Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2019

Video Profil: AKBP. Reynold Hutagalung



AKBP. Reynold Hutagalung

Sumber: Channel Youtube mixproproduction29

Senin, 27 Februari 2017

Ceyco Georgia Zefanya Hutagalung - Si Jago Karate Indonesia

Ceyco Georgia Zefanya Hutagalung
Ceyco Georgia Zefanya Hutagalung tampil memukau di final Kejuaraan Dunia Karate WKF, Kadet, Junior, dan U21 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong, Jumat (13/11/2015). Ceyco yang tampil di nomor Kumite Putri Junior Kelas 59+ sukses merebut medali emas.

Menariknya Ceyco meraih emas lewat pertarungan sengit melawan wakil Turki, Eltemur Elda di babak final. Sempat terkejar 5-5 lewat tendanan mawahi geri lawan, Ceyco akhirnya menang setelah pukukannya berhasil meraih angka pada detik-detik terakhir pertandingan. Ceyco pun menang 6-5.

Ini merupakan emas pertama Ceyco di kejuaraan dunia WKF.  Wanita kelahiran 24 Juni 1999 itu mengaku tidak menyangka bisa keluar sebagai juara karena sejak awal hanya menargetkan perunggu.

Karena itu dia sangat senang saat mampu melampaui targetnya. Namun siapa sebenarnya yang mengenalkan Ceyco ke dunia karate? "Tante saya," jawabnya singkat saat ditanya usai pertandingan.

"Kebetulan dia juga dulu atlet karate," sambung siswi kelas II SMA 39 Jakarta tersebut.

Yang dimaksud tante oleh Ceyco tenyata adalah mantan karateka nasional Jenny Zeanet. Menurut wanita berdarah Batak itu, Jenny punya hubungan adik-kakak dengan ibunya, Dessy Yovita.

Semasa aktif, Jenny memang merupakan salah satu karateka putri andalan Merah Putih. Jenny pernah mendulang medali emas pada SEA Games XXI Hanoi, 2003 lewat nomor kumite perorangan putri -53kg. Dan saat ini, Jenny melanjutkan karirnya sebagai salah satu pelatih di tim karate DKI Jakarta.

"Iya, tante Jenny Zeanet masih saudaraan sama mama. Dulu sering diajak lihat latihan sama tante."

Di keluarganya, Ceyco juga bukan satu-satunya yang menggeluti olahraga karate. Kakaknya, Caesar George Issac Hutagalung juga bergelut di dunia yang sama. Caesar bahkan pernah satu kontingen dengan Ceyco di Kejuaraan Karate Asia Tenggara (SEAKF) di Vietnam, 16-18 April 2014.

Saat itu, Ceyco merebut emas di nomor kumite kadet 59kg putri. Sedangkan Caesar hanya mampu mendulang perunggu dari nomor kumite 84kg putra senior.

Sekian dan Terima kasih.

Minggu, 26 Januari 2014

Olivia Hutagalung Pemenang Juara Pertama pada ASEAN Television Melodies Festival 2012 Vietnam

Olivia Hutagalung(sumber foto dari berbagai sumber)

Olivia Hutagalung adalah seorang penyanyi yang sekaligus bekerja di Sound and Music Entertainment yang telah berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih juara pertama pada ASEAN Television Melodies Festival 2012 Vietnam.

Olivia lahir pada tanggal15 Nopmber 1990, yang marupakan alumni dari Universitas Tarumanegara (jurusan Akuntansi) dan SMA Negeri 70 Jakarta.


Mari kita simak berita tentang Olivia Hutagalung di bawah ini.

A. Olivia Hutagalung, Jawara yang Demam Panggung

TEMPO.CO, Jakarta - Jumat, 9 Maret lalu, merupakan hari spesial dan akan selalu dikenang oleh Olivia Hutagalung. Penyanyi 21 tahun ini berhasil menyabet gelar juara pertama dalam ASEAN Television Melodies Award di Ho Chi Minh, Vietnam, bersama Muhamad Ananta Kusuma Negara. Suara alto dengan power yang kuat saat ia menyanyikan lagu I'm Telling You dari Jennifer Hudson mampu membuat para juri terpesona. Olivia mengalahkan sepuluh kontestan lainnya di kategori pop. "Aku sendiri tidak menyangka," kata Olivia saat ditemui di kediamannya di Ciledug, Rabu lalu.

Rupanya kontes menyanyi yang diikuti sebelas penyanyi dari negara-negara Asia Tenggara itu merupakan kompetisi internasional pertama yang diikuti Olivia. Berangkat ke negeri dengan payung kelompok Geronimo, ia tak membekali diri dengan target muluk. "Yang penting pengalamannya. Menang atau kalah, itu nanti," katanya.

Dunia tarik suara bukan hal baru bagi dara keturunan Batak ini. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia kerap mendapat tawaran menyanyi di banyak acara. Dari satu acara ke acara itulah vokalnya terasah.

Saat kuliah pun, Olivia kerap tampil di berbagai pusat belanja dan kafe bersama kelompok The Chorus.

Pada 2004, untuk pertama kalinya Olivia mengantongi penghargaan. Pada usianya yang ke-13 tahun, ia merebut juara III dalam Singing English Contest. Penghargaan berikutnya ia peroleh pada tahun yang sama, yakni juara II kategori solo remaja dalam Festival Pemuji Rohani. Prestasi tersebut layak dicapai oleh penyanyi yang mampu bersuara rendah alto dan sanggup mencapai mezzo-soprano itu.

"Keluarga selalu kasih semangat dan dorong aku ikut kontes," kata bungsu dari tiga bersaudara ini.

Olivia memang sejak kecil tak jauh dari dunia seni suara. Ibunya kerap menyumbangkan suara meski hanya di lingkungan sekitar rumah dan pekerjaannya. Begitu pula neneknya, yang gemar olah vokal. Kakak lelakinya nomor dua, Mario, merupakan salah satu personel grup Pasto.

Namun, tentu saja, semua kehebatan di sekelilingnya tidak otomatis membuat Olivia hebat dalam bernyanyi. Setiap hari, dia berlatih menyanyi. Ia juga selalu mengusahakan berolahraga setiap hari untuk menjaga kondisi bugar tubuh dan suaranya dengan berlari atau senam. Asupan makanan dan minuman yang masuk pun selalu dijaganya.

Selain itu, Olivia harus berjuang menghilangkan grogi sebelum manggung. Dulu, saking groginya, ia selalu susah berdiri karena kakinya gemetaran. Tapi, seiring dengan bertambahnya pengalaman, kini masalah itu bisa dia atasi. "Demam panggung masih banget, tapi aku buat bercanda sambil menggumam saja," ucapnya.

Kini, lulusan jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta tersebut memutuskan untuk berfokus menyanyi. Di tengah maraknya demam band Korea, Olivia berencana mengeluarkan single tahun ini. Jenis lagunya masih seputar pop, yang memang menjadi kesukaannya. Keinginan berikutnya adalah membuat album. "Dan kalau bisa, saya juga ingin go international," ucapnya.

Yang memicu cita-cita tersebut adalah kehebatan para penyanyi idolanya: Beyonce, Whitney Houston, Mariah Carey, serta penyanyi Indonesia, Ruth Sahanaya. "Mereka penyanyi yang memiliki kualitas vokal suara yang sangat bagus," kata penggemar musik R&B ini.

Meski sibuk dengan dunia nyanyi, Olivia masih sering melakukan hobinya: jalan-jalan dan wisata kuliner. "Biasanya, setelah menonton acara televisi tentang kuliner, saya pasti segera mengajak keluarga pergi berburu tempat makan itu." Kali ini, untuk urusan tersebut, ia tak pilih-pilih.

Biodata
Nama : Olivia Hutagalung
Lahir : Jakarta, 15 November 1990
Pendidikan :
- TK-SD-SMP Strada Bhakti Utama, Jakarta
- SMA Negeri 70 Jakarta
- Universitas Tarumanagara
Prestasi :
- Juara II kategori solo remaja, Festival Pemuji Rohani, November 2004.
- Juara III Singing English Contest, Maret 2004.
- Juara I ASEAN Television Melodies Festival di Vietnam, Maret 2012.



B. Olivia Hutagalung & Ananta Kusuma Juara ASEAN Television Melodies Festival 2012 di Ho Chi Minh, Vietnam

Dua penyanyi Indonesia, Olivia Hutagalung dan Muhamad Ananta Kusuma Negara, mengharumkan nama bangsa dengan berhasil menjadi juara di ajang ASEAN Television Melodies Festival 2012 yang diselenggarakan di Stasiun Ho Chi Minh City Television (HTV) pada 9 Maret 2012.

Olivia dinyatakan sebagai pemenang pertama kategori lagu pop dengan membawakan lagu I’m Telling You (Jennifer Hudson), sementara Ananta yang menyanyikan lagu Kereta Tanah Abang sebagai pemenang pertama lagu kategori folk, ciptaan Dr. Anton Issoedibyo, Geronimo.

Selama 2 kali penyelenggaraan terdahulu, tahun 2010 dan 2011, acapkali penyanyi Vietnam merebut berbagai penghargaan hiburan, sebelum akhirnya menerima penghargaan tertinggi.

Olivia dan Ananta, dua penyanyi kelompok Geronimo asuhan Dr. Anton Issoedibyo mengikuti acara ASEAN Television Melodies Festival 2012, yang dimulai pada 5 Maret 2012 untuk mempertandingkan lagu kategori folk. Pada 7 Maret 2012 acara dilanjutkan dengan mempertandingkan lagu pop.

Acara yang diselenggarakan oleh HTV tersebut, diikuti oleh kontestan dari Brunei, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Thailand, Singapore dan Vietnam, dimaksudkan sebagai wahana untuk meningkatkan solidaritas dan persahabatan antara negara-negara anggota ASEAN melalui kegiatan kompetisi lagu dan pertukaran budaya.

Bertindak sebagai juri pada ASEAN Television Melodies Festival 2012 adalah Fathan Haji Anuar seorang produser musik , penyanyi dan pembawa acara dari Brunei; Rachmasari Nurdin dari Indonesia; penulis lagu Tran Long An, penyanyi Ta Minh Tam dan Anh Tuyet, ketiganya dari Vietnam.


Mari kita lihat videonya :

Daftar Tautan/Link Olivia Hutagalung :
- Facebook : https://www.facebook.com/olivia.hutagalung.7
- Twitter : https://twitter.com/olivehutagalung atau @olivehutagalung
- Youtube : http://www.youtube.com/user/oliviahutagalung

Refrensi :
- Tempo.co
- Rujukan Indonesiaproud.wordpress.com dari Kemlu.go.id (KJRI Ho Chi Minh City)
- berbagai sumber.


Kamis, 09 Januari 2014

Alm. Ir. Felix Hutagalung Telah Tidur Selamanya

Ir. Felix Hutagalung dan Logonya
Bpk. Ir. Felix Hutagalung lahir di Surabaya, 20 Desember 1965 dan tutup usia pada tanggal 15 Desember 2013, dini hari pukul. 01:27 WIB di RS. Siloam MRCCCN Semanggi.

Disemayangkan di rumah duka, Jl. Bajubang, No. 12, Kompleks Pertamina, Jakarta Timur.

Ibadah tutup peti dan dikebumikan pada hari Selasa, 17 Desember 2013 di TPU Pondok Kelapa Jakarta Timur.

Sungguh tidak kita duga, bahwa salah satu Admin dari Halaman  dan Grup Hutagalung telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Dan telah banyak berjasa untuk mengembangkan grup.

Istri : Ira Miranda, klik fbnya : Ira Miranda.

Kiranya Tuhan memberkati dan memberi ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Amin.

Karya-karyanya :

Klik untuk memperbesar
 
Klik untuk memperberbesar - Editor B. Marada Hutagalung
Karya-karyanya yang lain bisa dilihat di fbnya : klik Felix Hutagalung.

SELAMAT JALAN BUAT BELIAU!

Jumat, 14 Desember 2012

Profil Singkat Sanggam Hutagalung sang calon Bupati Tapanuli Utara

Sanggam Hutagalung


Sanggam Hutagalung lahir di Tarutung, 26 Pebruari 1958 adalah merupakan salah satu yang ikut mencalonkan diri menjadi Bupati Tapanuli Utara pada periode 2014-2018 nanti dengan motto "Kubangun Desaku, Kubangun Bonapasogitku."


Keluarga :
Kakek (Ompung) : St. Balameha Hutagalung (Alm.)/ Theresia br. Hutabarat (Alm.)

Orang tua, Ayah : Oliver S. P. Hutagalung (Alm.)
Orang tua, Ibu : Dermawan Br. Sitompul (Alm.)

Istri : Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, SE, M.Si

Anak/Menantu :
1. Immanuel B. P. Hutagalung / Elisabeth N. Br Ambarita, SH
2. Arga J. P. Hutagalung, SH / Melysa Y. N. Br. Lumbantobing, SH
3. Naomi Karina Br Hutagalung


Riwayat Jabatan :
1. Tahun 1986 : Pelaksana Kepala Seksi IPEDA pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah,
2. Tahun 1987 : Kepala Seksi IPEDA pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon IV B),
3. Tahun 1989 : Kepala Bagian Umum pada Setwilda Tk. Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon IV A),
4. Tahun 1991 : Kepala Bagian Perekonomian pada Setwilda Tk. II Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon IV A),
5. Tahun 1992 : Kepala Dinas Pendapatan Tk. II Setwilda Tk. II Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon III B),
6. Tahun 2001 : Ketua BAPPEDA Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon III A),
7. Tahun 2002 : Sekretaris BAPPEDA Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon III A),
7. Tahun 2002 : Kepala BAPPEDA Kabupaten Tapanuli Utara (Eselon II B),
8. Tahun 2004 : Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara (Eselon II A),
9. Bulan Juli 2012 : Staf pada Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara.

Beliau masih merupakan Ketua Punguan si Raja Hutagalung se-Kabupaten Tapanuli Utara, dan merupakan Hutagalung generasi No. 15, Keturunan Miralopak - Datu Harean - Datu Nalimuton - Radja Ulang.


Jika ada kesalahan dan menyampaikan info ini mohon saran yang membangun. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Horas!

Rabu, 05 Desember 2012

Weshley Hutagalung, Sang Pengamat dan Wartawan Bola

Diambil dan diedit dari Facebook Weshley Hutagalung Full.

Weshley Hutagalung, Sang Pengamat dan Wartawan Bola

Ternyata ada juga marga Hutagalung, yang menjadi Pengamat Sepak Bola sekaligus Wartawan dari Tabloid Bola. Tentu pasti banyak kita yang sudah mengenalnya, terutama para pecinta bola.

Weshley Hutagalung lahir pada tanggal 04 Juli 1971, istri bernama Indira C. Pareira - klik facebook Indira http://www.facebook.com/indira.pareira, dan Weshley memiliki satu putra (Ruben) dan satu putri (Gwendolyne).

Daftar linknya :
Twitter : https://twitter.com/weshley atau @weshley
Office site : http://bolanews.com

Weshley telah banyak membawakan acara tentang olahraga Bola dan juga telah banyak menulis berita tentang bola internasional.

Beberapa Video Youtube tentang Pengamatan Weshley tentang Bola yang diposting oleh Bolanews di youtube - http://www.youtube.com/user/bolanewsdotcom










Data dirangkum langsung oleh Admin HC dari berbagai sumber. ***

Elieser S.M. Hutagalung, Wakajati NTT dan Pecinta Catur

Diedit dari Pos-Kupang.com

Siapakah Elieser S.M. Hutagalung? Beliau lahir pada tanggal 9 April 1958 adalah Wakil Ketua Kejaksaan Tinggi Propinsi Nusa Tenggara Timur (menjabat 29 Mei 2013), yang ternyata adalah Pecinta olahraga Catur, dan pernah mensponsori Tokoh Pecatur Indonesia yang juga bermarga Hutagalung, yakni almarhum Baris Hutagalung, dan sudah pernah diposting di blog ini (lihat dan klik di Baris Hutagalung Pemain Catur Terbaik Indonesia).

Berikut mari kita simak kisah hubungan ESM Hutagalung dengan catur yang diwawancarai oleh Wartawan Pos Kupang.

ESM Hutagalung: Catur Istri Saya

Tak kenal maka tak sayang. Namun setelah mengenalnya, ternyata sosok yang satu ini sangat familiar dan tak asing di NTT. Pasalnya, ia meniti karier dan jalan hidupnya dari nol di Kota Kupang dari golongan I-B (PNS setara SMA). Namun saat ini ketika dia kembali ke Kupang telah menyandang bintang emas di bahunya dengan jabatan sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Nusa Tenggara Timur.

Itulah figur ESM Hutagalung, SH. Wakajati NTT, E Hutagalung diwawancarai Pos Kupang di Kantor Kajati NTT, Jalan El Tari Kupang, Kamis (8/11/2012) terkait dirinya selaku pihak yang mensponsori Kejuaraan Catur Baris Hutagalung Memorial Cup tahun 2012 berhadiah total Rp 47 juta.

Figur yang rendah hati dengan kepribadian bersahaya ini secara gamblang menceritakan seluruh titian perjalanan hidupnya yang dimulai dari nol di Kota Kupang sebagai staf tata usaha/TU di Kejari Kupang tahun 1980.

"Saya ke Kupang tahun 1979 diajakan Kajati NTT untuk bantu membangun gereja. Lalu saya honor di Kejari Kupang. Namun karena hidup saya  mendahulukan  Tuhan dalam segala hal maka hidup saya pun diberkati susai janjiNya," kata Hutagalung

Di Kota Kupang, pak Hutagalung pun mendapat jodoh putri asal Rote yang berdomisili di Kelurahan Batuplat, Kota Kupang. "Jadi mertua dan keluarga istri saya semuanya berada di Kupang. Saya ini juga sebenarnya orang Kupang karena saya membangun karir dari Kupang Kota KASIH," cerita suami Agustina Boru Panggabean-Ndolu.

Hutagalung mengaku dirinya seorang pecinta (pegila) catur sejati. "Istri pertama saya adalah catur, dan istri kedua berada di rumah. Karena catur sudah ikut membesarkan saya. Dan saya 20 tahun lebih mengikuti berbagai kejuaraan baru bisa meraih gelar master nasional," kata pria berusia 54 tahun yang punya gelar master nasional di olahraga catur ini.

Hutagalung pun menceritakan jika dirinya selama berkarier di lingkungan Kejari Kupang 23 tahun silam, dia telah lima kali mewakili/membawa nama NTT disejumlah even kejuaraan nasional catur diantaranya Kejurnas Catur/Pra PON di Palu tahun 1987, Kejurnas catur di Mataram, kejuaraan catur di Jakarta dan di Kota Salatiga dan semuanya ia selalu tampil sebagai juara.

"Karena itu, saat saat saya dipercayakan kembali mengabdi di NTT sebagai Wakajati, saya harus  memberikan sesuatu untuk NTT khususnya abor catur  karena saya sudah ikut merasakan pembiayaan dana dari KONI NTT 23 tahun silam. Sekarang saya kembali dan mensponsori pelaksanaan Kejuaraan Catur Baris Hutagalung Memorial Cup 2012 di Kupang. Almarhum Baris Hutagalung adalah juara catur pertama Indonesia tahun 1956. Almarhum adalah bapak kecil saya, dan saya pewaris dan pegila catur mengikuti jejak  almarhum Baris Hutagalung, MN. Dan kejuaraan catur ini sudah saya rencanakan sejak lama, namun baru kali ini bisa digelar saat  di Kota Kupang dan ketika saya dipercayakan pimpinan sebagai Wakajati NTT," kata pria yang  pernah menggelar even kejuaraan catur  pada HUT ke-50 adyaksa (kejaksaan) di Kejati Jatim  diikuti 17 Kejati se- Indonesia.

Hutagalung pun berbicara banyak tentang catur dan banyak cerita menarik meluncur  dari mulutnya. "Saya masih golongan satu hidup susah di Kota Kupang karena gaji Rp 15.700. Untuk mencari tambahan, catur salah satu andalan yang bisa menambah kocek guna menopang hidup keluarga," urai Hutagalung dengan mimik muka yang selalu tersenyum ceria. (ferry ndoen)

Sumber :

Jefri Amas Hutagalung, Sang Pengusaha Jambi Berbicara

Sumber Gambar dari Metro Jambi (Diedit Admin HC)


Jefri Amas Hutagalung adalah seorang pengusaha sukses yang berdomisili di Jambi, sekaligus Ketua BPD HIPMI Provinsi Jambi, dan beliau berbicara tentang Permodalan Memulai Usaha, beliau diisukan ikut mencalokan sebagai Walikota Jambi.

Permodalan Bukan Masalah Utama Dalam Memulai Usaha

Muda, berpengaruh, sukses dan banyak usaha, setidaknya itulah yang tergambar dari sosok seorang Jefri Amas Hutagalung SE, MM, MH. Anak seorang dokter yang memilih jalan hidup sebagai pebisnis ini ternyata juga memulai karirnya dengan kerja keras dan merintis dari bawah dengan berjualan handphone bekas dan pulsa di Kota Bandung.

Kemudian berdagang pakaian dengan sahabat masa SMA yang jadi rekan usaha saat ini. Lalu beralih profesi sebagai karyawan dengan diterima sebagai petugas biasa di salah satu bank swasta di Jambi sebagai tukang antar bilyet untuk kliring antar bank. Dan akhirnya memulai usaha sendiri dengan jatuh bangun hingga ditipu teman sendiri yang sangat ia percaya. Lalu berhasil bangkit dengan niat yang teguh dan pantang menyerah hingga dapat mandiri dalam menjalankan usahanya hingga kini. "Insya Allah dengan ikhtiar, doa, niat, jujur dan kerja keras yang baik untuk mencari berkah dalam hidup maka kita akan dimudahkan dalam menjalani pelbagai rintangan," ucapnya.

Berikut petikan wawancara wartawan Posmetro Jambi Raden Surahman dengan Ketua BPD HIPMI Provinsi Jambi ini :

Bagaimana anda memulai bisnis?
Semua diawali dengan keinginan untuk benar-benar mandiri secara finansial dan tidak bergantung dengan keterbatasan yang ada. Saat itu saya bantu jual handphone milik toko tetangga dengan mendapat komisi seadanya.

Siapa yang mengajari anda berbisnis?
Pebisnis ada 3 tipe menurut saya. Pertama lahir sebagai pebisnis (karena faktor lingkungan keluarga), kedua belajar sebagai pebisnis (dengan menimba ilmu dan pendidikan yang baik di bidang tersebut) dan ketiga pebisnis nekat. Sepertinya saya tipe yang ketiga, bisnis karena berbagai keterbatasan yang ada dan belajar sambil menjalaninya.

Terkait permodalan sendiri bagaimana?
Saya dapat dari sedikit tabungan hasil gaji yang seadanya dan bantuan dari jaringan pertemanan yang terbina baik dalam keseharian. Tapi tidak dalam jumlah yang besar karena usaha awal saya juga tipe UMKM.

Saat ini apa saja bisnis anda? Ada berapa jumlahnya?
Tidak banyak, Alhamdulillah cukup untuk dijalankan dan dapat menumbuhkan kondisi dan situasi yang positif di setiap aspek dalam lingkungan kerja dan hidup saya.

Anda juga aktif di organisasi. Seperti apa membagi waktu antara bisnis dan organisasi?
Sebisa mungkin setiap saya pulang ke Jambi selalu menyempatkan diri untuk kembali sharing setiap informasi dan kegiatan sesuai dengan kegiatan masing-masing organisasi yang saya aktif di dalamnya.

Pengamatan anda, bagaimana peluang dan iklim usaha di Jambi? Apa saja peluangnya?
Peluangnya sangat luas hampir di tiap bidang perekonomian. Mulai dari UMKM, industri-industri rumah tangga, perkebunan, infrastruktur, jasa hingga wisata sebenarnya. Apalagi saat ini Pemprov dengan program Jambi Emasnya sangat positif mendorong dan menunjang setiap bentuk kegiatan perekonomian. Ini iklim yang sangat baik.

Mengapa orang Jambi sedikit yang berbisnis dibanding pendatang?
Sepertinya tidak sedikit, hanya saja mungkin sudah banyak yang sangat mapan. Sehingga tidak terlalu kelihatan karena lebih banyak usahanya sudah secara profesional dijalankan oleh sistem dari manajemen masing-masing perusahaannya, hingga tidak terlihat terjun langsung. Karena lebih banyak liburannya, gitu kali ya? Hehehe.. dan yang pasti lebih banyak yang berminat terjun ke dunia politik.

Sebagai ketua BPD HIPMI Jambi, apa program anda?
Di era saya sekarang, saya sudah membentuk program Jambi Entrepreneurship Forum melibatkan adik-adik mahasiswa yang tergabung di dalam Bakorda dan HIPMI PT (Perguruan Tinggi) sebagai bentuk ataupun wadah pengkaderan di HIPMI. Dan juga sebagai jaring untuk menarik minat kawan-kawan mahasiswa berwirausaha selepas kuliah. Bahkan ada yang sudah menjalani kegiatan usahanya sejak masih di bangku kuliah ini sejalan dengan program BPP HIPMI di era kepemimpinan Erwin Aksa hingga sekarang Raja Sapta Oktohari. Serta akan dijalankan juga Jambi Energi Forum yang akan bekerjasama dengan kementrian BUMN dan ESDM. Saat ini di Jambi sudah tergabung 5 perguruan tinggi dan akan terus bertambah.

Dalam pandangan anda, para pemuda Jambi seperti apa, apakah mereka punya jiwa entrepreneur?
Rata-rata sejatinya sudah berkarakter entrepreneur, tapi lebih banyak masih dalam posisi sebagai konsumen. Mungkin karena kurang informasi tentang baiknya dunia usaha. HIPMI mencoba ikut mengisi kekosongan tersebut.

Apa yang menjadi kendala bagi pemula untuk berbisnis?
Biasanya informasi adalah kendala utama dalam memulai tahapan usahanya dan darimana harus mulai melangkah. Terkadang permodalan juga tapi tidak selalu yang utama.

Pebisnis pemula biasanya terkendala masalah permodalan. Menurut anda, sebaiknya permodalan yang bagaimana dan skemanya seperti apa untuk mengatasi masalah ini?
Semua tergantung dari bentuk usahanya. Yang pasti dibutuhkan kesabaran, tidak terburu-buru langsung memaksakan diri untuk menjalani usaha yang besar. Saya juga alami itu.

Apakah permodalan di bank sudah gampang diakses oleh pebisnis pemula?
Terkadang prinsip kehati-hatian dari bank yang diterapkan juga jadi kendala ketika berhadapan dengan ide-ide usaha kreatif yang kenyataannya banyak yang berhasil dengan baik. Hanya saja pihak bank kadang belum melihat peluang tersebut dan pengusaha pemula juga terkendala dalam penyampaian proposal yang baik dan bankable.

Menurut anda, apakah perizinan menjadi kendala bagi pebisnis pemula?
Sejauh ini sudah cukup banyak perbaikan positif di berbagai bidang terkait perizinan usaha. Namun memang masih perlu pembenahan yang lebih baik dan terintegrasi agar waktu dalam memperoleh perizinan dapat ditempuh dengan lebih singkat lagi.

Apakah pemerintah sudah memberikan iklim usaha yang mendukung bagi pebisnis pemula khususnya pebisnis muda?
Sudah, namun harus lebih mendukung lagi.

Mengenai layanan birokrasi pemerintahan?
Seperti saya sampaikan tadi sebelumnya, sudah banyak perbaikan, tapi perlu pembenahan yang lebih serius lagi. Libatkan kami para pengusaha pemula untuk dengarkan kendala-kendala yang kami hadapi di lapangan. Mungkin dengan diskusi santai atau semiformal yang lebih aktif dengan masyarakat di dunia usaha, jangan yang formal-formal, jenuh diskusinya di ruangan tertutup..hehehe...

Lalu soal dunia suap dan korupsi di kalangan pebisnis, apakah tanpa suap dan kolusi bisnis susah berkembang?
Kalau usaha harus dengan suap dan korupsi, bagaimana sahabat saya yang seorang pengusaha brownies "Tela Cake" dari bahan singkong dan umbi-umbian dapat berhasil hingga memiliki omset miliaran perbulannya? Jadi tidak benar kalau dikatakan tanpa suap dan kolusi bisnis susah berkembang. Mungkin hanya segelintir atau oknum saja yang seperti itu.

Terakhir, bagaimana dengan isu yang berkembang bahwa anda ingin ikut maju dalam meramaikan Pemilukada Kota Jambi?
Hehehehehehe......(hanya tertawa kecil itu saja jawabannya). ***

Sumber :
Metro Jambi Edisi Minggu, 16 September 2012 (Digital).

Jumat, 09 November 2012

Sutan Manahara Hutagalung Sang Theologi Indonesia

Sutan Manahara Hutagalung Sang Theologi Indonesia

Sutan M. Hutagalung atau Sutan Oloan Manahara Hutagalung (lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, 20 Agustus 1922 – meninggal 5 Maret 2006 pada umur 83 tahun) adalah seorang teolog Indonesia, yang juga seorang penulis buku.

Sutan menyelesaikan sarjananya di STT Jakarta tahun 1953. Kemudian melanjutkan studi ke Yale Divinity School, New Haven, Amerika Serikat dan memperoleh gelar PhD dalam ilmu agama (1958).

Beliau adalah Guru Besar Teologi Universitas Nommensen (1959-1966), Dekan FKIP Nommensen (1962-1965), lalu menjabat wakil pimpinan GKPI (1964-1966) dan Sekjen GKPI (1966-1977; 1983-1988). Dan juga menjadi Profesor peneliti pada Institut Oikumene di Strasbourg, Prancis, 1977-1982. Sepulang dari Prancis terpilih kembali menjadi Sekjen GKPI (1983-1988) setelah pensiun menjadi profesor di STT HKBP Pematang Siantar.

Sekilas Video Ny. DR. Sutan M. Hutagalung - Sejarah GKPI

Mangasa Sotarduga Hutagalung Sang Sastrawan dan Kritikus


Mangasa Sotarduga Hutagalung Sang Sastrawan dan Kritikus

Mangasa Sotarduga Hutagalung atau lebih umum disebut M. S. Hutagalung adalah merupakan seorang tokoh Batak sastrawan Indonesia dan seorang Kritikus yang handal.

A. Profil Singkat

M. S. Hutagalung atau nama lengkapnya Mangasa Sotarduga Hutagalung lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, 8 Desember 1937.

Ia bersekolah di SD dan SMP Negeri Tarutung. Melanjutkan ke SMA Medan (SMA Negeri I).

Sejak di SMP sudah rajin menulis terutama didorong oleh gurunya, Diapari Simanungkalit. Ia beberapa kali memenangkan sayembara menulis. Mula-mula menulis sajak dan cerpen yang disiarkan oleh RRI Medan. Setelah kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, kegiatannya lebih banyak menulis kritik dan esai karena gurunya, H. B. Jasin, melihat kekuatannya di bidang ini. Banyak kritik dan esainya dimuat di majalah yang terbit di Jakarta dan harian di Medan.

Bukunya yang telah terbit antara lain: Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis, Tanggapan Dunia Asrul Sani, Telaah Puisi (Penerbit TULILA, 1989), Memahami dan Menikmati Puisi, Novelet Hari Penentuan, Permata Kehidupan-Sajak-sajak Lansia (Penerbit Tulodong, 2007) dan ratusan kritik dan esai.

Pernah belajar di Universitas Leiden, Belanda (1972-1974), dan mengajar Kritik Sastra di Universiti Sains Malaysia (USM), Penang, Malaysia selama 7 tahun (1977-1984).

Sejak di awal usia 30, ia sudah sangat aktif membangun GKPI Rawamangun dan ditahbiskan menjadi penatua pada tanggal 31 Desember 1967. Di GKPI pulalah ia mencurahkan banyak perhatian dan melibatkan diri dalam setiap geraknya, pernah menjabat sebagai Guru Jemaat selama 5 kali. Di usia 66 tahun ia menjalani emeritus.

Setelah lansia, karena terkena penyakit glukoma (glaucoma) pada matanya dan menjalani dialysis ginjal, M.S. Hutagalung lebih banyak mencurahkan waktunya menulis tulisan pendek di Buletin Minggu GKPI Rawamangun. Ia termasuk perintis terbitnya buletin ini. Sejak Februari 2007 ia sudah sulit hadir di kegiatan dan kebaktian gereja karena keterbatasannya dalam bergerak, namun MS Hutagalung tetap rajin mengirimkan tulisan pendek dan sajaknya untuk dimuat di Buletin Minggu GKPI Rawamangun. Alamat tinggal saat ini adalah di Jalan Pemuda Asli II No.23 Rawamangun, Jakarta.



B. Sastrawan M. S. Hutagalung

Kritikus Mangasa Sotarduga Hutagalung yang dikenal sebagai pentolan Aliran Rawamangun dalam jagat kritik sastra Indonesia meninggal dunia hari Senin (23/11) dalam usia 71 tahun setelah beberapa bulan menderita penyakit ginjal.

Lama menghilang dari percakapan puisi mutakhir Indonesia, pensiunan dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu dikenal sebagai kritikus andal yang pertama dari kalangan akademisi. Namanya mencuat sejak pertengahan 1960-an hingga awal 1970-an oleh ulasan-ulasan sastranya yang diterbitkan dalam bentuk buku serta artikel di majalah dan koran. Sebelum kepada M. S. Hutagalung yang memperkenalkan metode struktural dalam teori kritik sastra, predikat kritikus sastra ditujukan kepada HB Jassin.

Jenazah disemayamkan di kediaman keluarga di Jalan Pemuda Asli, Rawamangun, Jakarta Timur. Menurut keterangan kerabatnya, Henry Sinaga, pemakaman akan diselenggarakan Rabu sore ini. Sebelumnya, pada pagi hari akan diadakan acara adat saur matua di rumah duka, dan siang hari jenazah akan dibawa ke Gereja GKPI, Jalan Belanak, Rawamangun, untuk kebaktian pemberangkatan ke tempat peristirahatan sementara.

MS Hutagalung pernah bikin heboh kalangan sastrawan setelah ceramahnya di Fakultas Sastra UI (waktu itu berlokasi di bilangan Rawamangun) pada 24 November 1973. Waktu itu ia mengumumkan bahwa penyair Indonesia terkemuka waktu itu adalah Subagio Sastrowardoyo, baru menyusul kemudian Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan WS Rendra. Pengumuman ini bikin naik pitam penyanjung W. S. Rendra di satu pihak dan pemuja Sutardji Calzoum Bachri di pihak lain. Digelarlah acara ”Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir” di Bandung, 8 September 1974, yang antara lain diprakarsai Slamet Kirnanto. Sebagaimana tabiatnya yang tenang adem ayem, M. S. Hutagalung saat itu menanggapi kepanasan hati sastrawan di seberangnya dengan, ”Saya sendiri merasa gembira bila banyak pengarang yang kurang senang pada kritik saya, sebab hal ini menunjukkan bahwa kritik-kritik yang saya buat sebenarnya masih cukup kritis sebagai persyaratan yang harus dalam kritik” (Pengadilan Puisi, suntingan Pamusuk Eneste, 1986).

Sesungguhnya MS Hutagalung tidak pernah bercerai dengan sastra. Paling tidak dalam sepuluh tahun terakhir ini dia giat mendorong fragmen teater, pembacaan puisi, dan penulisan artikel di gerejanya, GKPI Rawamangun, tempat ia menjadi penatua dan dua periode sebagai guru jemaat. Bahkan, dalam satu tahun terakhir ini ia rutin menerbitkan puisi-puisi barunya yang lebih transendental di Buletin GKPI Rawamangun, media mingguan di jemaatnya.

M. S. Hutagalung kelahiran Tarutung, 8 Desember 1937, itu meninggalkan seorang istri, Aksamery br Lumbantobing, tiga anak, empat menantu, dan dua cucu. Putra keduanya, Gumilang Hutagalung, meninggal pada 26 Desember 2004. 
Karyanya antara lain Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1963), Tanggapan Dunia Asrul Sani (1967), Hari Penentuan (1967), Memahami dan Menikmati Puisi (1971), Telaah Puisi (1973), dan Kritik Atas Kritik Atas Kritik (1975).

(Dikronik dari Harian Kompas 25 November 2009)


C. Kehidupan adalah Jantung dari Sastra
Oleh : Hotma D. L. Tobing

Mungkin generasi muda sekarang ini tidak banyak yang kenal dengan Mangasa Sotarduga Hutagalung. Beliau adalah M. S. Hutagalung pengarang buku sastra dan kritikus sastra. MS Hutagalung telah banyak memakan asam garam ikhwal sastra di Indonesia. 
Di masa mudanya di tahun 60-an, Hutagalung banyak menulis tentang kritik sastra terhadap siapa gitu. Ratusan kritik dan esai sastra yang telah ditulis dan dimuat di buku antologi sastra.

Pada tahun 1971 -1973 pernah belajar Fakultas Sastra Universitas Leiden dalam program Leiden, studi Pasca Sarjana dalam bidang linguistik Terkenal di kalangan masyarakat kesusasteraan Indonesia sebagai seorang ahli sastra yang telah banyak menulis buku tentang kesusasteraan ; banyak menulis artikel sastra dalam majalah dan suratkabar ibukota, banyak membawakan kerja keras dalam seminar-seminar sastra. Ia juga pernah duduk dalam Komisi bahasa Indonesia yang bertugas membantu penyusunan “Alkitab Terjemahan Baru”.

Tak kurang kurang dari 10 bukunya yang telah diterbitkan antara lain: Tanggapan Jalan tak ada Ujung  Muchtar Lubis (Gunung Agung, cet. 2,1963), Tanggapan Dunia Asrul Sani ( Gunung Agung,1967 ), Hari Penentuan (BPK Gunung Mulia,1967), Memahami dan Menikmati Puisi (BPK Gunung Mulia 1971 ; mendapat penghargaan dari Departmen Pemuda ), Telaah Puisi (BPK Gunung Mulia 1973), Kritik atas Kritik atas Kritik (Tulila, 1975 ), Membina Kesusasteraan Indonesia Modern (Corpatarin utama 1988), Telaah Puisi Penyair Angkatan Baru (Tulila, 1989). Dalam buku ini termuat pembicaraannya tentang hampir semua penyair utama di Indonesia (Angkatan Baru ), mulai dari Toto Sudarto Bachtiar, Ajib Rosidi, Subagio Sastrowardoyo, Gunawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Popy M.Hutagalung, Fridolin Ukur dan lain-lain.

Kemudian di tahun-tahun yang lalu buku yang terbit adalah Perjalanan 40 tahun GKPI Jemaat Rawamangun bersaksi, PENATUA, Tugas dan Syarat, Menumbuh Kembangkan Jemaat (Kolportase GKPI Rawamangun, 2006). 
Pada mulanya MS menulis sajak dan cerpen dan disiarkan oleh RRI Medan. Setelah tamat dari Universitas Indonesia puluhan bukunya telah diterbitkan. Ratusan kritik dan esainya tersebar di koran dan majalah. M. S Hutagalung lahir di Tarutung, Sumut 8 Desember 1937, lulus tahun 1964 pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mengajar pada fakultas yang sama dengan mata kuliah kesusasteraan Indonesia. Pada tahun 1984 bertugas di Universitas Sains di Penang -Malaysia sebagai dosen tamu. Dia sempat mengenyam pendidikan S2 di Leiden bahkan selama 7 tahun mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Sains Penang, Malaysia. Sebelum pensiun, dia juga mengajar bahasa Indonesia Sastra Indonesia di Universitas Kristen Indonesia, Universitas Nasional, STT Jakarta dan STT Cipanas.


Puisi Penting, Tetapi Tak Laku

Dua puluh tahun lalu dia pernah berkomentar dalam bukunya Telaah puisi Penyair Angkatan Baru, dan itu juga yang diulanginya ketika saya bertemu dengannya dua bulan lalu di rumahnya bilangan Pemuda Asli, Rawamangun, Jakarta Timur : Saya heran kalau dikatakan bahwa puisi dirasakan penting, tetapi mengapa tidak laku? Disamping yang mendewa-dewakan atau memistik-mistikkan puisi atau sastra, tidak kurang juga banyaknya orang-orang yang melecehkan arti puisi. Bagi mereka puisi itu adalah ciptaan orang-orang yang suka melamun dan hanya berguna untuk orang-orang yang melamun juga. Sajak-sajak yang berserakan di mana-mana dan sajak cengeng dan seenaknya seakan memperkuat alasan mereka bahwa sajak sebenarnya adalah hasil pekerjaan orang-orang iseng yang mempermainkan kata-kata.

Kita harus mengakui bahwa zaman kita bukanlah zaman seni, tetapi zaman ilmu, tekonologi, ekonomi dan lain-lain. Tetapi zaman ini pulalah mulai terbukti bahwa apa yang telah agak lama dikahawatirkan orang-orang bijak: merosotnya nilai-nilai kemanusiaan. Tidak kurang dari seorang Menteri Agama kita sendiri berkata bahwa hidup tanpa seni adalah kekasaran. Memang untuk dapat melihat makna sesuatu untuk kehidupan, kita perlu mencoba membayangkan hidup kita tanpa seni. Sebab sesuatu itu mungkin tidak kita sadari lagi maknanya, karena sudah terlalu biasa seperti “udara”. Saya kira memang banyak orang yang sudah tak dapat hidup lagi tanpa musik kesayangannya, tanpa buku sastra, tanpa tari. Tapi tanpa sajak atau puisi? Sangat mengerikan. Anak-anak sekarang kita tidak lagi menyanyikan tentang Pelangi atau Bintang kecilnya Ibu Sud. Dapatkan dibayangkan, kebaktian di gereja akan hambar dan pembicaraan di pesta adat dan antara kita mungkin menjadi kurang semarak dan membosankan, karena tidak diselingi lagi oleh pepatah-petitih atau gaya khas yang kita pergunakan. Pada zaman ini hati kita semakin kebal. Rasa ibahati, belas kasihan, pengorbanan semakin hilang.

Di samping merangsang kepekaan kita pada keindahan, kesenian dan terutama sastra juga selalu merangsang hati kita terhadap kemanusiaan, kehidupan bahkan kepada alam sekeliling. Kehidupan memang adalah jantung dari sastra. Sastra merangsang kita untuk lebih memahami, menghayati kehidupan. Sastra bukan merumuskan dan mengabstraksikan kehidupan kepada kita, tetapi menampilkannya, mengkonkretkannya.


Meski Sakit di Usia Senja, Karya Tetap Eksis

Karena selama menjelang pensiun MS Hutagalung banyak berkiprah di llingkungan gereja, puisinya banyak becerminkan tentang hidup dan kehidupan yang menjadi renungan yang mendalam kepada yang membacanya. M.S. Hutagalung menempatkan masa lalu dengan optimisme yang penuh semangat. Harus diakui bahwa Hutagalung kini tidak lagi secara cermat mengikuti perjalanan kritik sastra Indonesia, karena matanya sudah rabun. Bahkan kini ia tengah bergulat dengan alat pencuci darah yang terpaksa dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Cairan harus segera dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. “Kita jalani sajalah dengan penuh syukur, apa yang terjadi kini”, kata Aksa Mary Tobing, belahan jiwanya yang setia mendampinginya.



Permata Kehidupan

Dua bulan lalu bersama Astar Siregar teman mahasiswa dan teman seasramanya di Daksinapati, Rawamangun, telah menerbitkan sebuah buku. Di dalam buku antologi puisi berjudul: Permata Kehidupan, Sajak-sajak Lansia bersampul luks ini, MS Hutagalung yang genap berusia 71 tahun 8 desember 2007 ini, menulis 31 judul sajak yang ditulis selama tahun 2007. Maka lahirlah perenungan di dalam relung-relung hati yang amat dalam.

Coba kita simak dalam puisinya berjudul Aku ingin menari seperti daun gugur: Aku ingin seperti daun itu/menarikan tarian yang paling indah/ Atau menyanyikan sebauah lagu paling merdu/Sebelum jasadku kembali bersatu dengan tanah/ Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemberi Hidup atau “Aku Bergegas dan Tersandung”: yang dengan sederhana tetapi sedemikian rupa sanggup menohok kecendrungan manusiawi dan kefanaan kita. Kemudian kita lihat lagi karyanya dalam judul lain seperti “Kunjungan bunda, Cinta terpendam, Sajak untuk isteriku, Menempuh tahun 2007 dengan merangkak”dan lain-lain. Karyanya seperti berbicara langsung dengan Tuhannya : mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya.


Riris dan Maman Berkomentar

“Kumpulan sajak Permata Kehidupan yang ditulis oleh dua sahabat yang kebetulan pada masa produktifnya adalah pengajar di Universitas Indonesia, bukan hanya memberi pengalaman dan pengetahuan pada pembacanya, tetapi juga sekaligus dapat memberi kelegaan pada penulisnya.” kata  Prof. Riris K Toha Sarumpaet, Ph.D dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Membaca sajak-sajak yang longgar namun sungguh dan tulus ciptaan M.S. Hutagalung ibarat membuku buku harian, atau laporan sederhana yang berkisah tentang misalnya dan lain-lain. Seperti berbicara langsung dengan Tuhannya, mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya, sang penyair berkata, “Seperti cuaca musim pancaroba/setiap saat bisa berubah, kalau menghadapi yang begini/Aku ingin kembali ke kelas katekisasi.” Penyesalan, pengakuan, dan penerimaan hidup secara berulang berkelebat dalam sajak sajak M.S. Hutagalung seperti tampak pada sajaknya “Permata dan Kerikil” atau “Ingin Jadi Orang Berhidmat dan lain-lain.” Mesin pencuci darah telah melahirkan pesimisme dalam menatap masa depan. Sesuatu yang sangat manusiawi. Segalanya habis. Tetapi kemudian, spirit istri, doa kerabat dan keteguhan iman, memberi penyadaran, bahwa itulah kehendakNya. Maka dengan kehendak-Nya pula, di depan terhampar kemenangan ; optimisme untuk bertahan, bercinta dengan gereja dan jemaatnya, dan bertegur sapa dengan manusia dan kemanusiaan.

Di hiruk pikuk kemajuan dan keblinger manusia, tidakkah mengucapkan serupa ini merupakan pengucapan yang sangat pedih dan dengan cara sederhana sekalipun, mengingatkan dan mendidik kita akan harga sebuah kehidupan? Dengan cara inilah sajak menyapa manusia, dan dengan cara serupa pula penyair melepaskan risau dan gelisahnya, karena tahu dengan komunikasi ini, ia telah mengatakan dan menyuratkan bahkan berbuat sesuatu.

“Renungan tentang masa lalu yang mendominasi puisi M. S. Hutagalung dan tanggapan evaluatif atas kondisi masa kini kerap disampaikan, menjadikan antologi puisi ini seperti menawarkan dua semangat yang berorientasi pada dua masa yang berbeda”, kata Maman S. Mahayana M.Hum, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.” M. S. Hutagalung mencoba menghubungkan masa kini sebagai alat refleksi mengembalikan masa lalu sebagai renungan kontemplatif.

Sementara itu Astar Siregar menempatkan masa kini sebagai alat untuk memaknai posisi kekiniannya sebagai mahluk sosial. Ia begitu perduli pada problem sosial yang seperti memaksanya harus ikut menyuarakan kegelisahannya. Maka ia mencoba memberi penyadaran, betapa pentingnya menatap masa depan dengan gairah cinta kasih dan toleransi” Semangat kesetaraan dan pengagungan yang sejajar pada sesama umat beragama dan sesama manusia, tidak hanya memancarkan élan multikulturalisme dalam lingkup keindonesiaan, tetapi juga diyakini dapat membawa negeri ini pada dua kata kunci : damai dan sejahtera.

Dua minggu lalu, ketika saya besuk di RS. Cikini, penyakitnya semakin berat. M.S. Hutagalung tampak lemah. Wajahnya pucat pasi. Ketika tulisan ini dibuat, Beliau masih tetap dirawat meskipun sudah diijinkan pulang ke rumahnya di bilangan Rawamangun. Cairan infus harus selalu dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. Kiranya Tuhan senantiasa campur tangan dengan kehidupannya kini.


Facebook yang dikelola oleh keluarganya : http://www.facebook.com/mangasasotarduga.hutagalung

Refrensi :
- www.kabarindonesia.com
- Mangasa Sotarduga Hutagalung
- Harian Kompas 25 November 2009
- Berbagai sumber.

Minggu, 04 November 2012

Sekilas tentang Guido Firdaus Hutagalung (Gido) di Indonesian Idol ke-5




Sekilas tentang Guido Firdaus Hutagalung (Gido) di Indonesian Idol ke-5

Guido Firdaus Hutagalung, biasa disapa “Gido”, Anak Siantar yang sedang bertarung dengan para kontestan Indonesian Idol se-Tanah Air yang saat itu masuk 24 besar, berharap dapat menjadi yang terbaik.

Gido yang lahir di Medan, 12 Pebruari 1984 mempunyai bakat bernyanyi sejak kecil dan beragam bakat seperti MC dan paduan suara, serta aktif di group band. Ia telah beberapa kali menjuarai ajang perlombaan semacam "Indonesian Idol" di Kota Pematang Siantar.

Sebagai Anak Siantar Gido tentunya sangat bangga bisa terpilih dan masuk ke dalam 24 besar di ajang bergengsi ini bersaing dengan ribuan peserta dari penjuru tanah air. Gido yang terlahir dari keluarga yang sederhana, semenjak ditinggalkan oleh Ayah tercintanya untuk selama-lamanya harus pontang-panting untuk membantu kehidupan keluarganya. Bahkan Sempat Guido hampir gagal mengikuti Audisi di Medan karena hingga detik-detik terakhir, ia masih belum mampu mengumpulkan ongkos untuk berangkat dari Pematang Siantar. Untungnya di hari Minggu ia mendapat pekerjaan menjadi MC di sebuah plaza. Hari kedua Audisi diadakan, Guido berangkat berbekal uang hasil jerih payahnya kemarin.

Apa hendak dikata, pada tanggal 26 April 2008 ia harus tereliminasi dengan menyanyikan lagu Dewa19 - Cemburu. Semoga Gido jaya pada sesi lain. Tetaplah semangat!

Video Gido Idol


Sumber :
- http://edyjharto.blogspot.com/
- Wikiperdia.org
- dan lain-lain.

Facebook Guido Firdaus Hutagalung : http://www.facebook.com/guido.firdaushutagalung

Horas!

Jumat, 02 November 2012

Berita tentang Martin Parasian Hutagalung dan Indonesia Mencari Bakat


Tahun 2010 yang lalu Martin Parasian Hutagalung mengikuti Audisi IMB dan lolos di IMB II.

A. Martin Parasian Hutagalung, Anak Tarutung Lolos IMB II

Tarutung – Martin Parasian Hutagalung, salahseorang putra Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), lolos masuk dalam program Indonesia Mencari Bakat (IMB) II yang disiarkan Trans TV, Minggu (7/11) kemarin.

Namanya tidak asing lagi di Kota Tarutung. Martin lahir di Tartutung pada tanggal 19 Maret 1987 silam merupakan anak bungsu dari enam bersaudara pasangan S Hutagalung (56) dan M br Samosir (66) yang tinggal di Jalan Simpang Hutabaginda Tarutung. Kedua orangtuanya sebagai petani. M br Samosir, ibu Martin kepada wartawan, Selasa (9/11) mengatakan, saat mendengar anaknya menyanyi di salahsatu stasiun televisi dalam acara IMB II, dirinya sangat bangga. “Semoga kedepan anak saya tetap lolos dan membawa nama baik Kabupaten Taput juga keluarga,” harapnya.

Lebih lanjut br Samosir menjelaskan, semasa kecil, Martin sangat hobby menyanyi dan main gitar. Kadang saat mau kerja ke lading sesudah pulang sekolah, ia terlebih dahulu main gitar dan menyanyi, bahkan menyanyi telah menjadi salahsatu kebiasaanya.

Sementara itu, Saut P Hutagalung, kakak nomor tiga Martin menyambungkan, adiknya salahseorang yang berjiwa mandiri. Selama ia sekolah di salahsatu Universitas di Medan,  tidak pernah minta uang kuliah dari kedua orangtuanya.

Martin adalah tamanatan SMA HKBP 2 Tarutung tahun 2005 lalu. Kemudian ia berangkat ke Kota Medan untuk kuliah. Setibanya di sana, ia tidak pernah minta uang kuliah kepada kedua orangtua kami.

“Saat libur, saya bersama kedua orangtua menanyakkan bagaimana dengan uang kuliahnya, namun ia selalu menjawab, nungga be umak, asal ma sehat hamu ngahugarar posma roham (artinya tenang saja mamak dan bapak, uang kuliahku sudah aku bayar, asalkan mamak dan bapak sehat-sehat),” ujarnya kepada kami.

Sekitar dua bulan kemudian, setelah ia melanjutkan kuliahnya di Medan pada tahun 2006, kami mendengar berita dari teman-temanya yang juga kuliah di Medan, bahwa Martin juga berpropesi sebagai pengamen untuk mencukupi uang kuliahnya serta biaya hidupnya. “Bapak dan mamak hanya pasra kepada Yang Kuasa, semoga adik saya diberi ketabahan,” ujarnya.

Mengenai prestasinya di sekolah, mulai SD sampai SMA, Martin hanya di peringkat 10 besar di kelasnya. “Kami mengetahui bahwa adik saya masuk ke Indonesia Mencari Bakat adalah dari pengakuanya sendiri. Dan saat itu ia mengatakan, doakan biar saya lolos di program IMB II. Kami sangat senang mendengarkan hal tersebut, semoga ia berhasil mampu membawa nama baik Kabupaten Taput, serta nama baik keluarga,” harapnya.

Mendegar hal tersebut, P Hutabarat (34), salahseorang warga Tarutung mengatakan, ini salahsatu kebanggan dan menunjukan putra Taput bukan mampu nyanyi di warung tuak. “Mari kita dukung dia lewat SMS. Jika kita kompak memberikan dukungan kepadanya, saya yakin ia akan lolos ke babak selanjutnya,” pungkasnya. (Metro/rih)


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -



B. Bupati Taput Dukung Martin P Hutagalung di IMB II

Tarutung - Bupati Tapanuli Utara (Taput), Torang Lumbantobing, mendukung perjuangan Martin Parasian Hutagalung pada ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB) II. Bentuk dukungan yang diberikan orang nomor satu di Taput itu, berupa doa dan ajakan kepada seluruh warga Taput untuk mengirim SMS sebanyak-banyaknya.

Demikian disampaikan kakak kandung Martin, Saut P Hutagalung, kepada wartawan, Kamis (25/11), melalui telepon selulernya.

Saut menambahkan, pihaknya senang dan bangga dengan dukungan bupati kepada adiknya, Martin yang disampaikan kepadanya kemarin pagi. “Intinya Bupati mendukung sepenuhnya perjuangan Martin pada ajang IMB II. Dan saya harap dukungan bupati bisa menjadi penyemangat untuk warga Sumatera Utara (Sumut) lainnya, khususnya warga Tarutung untuk mendukung Martin biarpun hanya dengan doa,” kata Saut.

Sebelumnya Saut menambahkan, ia dan keluarga terus berupaya melakukan promosi untuk menghimpun dukungan dari masyarakat. Di antaranya, berkunjung ke sekolah-sekolah dan minta dukungan melalui mulut ke mulut.

“Untuk memuluskan langkah Martin, saya berharap dengan kerendahan hati agar masyarakat Tapanuli berpartisipasi mendukung Martin. Caranya, ketik IMB spasi MARTIN kirim ke 9910, mulai sekarang. Maka dengan demikian, peluang Martin di IMB II semakin besar,” sebutnya. (Metro/rih)

Sumber : http://nababan.wordpress.com dan berbagai sumber.


Facebook Martin Parasian Hutagalung : http://www.facebook.com/martin.hutagalung.52

HORAS!

Senin, 29 Oktober 2012

Karal Hutagalung - The Legend of Sipoholon's Guitar

 Karal Hutagalung - Pembuat Gitar Sipoholon

Pernahkah Saudara/i mendengar Gitar Sipoholon? Mungkin ada yang pernah atau ada juga belum pernah. Jika ingin mengetahui tentang gitar sipoholon maka tidak terlepas dari sang Pembuat Gitar Sipoholon, yakni Karal Hutagalung.



A. Sejarah Ompu Pinondang Hutagalung ( Gomar Hutagalung - Sofia br Hutauruk )

Parjolo haroro ni oppung nami Omp. Sahata sian Hutagalung Harean ia Hutagalung nami Hutagalung Tuan Napitu, mangaratto ma oppung nami on tu Huta Lobu Sikkam jala mangalap boru Parapat sian Lumban Sijungkot jala sonduk hela ma disi jala anakna Sahata muse mangalap boru Hutauruk sian Hutabagasan dungi mangaratto ma tu Lobu Sikkam jala tinggalma disi hira ra piga taon, jala dung ra piga taon tinggal disi dang ra adong nani pinarorotna dungi marpanungkuni ma oppug nami tu halak namalo ahado manghalahi parjalanan ni oppung nami on binna tung songoni lelengna manarihan napinarorotna. Dung marpanungkun oppung nami on tung sahalak namalo dihutai roma hata ni namalo mandok na ikkon mulak ma oppung nami on tu huta ni hula-hulana Hutauruk di Hutauruk Parjulu (Hutabagasan) dung songoni hata ni namalo ai dirimang-rimangima di bagasan rohana dungi mulak ma halaki tutu tu hutani hula-hulana tu Hutabagasan. Dungi ngabe sonduk hela ma nasida di huta jala dungi tutu sada asi ni rohani Tuhanta Namartua Debata di lehon ma tutu sada dakdanak ima oppung nami Omp.Tumbur (Johan) udut ni tutu ngabe ma tutu oppung na mi on ngabe maranakon 4 (opat) baoa dohot 1 (sada) borua ima (Johan Hutagalung, Jamian Hutagalung, Muliater Hutagalung, Daria Hutagalung, Hilderia br Hutagalung, Karal Hutagalung).
Torkis Hutagalung dan Karal Hutagalung

Boima dison dipatorangkon songon ni ruas na tamba sian pomparan Ompung Gomar Hutagalung sahat tu saonari ima :

Parjolo :Johan Hutagalung mangalap boru sian Lumban Baringin I ma Dorkas br Hutauruk sian ni dilehon tuhanta ma 3 (tolu) baoa dohot 5 (lima) boru.

Paduahon : Jamian Hutagalung mangalap boru sian pahae ima br Simanungkalit sian ni adong …. baoa dohot 4 boru. Molo tambak na adong saonari di dolok jonok tu huta Sosor Hutagalung di Sipoholon.

Patoluhon : Muliater Hutagalung mangalap boru Tambunan sian …….. sian adong 1 (sada) baoa dohot 1 (sada) boru.

Paompathon : Daria Hutagalung mangalap boru Silitonga sian ………. sian ni adong ma 4 (baoa) dohot 4 (opat) boru.

Palimahon : Hilderia br Hutagalung na dialap Marga Lumban Tobing sian Huta Banuaji sian ini adong do 3 (tolu) baoa dohot 4 (opat) boru. Sahat tu saonnari be halakki rap tinggal ma di huta Banuaji molo disi adong do amangboru I manjaga jabu i.

Paonomon : Karal Hutagalung na mangalap boru Parapat sian Lumban Sijongkot sian Sipaholon sian ni adong 4 (opat) baoa dohot 4 (opat) boru.

Sahat tu saonari gabe ma tutu pomparan ni oppung nami on songoni tinggal di huta nang songoni tinggal di tano parserahan. Dung manang piga taon di huta ni hula-hulana antar hurang tabo ma parhombaran ni oppung nami tu hula-hulana. Dung songoni ala asi ni rohani hula-hula nami Parapat dilehon ma parhutaon nami di Sosor Hutagalung.

Sumber : http://ompupinondang.blogspot.com



B. Karal Hutagalung dan Gitar Sipoholon

Karal Hutagalung semasih muda sudah piawai memainkan beberapa alat instrumental buatan Eropa seperti gitar, biola, mandolin dan organ engkol.

Berawal dari upayanya memperbaiki gitarnya sendiri yang rusak memotovasi dirinya membuat gitar yang baru. Ternyata buatannya lebih baik dari gitar yang pada waktu itu kebanyakan buatan luar, sehingga banyak yang memesan. Tidak puas sampai disitu, dia mencoba membuat organ engkol yang digunakan pada gereja. Organ itu dengan sebutan batak poti marende. Banyak gereja menggunakan organ buatan Hutagalung.
Usahanya semakin berkembang, semula dilakukan dirumahnya Hutabagasan Desa Lumban Baringin Sipoholon sejak tahun 1954. Modal usaha terkumpul sehingga dapat membeli tanah di pinggir jalan raya Jalan Balige Lumban Baringin Sipoholon.

Hutagalung mampu membuat alat musik lain seperti biola, mandolin, stringbass, jazband dan bamboo. Beberapa kepingan kayu model senapan juga ditemukan dibenglenya. Dia juga mampu membuat senapan angin.

Pesanan organ engkol poti marende tidak lagi ditekuninya sejak keyboard semakin banyak dan murah. Poti Marende telah digeser peranannya dari gereja dengan keyboard sehingga tidak lagi diproduksi.

Beberapa alat pertukangan yang ada dibengkelnya adalah atas upaya sendiri. Menurut pengakuannya pemerintah daerah Tapanuli Utara pada saat Bupati R. E. Nainggolan pernah membantunya Rp 10 juta. Sebelum dan sesudah itu tidak pernah ada. Konon pemda sering mengikutkan bengkel kerjanya mengikuti pameran ke Medan dan Jakarta. Dia mengakui bahwa gitar buatannya sudah pernah sampai ke Amerika.

Kelebihan gitar Sipoholon adalah kualitas dan seni pembuatannya dan penjiwaan pembuatnya ditambah dengan pemilihan kayu berkualitas terbaik yang ditemukan di daerah Sarulla.

Pemasaran Gitar Sipoholon tidak jelas, pada umumnya hanya melayani pesanan. Semua gitar yang terpajang di gallerinya semua sudah ada pemiliknya. Harga yang dipatok berkisar antara Rp 350.000 s/d Rp 400.000. Akustik Bass dipatok Rp 800.000. dan Gitar listrik sekitar Rp 1 juta. Pembuatan 1 gitar dapat diselesaikan dalam 1 minggu. Setelah menggunakan alat mekanik telah dapat menyelesaikan 2 gitar dalam 1 minggu.

Karal Hutagalung telah memiliki cucu-cucu yang membahagiakan hatinya dari 5 orang putra dan 4 orang putri. Dia dipanggil Ompu Mega. Isteri tercintanya Boru Parapat telah lebih dulu meninggalkannya. Pada usianya yang seja (82 tahun) Ompu Mega telah pensiun dari pekerjaannya. Usahanya dilanjutkan oleh 3 putranya.

Sumber : http://tanobatak.wordpress.com



C. Gitar Sipoholon

Produk Gitarnya dikenal dengan sebutan Gitar Sipoholon sudah terpatri dengan baik di dalam hati para pecinta musik di Tapanuli Utara khususnya dan di Sumatera Utara pada umumnya.


Karal Hutagalung memulai usahanya dirumahnya di Hutabagasan Desa Lumban Baringin Sipoholon sejak tahun 1954. Modal usaha terkumpul sehingga dapat membeli tanah di pinggir jalan raya Jalan Balige Lumban Baringin Sipoholon. Hutagalung mampu membuat alat musik lain seperti biola, mandolin, stringbass, jazband dan bamboo. Beberapa kepingan kayu model senapan juga ditemukan dibenglenya.
Pemasaran Gitar Sipoholon tidak jelas, pada umumnya hanya melayani pesanan. Semua gitar yang terpajang di gallerinya semua sudah ada pemiliknya. Harga yang dipatok berkisar antara Rp 350.000 s/d Rp 400.000. Akustik Bass dipatok Rp 800.000. dan Gitar listrik sekitar Rp 1 juta. Pembuatan 1 gitar dapat diselesaikan dalam 1 minggu. Setelah menggunakan alat mekanik telah dapat menyelesaikan 2 gitar dalam 1 minggu.

Kelebihan gitar Sipoholon adalah kualitas dan seni pembuatannya dan penjiwaan pembuatnya ditambah dengan pemilihan kayu berkualitas terbaik yang ditemukan di Sarulla.

Sumber : http://bataknauli.org

D. Pencipta Potimarende dan Gitar Sipoholon K. Hutagalung Meninggal Dunia


Sipoholon (Nababan) - Pencipta “Potimarende” dan Gitar Sipoholon, Karal Hutagalung meninggal dunia dengan tenang di rumah duka Jalan Balige Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (4/12).

Pria yang dilahirkan pada 17 Maret 1923 disapa dengan nama Ompu Romega Doli Hutagalung, hingga akhir hidupnya masih aktif mengerjakan Potimarende dan Gitar Sipoholon serta alat-alat musik tradisional lainnya yang digelutinya sejak tahun 1940 yang lalu.

Tanganku nametmet, hulehonma tu Debata, itulah motto hidup Ompu Romega Hutagalung. Motto hidup itu dipersembahkannya melalui buah karya tangannya yang telah banyak dipergunakan Gereja-Gereja di penjuru daerah untuk memuliakan Tuhan yaitu Potimarende (orgel manual) dan Gitar Sipoholon. Tidak jarang para penginjil dari Eropa membawa hasil buah tangan Ompu Romega ke daerahnya masing-masing.


Sejak 15 tahun yang lalu Ompu Romega Doli telah hidup menduda atas duluanya berpulang ke Rumah Bapa di Sorga Ompu Romega Boru/br Parapat. Kerja keras untuk membuat Potimarende dan Gitar Sipoholon terus ditekuninya dan hingga kini kerja keras itu diturunkannya kepada 3 putranya yaitu A Hutagalung (Ama Romega/Omp Riel), Hotma Hutagalung (Ama Erwin) dan Ronny Hutagalung (Ama Tian). Sedangkan dua putranya yaitu Roster Hutagalung bekerja di PGN Medan dan Drs Madin Hutagalung bekerja di Disperindag Medan. Serta meninggalkan 4 putri yang sudah berkeluarga/bercucu yaitu M br Hutagalung (Ny Manalu), K br Hutagalung (Ny Hutabarat), D br Hutagalung (Ginting) dan R br Hutagalung (Nababan).
Bahkan di masa penjajahan tahun 40-an, Ompu Romega bisa menciptakan senjata, sehingga dimasa tuanya mendapat penghargaan dari pemerintahan Indonesia sebagai Veteran.
Menurut salah seorang anggota keluarga A Hutagalung, melalui Jhon Manalu SPd (cucu) yang kini sebagai Wartawan SIB di Medan, jenazah almarhum akan dikebumikan pada Selasa 8 Desember 2009 mendatang di Desa Hutauruk Sipoholon.

Mendengar kabar duka cita itu, Sekda Pemprovsu Dr. R.E. Nainggolan, menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya dan merasa kehilangan atas berpulangnya ke Rumah Bapa di Sorga seorang tokoh khususnya di Tapanuli Utara yaitu pencipta Gitar Sipoholon dan Potimarende Karal Hutagalung. “Karena dengan karya-karya beliau melalui Potimarende dan Gitar Sipoholon Tapanuli Utara semakin dikenal di tigkat nasional maupun internasional. Saya harapkan karya-karya beliau tetap kita kenang dan kiranya tetap muncul generasi-generasi baru yang akan meneruskan buah karyanya,” ucapnya, Sabtu (5/12) melalui telepon kepada Jhon Manalu selaku cucu almarhum di Medan, saat Bupati Taput RE Nainggolan sering mengunjungi Karal Hutagalung.

Hal yang sama disampaikan Bupati Taput Torang Lumbantobing, yang mana karya-karya almarhum sudah cukup dikenal masyarakat luas. Bahkan sudah sering diikutkan dalam pameran tingkat propinsi maupun nasional. “Sehingga beliau merupakan salah satu tokoh yang mengharumkan nama baik Tapanuli Utara. Saya mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya,” ucap Bupati Toluto.

Sumber : http://tuannahoda.blogspot.com/


E. Gitar Sipoholon Riwayatmu Kini

Di era tahun 1970-an hingga tahun 1990-an, wilayah Tapanuli Utara dikenal masyarakatSumatera Utara sebagai salah satu sentra produksi gitar yang cukup akrab dengan konsumen, baik dilihat dari mutu maupun modelnya. Pada masa kejayaannya, industri kerajinan gitar Sipoholon ini telah berkembang cukup baik. Produk gitarnya yang dikenal dengan sebutan Gitar Sipoholon pun sudah terpatri dengan baik di dalam hati para pecinta musik di Tapanuli Utara khususnya, dan di Sumatera Utara pada umumnya.


Sipoholon sebenarnya adalah nama sebuah desa di Tapanuli Utara, Sumatera Utara yang banyak dihuni oleh para perajin gitar yang sangat terampil dan berbakat. Sudah puluhan tahun lamanya para perajin itu menggeluti industri kerajinan gitar kayu dan secara turun-temurun keterampilan membuat gitar dari kayu itu diwariskan kepada generasi penerusnya. Kini setidaknya sudah ada tiga generasi yang melanjutkan industri kerajinan gitar kayu tersebut.

Entah bagaimana awal ceritanya, nama desa Sipoholon itu disematkan sebagai merek dagang (trade mark) dari produk gitar buatan desa tersebut. Menurut penuturan Hutagalung, salah satu pengrajin Gitar Sipoholon, tidak jelas bagaimana sejarah dari Gitar Sipoholon itu. Yang kami tahu industri gitar ini sudah digeluti secara turun temurun oleh kakek buyut kami dan kini tinggal anak cucunya yang melanjutkan. Kami sendiri sudah generasi ketiga, kata R. Hutagalung ketika ditemui majalah Media Industri di bengkel kerja alat musik gitarnya di Sipoholon, Tarutung, Tapanuli Utara.

Di bengkel kerja alat musiknya itu, selain membuat gitar, Hutagalung juga membuat alat musik lain seperti keyboard tradisional atau lebih dikenal dengan sebutan poti marende dan bass betot. Namun untuk bas betot dan keyboard, Hutagalung mengaku sudah angkat tangan karena tergilas dengan keyboard dan bass betot modern yang dioperasikan secara elektrik. Bass betot buatan Sipoholon adalah bas betot non elektrik sedangkan keyboardnya digerakkan dengan pedal kaki. Untuk kedua alat musik ini kami sudah menyerah. Tapi untuk gitar, kami masih bisa bertahan karena masih banyak peminat, tuturnya.

Selain dikenal sebagai sentra industri kerajinan gitar dari kayu, desa Sipoholon juga dikenal dengan sumber air panasnya yang beberapa diantaranya kini sudah dikembangkan menjadi objek wisata pemandian air panas. Pada saat hari libur khususnya pada akhir pecan, objek wisata pemandian air panas di Sipoholon mulai banyak dikunjungi wisatawan domestik dari wilayah sekitar Tapanuli Utara. Tentu saja, pengembangan industri pariwisata ini dapat juga dimanfaatkan untuk mempromosikan industri gitar kayu di Sipoholon.

Untuk membangkitkan kembali industri kerajinan gitar dari kayu itu, Hutagalung sangat berharap ada uluran bantuan modal, apakah dari pemerintah atau dari kalangan perusahaan perbankan. Untuk memenuhi permintaan pasar selama ini, Hutagalung mengaku kewalahan karena tidak mempunyai modal khususnya untuk pengadaan kayu sebagai bahan baku utama.

Menurut Hutagalung, setiap bulan masuk permintaan pembuatan gitar kayu antara 30 sampai 50 unit gitar, baik gitar melodi, klasik maupun gitar bass. Jika pesanan masuk, maka perajin harus sudah siap dengan semua jenis bahan baku, baik kayu yang didatangkan dari Sibolga, Tapanuli Selatan serta seluruh peralatan pendukung seperti lem, amplas dan lain-lain.

Namun karena ketiadaan modal kerja untuk pengadaan bahan baku, sering kali para perajin tersebut terpaksa menolak pesanan sambil menunggu adanya bantuan modal dari keluarga untuk pengadaan bahan baku. Yang paling banyak menyedot modal kerja sebetulnya adalah kayu.

Akibatnya, bengkel pembuat alat-alat musik di Sipoholon kini terpaksa mengerjakan pekerjaan yang kadang-kadang hanya satu unit dalam satu minggu sehingga untuk menghidupi keluarga pun sudah kewalahan. Padahal untuk menjalankan roda usaha yang awalnya dimulai dari usaha keluarga ini, Hutagalung mempekerjakan empat karyawan yang tugasnya menggergaji kayu, memotong dan memoles. Untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan ketangkasan khusus seperti memasang cantolan senar dan memasang senar, Hutagalung sendiri yang melakukannya.

Untuk produk gitarnya itu, Hutagalung biasanya menjual dengan harga yang bervariasi dari mulai Rp 400.000 per unit sampai Rp 850.000 per unit. Harga tersebut, menurut Hutagalung, merupakan harga baru yang terpaksa dinaikkan untuk mengimbangi biaya produksi dan biaya hidup yang terus
merangkak naik.

Selain harga bahan baku yang terus membumbung tinggi, gaji empat karyawan pun ikut serta dinaikkan. Kami sangat kesulitan. Tapi jika sekiranya ada uluran tangan untuk membantu modal kerja, kesulitan hidup kami masih bisa diatasi karena permintaan dari penggemar gitar Sipoholon masih terus mengalir, tutur Hutagalung.

Para pemilik bengkel gitar Sipoholon juga sangat merindukan produk mereka dapat dipajang di toko-toko alat musik, baik di Tarutung apalagi di Medan sebagai kota provinsi. Itu juga yang selama ini menjadi mimpi Hutagalung, apalagi ketika mereka berjalan-jalan ke kota dan melihat di beberapa toko alat musik terdapat sejumlah gitar dipajang.

Disadur dari Media Industri (No. 05.2008) Departemen Perindustrian RI
Sumber : http://arifh.blogdetik.com



F. Gitar Sipoholon Tembus Pasar Nasional

TARUTUNG--MICOM: Gitar hasil kerajinan tangan warga Desa Lumban Baringin, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, kini banyak mendapat pesanan dari berbagai kota besar di Indonesia. "Industri kerajinan ini merupakan warisan yang kami geluti secara turun-temurun sejak 1954. Semula, keluarga kami mengerjakannya dengan peralatan sangat sederhana," ujar R. Hutagalung (44), warga Hutagalung, Sipoholon, Ahad (12/12).


Ia mengatakan, dari tahun ke tahun usahanya terus berkembang dan peralatan yang digunakan semakin disempurnakan. Karenanya, pesanan pun terus meningkat dari berbagai kota dan bahkan terkadang mendapat orderan pelanggan dari luar negeri. "Kami selalu menjaga kualitas dengan memilih kayu terbaik yang dipesan dari daerah Sarulla. Harganya berkisar Rp500 ribu sampai Rp2 juta tergantung bentuk dan modelnya," ujarnya.

Menurutnya, untuk satu gitar pesanan, pengerjaannnya membutuhkan waktu satu hingga dua minggu. "Diperlukan, kesabaran dalam proses pembuatannya, karena pengerjaannya masih secara manual," katanya. Hutagalung menambahkan, proses pembuatannya terbilang sederhana, tetapi dapat menghasilkan kualitas suara yang tidak kalah dibandingkan gitar buatan luar negeri. "Mungkin itu sebabnya, semakin banyak peminat yang memesan," katanya.

Hanya saja, menurut dia, Pemerintah Daerah Tapanuli Utara kurang memberi perhatian, meski proposal untuk modal usaha sudah beberapa kali diajukan melalui Dinas Koperasi dan Perindustrian. Sekretaris Kecamatan Sipoholon Siasep Manalu mengatakan industri kerajinan gitar di daerah itu sangat berpotensi untuk dikembangkan, mengingat keberadaannya yang sudah sejak lama dikenal pelanggan berbagai daerah.

Kata Siasep, menurut catatan yang ada, Pemkab Tapanuli Utara pernah memberikan bantuan permodalan bagi pengusaha. Selain itu, pemerintah daerah juga sering mengikutkan bengkel kerja Hutagalung pada berbagai pameran hingga ke tingkat nasional di Jakarta.

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

 
G. Gitar Mendunia Asal ‘Sipoholon’

Sejak tahun 1970-an hingga kini wilayah Tapanuli Utara dikenal oleh masyarakat di Propinsi Sumatera Utara sebagai salah satu sentra produksi gitar dengan kualitas kayu bermutu ditambah dengan varian modelnya yang tidak monoton. Karena diproduksi di Desa Sipoholon, Kabupaten Tapanui Utara, gitar itu disebut dengan julukan ‘Gitar Sipoholon’.

Maka tak heran jika selain bertani masyarakat di desa itu bermata pencaharian sebagai perajin gitar yang turun temurun. Kini setidaknya sudah ada tiga generasi yang melanjutkan industri kerajinan gitar kayu tersebut. “Industri gitar ini sudah digeluti secara turun temurun oleh kakek buyut kami dan kini tinggal anak cucunya yang melanjutkan. Kami sendiri sudah generasi ketiga,” kata R. Hutagalung ketika ditemui di bengkel kerjanya.

Pemesanan gitar hasil industri kerajinan rakyat Sipoholon memiliki kayu berkualitas dan suara cukup nyaring menembus pasar Amerika Serikat. Pesanan gitar yang dikerjakan secara turun temurun oleh keluarga Hutagalung itu sempat sampai ke pasar Amerika Serikat bahkan negeri kincir angin Belanda.

“Kami mengerjakan pembuatan gitar ini dengan peralatan yang cukup sederhana, namun dibarengi dengan penjiwaan hati. Sedangkan kesabaran menjadi dasar kejelian tangan,” tutur R Hutagalung menjelaskan.

Sebelumnya, pembuatan gitar tersebut muncul karena terinspirasi dari gitar buatan luar negeri yang dipasarkan ke daerah Tapanuli Utara. Dari sana usahanya itu berkembang pesat hingga kini. Umumnya pemasaran gitar asal Sipoholon itu bergantung pada pesanan saja, jadi gitar yang terpajang digallerinya itu merupakan gitar yang sudah dibeli atau dipesan.

Disamping itu pula ketersediaan kayu ‘Jalatung’ sebagai bahan baku juga mengalami kelangkaan sehingga harganya membumbung tinggi. “Walaupun begitu, kebutuhan hidup masih dapat terpenuhi karena permintaan dari penggemar gitar Sipoholon masih terus mengalir,” tutur Hutagalung mengakhiri.

Sumber : http://www.pixeletphotomagz.com



H. Gitar Sipoholon Tembus AS

Medan (ANTARA News) - Pemesanan gitar hasil industri kerajinan rakyat Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara yang memiliki kayu berkualitas dan suara cukup nyaring menembus pasar Amerika Serikat.

"Pesanan gitar yang dikerjakan secara turun temurun oleh keluarga Hutagalung ini sudah sampai ke Amerika," kata penanggung jawab anjungan Kabupaten Tapanuli Utara, Jones Lubis, di Pekan Raya Sumut, Medan, Senin.

Kelebihan gitar Sipoholon adalah kualitas dan seni penjiwaan pembuatnya ditambah dengan pemilihan kayu kualitas terbaik yang ditemukan di daerah Sarulla, Tarutung.

Usaha gitar yang dijalani sejak 1954 ini, pembuatannya terbilang cukup sederhana dan membutuhkan kesabaran karena masih manual serta memiliki kejelian sentuhan tangan.

Jones menambahkan, pembuatan gitar tersebut muncul karena adanya gitar buatan luar yang dipasarkan ke daerah Tapanuli Utara pada saat itu sehingga keluarga Hutagalung termotivasi untuk membuat gitar yang tidak kalah kualitasnya.

Usahanya semakin berkembang, semula dilakukan di rumahnya Hutabagasan Desa Lumban Baringin Sipoholon. Modal usaha terkumpul kini dapat membeli tanah di pinggir jalan raya Jalan Balige km 3 Lumban Baringin Sipoholon.

Pemasaran gitar tersebut pada umumnya hanya melayani pesanan. Semua gitar yang terpajang digallerinya  sudah ada pembelinya.

Harga gitar yang dipatok oleh Hutagalung berkisar Rp350 ribu sampai Rp1 juta tergantung bentuk dan model. "Tergantung keinginan si pemesan, satu gitar biasanya membutuhkan waktu 1-2 minggu", katanya.

Jones menjelaskan, pembuatan gitar Sipoholon yang terbilang mudah serta dapat menghasilkan kualitas suara merdu ini tidak kalah dibandingkan dengan gitar luar.




I. Harmoni Gitar Sipoholon

(Petikan demi petikan Gitar Sipoholon dimainkan dengan penuh perasaan menghasilkan suara yang merdu menyejukkan hati dan menarik perhatian beribu jiwa.)

Hembusan angin mengiringi setiap langkah perjalanan menuju Kecamatan Sipoholon sekitar satu jam lamanya. Sambil menanti tibanya ke tempat tujuan, matapun tergerak untuk memandang keindahan pemandangan alam di sekitar seperti pegunungan dan persawahan. Kicauan burung yang merdu dialunkan secara berirama sehingga mampu menghilangkan kejenuhan hati. Setelah melewati bebagai keindahan alam, akhirnya Kecamatan Sipoholon yang berjarak 10 km dari kota Tarutung menyambut dengan riang kehadiran para jiwa yang menghampirinya. Daerah ini sangat dikenal dengan daerah wisata seperti Air Panas dan Gitar Sipoholon.

Pada tahun 1954, tepat di pinggir Jalan Balige Lumban Baringin hidup seorang ompung bernama Kahral Hutagalung yang semasa mudanya diberikan talental memainkan alat musik instrumental. Berawal dari memperbaiki gitarnya sendiri yang rusak, ompung pun mulai berimajinasi dan membuka pikirannya dengan seribu ide cemerlang untuk menciptakan gitar sendiri. Gitar tersebut dikenal sebagai Gitar Sipoholon.

Hasil alam pun mulai berbisik memanggil ompung Kahral untuk membuat gitar tersebut menjadi lebih bagus. Akhirnya, kayu sepang mampu memenangkan perhatian ompung Kahral. Dalam pembuatannya, ompung itu mampu menghasilkan satu buah gitar dalam jangka sastu minggu. Akan tetapi, sebanyak empat buah gitar yang indah mampu diciptakan oleh ompung Kahral. Selain itu, perasaan dan perhatian khusus sangat dibutuhkan dan mampu memberikan hasil yang terbaik dalam pembuatan Gitar Sipoholon.

Hasil yang terbaik Gitar Sipoholon mampu mengalahkan gitar yang lain dengan berbagai keindahan yang menjadi kelebihan gitar tersebut seperti suara yang merdu, ketahanan dan bahan dasar yang digunakan sehingga mampu menarik perhatian para peminatnya. Keindahan dan merdunya suara petikan Gitar Sipoholon yang khas mampu mencuri perhatian beribu peminat yang mengidamkannya. Merdunya Gitar Sipoholon mampu menyejukkan hati para masyarakat terutama saat dimainkan bagaikan hidup berada di Sorga yang penuh dengan kedamaian.

Sekian banyak peminat dari berbagai kota mengunjungi Kecamatan Sipoholon untuk menyaksikan keindahan Gitar Sipoholon. Akhirnya, gitar tersebut mampu bersaing tidak hanya di pemasaran lokal bahkan sudah mencapai pemasaran internasional. Harganya yang lumayan terjangkau sesuai dengan kemerduan suaranya yang tidak kalah banding dengan gitar lain tidak mengurangi pusat perhatian para peminatnya.


Video Pembuatan Gitar Sipoholon



Link Facebook : 

Di samping itu ada juga Siregar yang ikut membuat gitar, link Facebook :

Logo Hutagalung Sedunia
Flag Counter