orang tua Anda."


Tim yang terlibat dalam pembuatan
1. Pemeran :
  • Geraldine Sianturi sebagai Gloria Sinaga (Glo)
  • Lina Marpaung sebagai Mak Gondut
  • Saira Jihan
  • Sunny Soon
2. Produser/Sutradara/Penulis : Sammaria Simanjuntak
3. Studio dan Produksi : PT. Kempompong Gendut dan Royal Cinema Multimedia

Penghargaan dan jadwal Penayangan

Pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2012 film ini berhasil meraih 8 nominasi dan juga membawa pulang 1 piala pada kategori Aktris Pendukung Terbaik untuk salah satu aktrisnya, Mak Gondut.

Catatan Produksi

Film ini sempat menuai kontroversi sebab yang mengakibatkan aksi protes keras dari warga Bandung di dunia maya karena dalam film ini terdapat adegan anjing yang bernama Bobot memakai kostum Persib (Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung).[4] Tim produksi film Demi Ucok meminta maaf dengan menanggapi protes yang disampaikan beberapa warga Bandung yang mengaku sebagai Bobotoh-julukan pendukung Persib.
Refrensi :

Tautan/Link

Rabu, 03 April 2013

Film Batak - Mursala


Mursala adalah salah satu film Indonesia yang bernuansa budaya Batak.


Tema film


Film ini mengangkat cerita budaya Batak tentang 70 marga yang berbeda dan tidak boleh menikah hingga kini, seperti marga Simbolon dan Saragih. Film bernuansa romantis ini juga menampilkan keindahan panorama Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Sinopsis Film :
Kisah Mursala diawali dengan tekad seorang pemuda Batak bernama Anggiat Saragi yang merantau dari kampungnya Sorkam Tapantiur Tengah Anggiat ke Jakarta. Dia sukses menjadi pengacara dan dibanggakan orangtua, namun itu belum sempurna karena ibunya Inang Romauli dan ayahnya Amung Hotman mengharapkan Anggiat menikah dengan paribannya (sodara sepupu). Hal itu tidak mudah, karena di Jakarta Anggiat telah memilih wanita batak lain yang dicintainya yakni Clarisa Turnip seorang presenter televisi.
 
Persoalan muncul karena perbedaan marga keduanya, ternyata masuk ke dalam larangan adat yang tidak memungkinkan keduanya untuk menikah kecuali keluar dari adat marganya masing-masing. Meskipun Anggiat bertekad untuk mempertahankan hubungan mereka.

Di tengah kegalauan, Anggiat bertemu kembali dengan Bonatiur Sinaga pariban yang ternyata adalah teman masa kecilnya di Pulau Mursala dulu. Tiur gadis yang diceritakan sebagai pecinta alam biota laut ini juga beberapa kali gagal menjalin cinta.


Lokasi syuting

Film Mursala mulai syuting di bulan Maret-April 2012, mengambil lokasi di Tapanuli dan Jakarta. Daerah Tapanuli, air terjun Mursala pernah jadi lokasi pengambilan gambar untuk film Hollywood berjudul "King Kong" (1993).
 

Para Aktor/Aktris dan Tim Kru Film

Para aktor dan aktris film Mursala:
  • Rio Dewanto
  • Titi Sjuman
  • Mongol
  • Anna Leiden Sinaga
  • Tio Pakusodewo
  • Rudy Salam
  • Roy Ricardo
  • Bonaran Situmeang
  • Elsa Syarief

Para tim kru film :
  • Sutradara : Viva Westy
  • Distribusi : Raj’s Production
  • Produser (Eksekutif) : Anna Leiden Sinaga
  • Juru kamera : Ipung

Soundtrack film

Penyanyi legendaris Iwan Fals khusus menciptakan lagu berjudul ‘Mursala’ untuk mengisi sountrack film Mursala.


Referensi :

Film Batak - Permata di Tengah Danau (Dokumenter)


'''Permata di Tengah Danau''' adalah salah satu film dokumenter Indonesia karya Andi Parulian Hutagalung, sineas muda dari Medan, Sumatera Utara.

Tema film

Film Permata di Tengah Danau mengangkat kisah anak-anak di Pulau Samosir yang serba minim fasilitas belajar namun mampu kritis melihat situasi lingkungannya karena dibimbing para aktivis lingkungan di Sopo Belajar.

Sinopsis film :
Berawal dari kegelisahan '''Togu Simorangkir''' sebagai perantau, ia meninggalkan kemapanan di Jakarta dan kembali ke tanah Batak. Di sebuah desa di Pulau Samosir, ia mendirikan sanggar belajar yang diberi nama Sopo Belajar. Sopo Belajar meretas keterbatasan akses anak-anak desa terhadap informasi dan pengetahuan. Melalui buku dan permainan, anak-anak diajak menyelaraskan diri dengan kehidupan dan alam sekitar. Meski tantangan silih berganti, niat untuk melahirkan permata-permata yang berani bermimpi tak pernah surut.

Sophia Pakpahan salah seorang anak yang ikut aktif dalam sanggar “Sopo Belajar”, Samosir . Dalam film dokumenter tersebut Sophia mengisahkan tentang beberapa hal yang membuat warga Samosir bersemangat untuk bangkit, terutama dalam penyelamatan masa depan Danau Toba dan masa depan pendidikan anak-anak Pulau Samosir, Sumatera Utara.


Tim kru pembuatan film

Beberapa kru yang ikut terlibat dalam pembuat film dokumenter "Permata di Tengah Danau:
  • Sutradara, produser, penulis, juru kamera dan editor : Andi Parulian Hutagalung
  • Reporter : Rudianto Sitohang, Rosmelina Sinaga
  • illustrasi musik : "Mangandung" (Marsius Sitohang); "Andung-andung anak siampudan" (Juni); "Gondang" (Hardoni Sitohang).
  • Penyelarasan bahasa : S. E. Pryhandi
  • Pengarah suara : Ferrari Narotama
  • Penerjemah bahasa Inggris : Patar Simatupang
  • Pengelolaan produksi : Yani Kelly
  • Disribusi : Media Identitas, Medan

Penghargaan

Film Permata di Tengah Danau mendapat penghargaan pada :
  • Piala Maya 2012
  • Festival Film Dokumenter (FFD) Bali tahun 2012

Referensi :

Film Batak - Mutiara dari Toba

Mutiara dari Toba adalah sebuah film karya pertama anak Medan yang dikemas dalam bentuk DVD.


Film ini menggunakan bahasa Indonesia dan Batak Toba, dan bukan film pertama batak yang menggunakan Bahasa Batak Toba.


Peluncuran Perdana
Peluncuran perdanan Film Mutiara dari Toba dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2013 di Medan yang dihadiri Walikota Medan beserta jajarannya, yang sebelumnya pada tanggal 23 Januari 2013 Maneger Produksi, Amirullah Harahap bersama ke-empat artisnya yakni Novida, Anggi Rahma Ulfa, Frisna Mariana Panjaitan dan Amalia Siregar telah beraudensi ke Pemerintah Kota Medan, Sumatera Utara.

Tema Cerita Film

Film ini berhubungan dengan nasib Danau Toba yang kurang perhatian dari masyarakat dan pemerintah, seakan Danau Toba tidak pernah tersentuh oleh tangan manusia, juga berisi tentang kisah cinta (romantisme) dan persahabatan. Tujuan dari pada ini adalah untuk dapat menghidupkan kembali kejayaan Danau Toba pada masa 15 tahun yang lalu.
Film ini mengangkat sebuah cerita perjalanan seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Sumatra Utara bernama Katrin yang ingin melakukan penelitian menyelesaikan makalah ke Danau Toba, yang merupakan danau terluas di Asia Tenggara ini. Namun ketika Katrin melakukan perjalanan menuju Pulau Samosir, Katrin kehilangan tas yang berisi barang-barang berharga miliknya, sehingga mengakibatkan tugasnya terkendala.

Lokasi Syuting

Lokasi syuting film ini dilakukan di sekitar lokasi menara air PDAM Tirtandi medan, Istana Maimon, Danau Toba, Pulau Samosir dan tempat wisata lainnya.

Para Pemain dan Kru Film

Seluruh pemain merupakan hasil seleksi yang digelar awal bulan Juni 2012 yang lalu. Yang terpilih adalah:

==Nama Pemain== ==Peran dalam film= =Keterangan=
Anggie Rahma Ulfha Katrin Pemeran Utama wanita
Rimbun Nadeak James Pemeran utama pria
Amelia Siregar Amel
Robby Commando Mike
Daniel sebagai Bonar
Novida sebagai Cinta
Frisna Panjaitan Mariana
Thomas Boris

Untuk krew dan script writter adalah didominasi mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P), sedangkan posisi kameramen dan editor diisi oleh Muhammad Fadli, Zack dan Andi Tan (Aan) dari In Motion Video Art.

Referensi


Film Batak - Anak Sasada

Anak Sasada atau Putra Satu-satunya adalah salah satu film Indonesia, yang bernuansa budaya Batak yang dikemas dalam bentuk VCD, serta film yang pertama sekali menggunakan bahasa Batak Toba di perfilman Indonesia.

Film ini menggunakan bahasa Batak dan dilengkapi terjemahan dengan subtittle bahasa Indonesia.

Peluncuran Perdana

Peluncuran film Anak Sasada dilakukan pada hari Sabtu, 27 Juni 2011 langsung di rumah Pontyanus Gea (sutradara/produser), Jalan Karya Wisata Ujung Gang GSJA nomor 17, Medan, Sumatera Utara.

Tema Cerita Film

Film itu mengisahkan tentang kemiskinan dan pendidikan orang di desa yang harus merantau ke kota. Pembuatan film ini terinspirasi untuk melestarikan budaya daerah. Film ini menceritakan realita kehidupan sehari-hari yang terjadi ditengah masyarakat, dan merupakan kepedulian terhadap budaya batak.

"Anak Sasada" yang dikemas dalam dialog bahasa Batak Toba, menggambarkan realitas kemiskinan perdesaan di Tapanuli melalui tokoh Sabungan.

Ia meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ternyata tanah perantauan tak seperti dugaan. Sabungan terlibat masalah dengan kelompok bandit dan menjumpai nasib tragis.

Lokasi Syuting

Pengambilan gambar dilakukan di Balige, Toba Samosir dengan latar belakang kapal “paronan” (pedagang) dari Bakkara pada tanggal 24-26 Mei 2011. Rute pergi dan pulang kapal paronan menjadi lanskap pagi di pelabuhan, dan itu merupakan awal cerita film ini. Sedangkan syuting terakhir akan dilengkapi diskusi dan pemutaran cuplikan film di SMU Negeri Plus Yayasan Soposurung Balige pada tanggal 26 Juni 2011. Pembuatan film yang berlangsung dikawasan Samosir dan Tobasa ini memakan waktu selama 3,5 bulan menghabiskan biaya Rp. 400.000.000,-.

Tim yang terlibat dalam pembuatan Film Anak Sasada

Di film ini ada beberapa orang yang berasal dari etnis Batak Toba menjadi pemain di film ini, namun ada juga dari suku Melayu, Jawa dan etnis Batak Simalungun.
Para Kru film :
  • Sutradara/Produser : Pontyanus Gea
  • Penulis/Skenario : Thompson HS (Budayawan)
  • Penyelaras Bahasa : Manguji Nababan (Batakolog)
  • Pimpinan Produksi : Emilia Sarumaha
  • Distribus : Constellazione (CZ) Entertainment
  • Soundtrack atau musik : Tudia Mangalangka yang dinyanyikan oleh Jerry Simarmata.
Trailernya Videonya dapat di lihat, klik di youtube.

Sumber :



Logo Hutagalung Sedunia
Flag Counter