Tampilkan postingan dengan label Silsilah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silsilah. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Silsilah dan Monumen Hasibuan



Hasibuan adalah salah satu marga Batak Toba, jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hasibuan berada pada keturunan (sundut) kedelapan : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan.

Dalam silsilah masyarakat suku batak (dalam struktur tarombo) bahwa si Raja Hasibuan adalah keturunan dari si Raja Sobu, si Raja Sobu yang hidup pada abad xv atau sekitar tahun 1455 adalah keturunan ke V dari si Raja Batak, ayahnya bernama Tuan Sorbadibanua anak dari istrinya yang ke dua bernama si Boru Basopaet (Putri Mojopahit).

Si Raja Sobu memiliki dua orang anak putra yang bernama Raja Tinandang atau lebih dikenal dengan bernama Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan.

Di masa kecil, Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan tinggal bersama orang tuanya di Desa Lobu Galagala yang terletak di kaki Gunung Dolok Tolong (Kabupaten Toba Samosir saat ini) dan setelah beranjak dewasa si Raja Hasibuan pergi merantau ke Desa Sigaol – Uluan dan menetap di sana yang pada akhirnya menjadi bonapasogit marga Hasibuan, dan ia pun meminang boru Simatupang dari Muara.

Toga Hasibuan memiliki keturunan :
  1. Raja Manjalo : tinggal di Sigaol, Uluan dan tetap memakai marga Hasibuan, namun setelah berumah tangga Raja Marjalo membuat atau membuka perkampungan baru yang diberi nama Hariaramarjalo di Lumban Bao Sigaol saat ini, Hariara (pohon ara) marjalo (namanya) dan membuat pertanda dengan menamakan pohon Hariara (ara) yang sampai saat ini masih berdiri kokoh dan di sampingnya telah dibangun Monumen si Raja Hasibuan yang sudah diresmikan tahun 2002 lalu.
  2. Guru Mangaloksa : pergi merantau ke daerah Silindung dan menetap disana di kampung Marsaitbosi dan menikah dengan marga boru (putri) Pasaribu. Keturunan Guru Mangaloksa telah memakai nama/marga baru yaitu marga Hutagalung, marga Hutabarat, marga Hutatoruan dan marga Lumbantobing, sementerata keturunan marga Panggabean ada yang menjadi marga Simorangkir dan keturunan dari Guru Mangaloksa ini dikemudian hari dikenal dengan sebutan "Si Opat Pusoran", menurut cerita bahwa sebahagian keturunan Guru Mangaloksa yang merantau ke Tapanuli Sealatan Sipirok tetap memaki marga Hasibuan, begitu juga dengan marga Hasibuan dan marga Lumbantobing yang bermukim di Laguboti.
  3. Guru Hinobaan : pergi merantau ke Barus/Sibolga atau Asahan dan tetap memakai marga Hasibuan.
  4. Raja Manjalang : pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan
  5. Raja Maniti : dikabarkan pergi meranatau ke daerah Aceh (Nangro Aceh Darussalam saat ini), dan kemungkinan keturunan inilah yang mengaku batak sampulu pitu (17) yang bermukim di kabupaten Alas saat ini, dan hingga saat ini Parsadaan Pomparan ni Raja Hasibuan dimanapun berada masih menanti kembalinya keturunan anak yang hilang ini.Anak ke lima adalah Guru Marjalang, dan ini pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan.
  6. Lima putri si Raja Hasibuan :
  • Si Boru Turasi : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Sitorus Pane di Lumban Lobu,
  • Si Boru Tumandi : marhamulian/marhuta (kawin) ke Marga Panjaitan di Sitorang,
  • Si Boru Taripar laut : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Simanjuntak di Sitandohan Balige,
  • Si Boru Sande Balige : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siahaan di Hinalang Balige, dan
  • Si Boru Nauli : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siringo-ringo di Muara.

Monumen Hasibuan

Tidak semua keturunan Hasibuan (termasuk keturunan Guru Mangaloksa) tahu di mana dan bentuk seperti apa monumen/Tugu Hasibuan.




Ketika diadakan perayaan Monumen si Raja Hasibuan di Lumban Bao Hariaramarjalo tahun 2002 lalu semua perwakilan dari si Raja hasibuan dan boru hadir bersama rombongannya masing-masing, kecuali keturunan dari Guru Maniti yang tidak hadir.


Polemik Hukum Adat Pernikahan sesama keturunan Hasibuan

Dalam Hukum ada pernikahan Batak Toba tidak boleh saling menikahi sesama marga, demikian halnya dengan Hasibuan, tidak boleh menikah dengan sesama Hasibuan, namun hal itu tidak disadari oleh beberapa keturunan Hasibuan bahwa sesungguhnya telah terjadi saling menikahi sesama Hasibuan, dan keturunan Hasibuan yang saling menikahi tersebut adalah keturunan dari Guru Mangaloksa sendiri. Parahnya ada pula aturan atau padan yang menyatakan bahwa keturunan Guru Mangaloksa tidak boleh menikah dengan Hasibuan yang menggunakan marga/boru Hasibuan.

Lalu kenapa sesama Si Opat Pusoran bisa saling menikahi? Ada sejarahnya, sebab pada zaman dahulu marga dan boru lain tidak sebanyak sekarang yang dijumpai pada waktu itu i daerah Si Opat Pisoran. Apalagi teknologi Informasi dan komunikasi serta transportasi tidak secanggih sekarang, maka untuk menghindari para putra dan putri Guru Mangaloksa tidak menjadi lajang terus atau tidak ketuaan menikah maka diberilah kebebasan untuk saling menikahi. Sebenarnya pemberian kebebasan seperti itu adalah melanggar aturan yang dijelaskan di atas.

Haruslah disadari, semua keturunan si opat pisoran atau keturunan Guru Mangaloksa berhak memakai marga/boru Hasibuan.

Bila memang sudah terjadi biarlah terjadi dan berlalu, namun jangan diulang lagi kebiasaan lama tersebut. Sebagai contoh: Buat apa dibuat kumpulan/punguan Guru Mangaloksa tapi saling menikahi? Bayangkan bila kumpulan tersebut membuat acara dan tentunya yang banyak bekerja atau repot adalah pihak "boru", dan ternyata pihak "boru" tersebut adalah bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa, otomatis yang merasa bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa tidak akan melakukan pekerjaan sebagai pihak "boru".


Referensi:
  • W. M. Hutagalung, PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak.
  • http://agusthutabarat.wordpress.com/guru-mangaloksa-dan-hutabarat/
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Tarombo_Batak
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Hasibuan
  • Dari berbagai sumber.

Sabtu, 06 April 2013

Keturunan Si Raja Hutagalung

Logo Komunitas Hutagalung se-dunia



Keturunan Guru Mangaloksa Hasibuan :
  1. Raja Nabarat (Hutabarat)
  2. Raja Panggabean
  3. Raja Hutagalung
  4. Raja Hutatoruan
  5. Putrinya menikah dengan marga Aritonang Rajagukguk.

Mari kita simak keturunan Si Raja Hutagalung di bawah ini.


Raja Hutagalung (menikah dengan Boru Simatupang) dengan keturunan :
  1. Putra 2 orang : Raja Miralopak (menikah dengan Boru Simatupang Sianturi) dan Si Raja Inaina (menikah Boru Simatupang Sianturi)
  2. Putri 2 orang : yang pertama menikah dengan marga Simamora Rumaijuk, dan kedua menikah marga Tambunan Lumbanpea

Raja Miralopak, memiliki putra 2 orang :
  1. Ompu Datu Harean (menikah dengan Boru Simatupang Sianturi)
  2. Ompu Tuan Napitu (menikah dengan Boru Siamtupang Sianturi)

Raja Inaina memiliki 4 putra :
  1. Ompu Matasapiak Langit
  2. Ompu Datu Sorga
  3. Ompu Sibulungmotung
  4. Ompu Partombus


Ompu Datu Harean memilik 3 putra :
  1. Ompu Datu Nalimuton
  2. Ompu Datu Mulia
  3. Ompu Nihobol

Ompu Tuan Napitu memilik 3 putra :
  1. Ompu Ni Ujung Oloan
  2. Ompu Namora Tonggor
  3. Ompu Datu Timpus

Ompu Ni Ujung Oloan memiliki 3 orang putra:
  1. Raja Anggoli
  2. Bagot Pinayungan
  3. Ompu Manahan

Ompu Namora Tonggor memiliki 4 putra :
  1. Datu Parngongo
  2. Dari Sabungan
  3. Namora Tanggul
  4. Raja Mangihuthon

Ompu Datu Timpus memiliki 2 putra :
  1. Saha Panaluan
  2. Saha Oloan

Raja Anggoli memiliki 2 putra:
  1. Ujung Tali
  2. Marluntak Dalan

Datu Parngongo memiliki 3 putra:
  1. Ompu Momos
  2. Jurampang
  3. Sodunggulon

Saha Panaluan memiliki 2 putra:
  1. Raja Bandol
  2. Saha Oloan, memiliki 1 orang putra : Ompu Somuana

Bagot Pinayungan memiliki 3 putra :
  1. Todo (??)
  2. Raja Usu
  3. Batu Rihit

Dari Sabungan memiliki 2 putra :
  1. Ompu Raja Bonar
  2. Ompu Raja Monang

Namora Tanggul memiliki 1 putra : Namora Toga Dua

Raja Mangihuthon memiliki 1 putra : Raja Soulangan

Keturunan keenam dari Si Raja Hutagalung adalah : Ujung Tali – Marluntak Dalan – Todo – Raja Usu – Batu Rihit/Ompu Momos – Jurampang – Sodunggulon – Raja Bonar – Raja Monang – Namora Togadua – Raja Soulangan/Raja Bandol – Ompu Somuana


Dari Nini Ompu Tuan Napitu :
  1. Cucu Ujung Oloan : 5 orang dari 2orang Putranya
  2. Cucu Namora Tonggor : 7 orang dari 4 orang Putranya
  3. Cucu Datu Timpus : 2 orang dari 2 orang Putranya

Catatan :
Kekurangan keturuanan Miralopak dan Raja Inaina hanya berpedoman pada keturunan laki-laki, sehingga kita tidak tahu berapa orang putri yang menikah.

Mari kita teruskan silsilah kita sesuai dengan nama Ompu sapai ke nama Ompung dari Amangnya yakni Bona ni Arina. Contoh :
Bila diketahui nomor ketuirunannya No. 13,  maka Nomor 12 adalah Amangnya, Nomor 11 adalah Ompungnya dan Nomor 10 adalah Ompung dari Amangnya yang disebut  “Hula Bona ni Ari ma marga  Ompungboru dari Amangnya. Jadi diketahui marga Ompungboru dari Amangnya tentu akan tahu nama Ompung dari Amangnya.


Pada tahun 18920-1962, Tuanku Rao berperang ke Silindung, sudah sampai ke keturunan kedelapan (sebagian kesembilan) keturunan si Raja Hutagalung yakni cucunya dari Miralopak bernama Tuan Napitu


Banyak orang yang menjadi korban perang diiris-iris , keturunan Hutagalung Tuan Napitu yang dibantu adik-adiknya berperang melawan Bonjo tersebut. Tetapi pasukan Bonjo lebih banyak dilengkapi senjata sehingga banyak keturunan Hutagalung mati dibunuh, dan dibuang ke sungai Situmandi, dan rumah-rumah mereka pun dibakar. Oleh karena itulah keturunan Tuan Napitu pindah ke Onan Sitahuru, dan dari situ dilanjutkan ke Lobu Singkam, ke Aek na las di bawah Gunung Martimbang, sampai ke Sigotom dan Parsingkaman. Mereka akhirnya membuka perkampungan dan menjadi, karena Ompu Raja Bonar putra dari Ompu Namora Tonggor menikah dengan boru Simanungkalit yang diberikan oleh Raja Simanungkalit dengan juga menghibahkan pertapakan di kampung mereka, yang berada di daerah Sipoholon.


Sumber :

Link :
http://faecbook.com/HutagalungCyber
http://twitter.com/HutagalungCyber atau @HutagalungCyber
http://facebook.com/LaguHutagalung

Selasa, 25 September 2012

Silsilah atau Tarombo Hutagalung Miralopak dan Si Raja Inaina




Dua Gambar di atas adalah merupakan Silsilah Hasibuan dan HUTAGALUNG Miralopak dan Si Raja Inaina, yang pertama adalah Miralopak dan yang kedua adalah Si Raja Inaina. Supaya jelas, klik gambar untuk memperbesar.

Untuk mendownload klik gambar di bawah ini :

Jika kesulitan, silahkan klik yang di bawah ini :
DOWNLOAD

Sumber : W. M. Hutagalung, PUSTAHA BATAK - Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak, 1991.

HORAS!
Facebook http://facebook.com/HutagalungCyber
Twitter https://twitter.com/HutagalungCyber atau @HutagalungCyber

Jumat, 21 September 2012

Sekilas Tentang Guru Mangaloksa dan Silsilah Toga Hasibuan - Si Opat Pisoran


Marga dari Keturunan Raja Sobu
Marga-marga keturunan Raja Sobu, antara lain: Sitompul dan si Raja Hasibuan. Dari si Raja Hasibuan berkembang lagi, yang tetap tinggal di Toba tetap Hasibuan, sedang "pomparan" Ompu Guru Mangaloksa yang merintis hidupnya ke wilayah Silindung, anak-anaknya berkembang menjadi si Raja Nabarat (Hutabarat), si Raja Panggabean (cabangnya, Simorangkir), si Raja Hutagalung dan si Raja Hutatoruan.
Si Raja Hutatoruan dua anaknya, itulah Hutapea (Silindung/Tarutung, beda dari Hutapea - Toba/Laguboti), dan Lumbantobing (biasa disingkat L. Tobing atau Tobing = Lumbantobing). Marga-marga tsb (diluar marga Hasibuan), secara "specific" pomparan Guru Mangaloksa dinamai "Pomparan ni si Opat Pu(i)soran".


Sejarah Singkat  Guru Mangaloksa

Guru Mangaloksa adalah keturunan Hasibuan. Pada suatu hari beliau berburu ke hutan, kebetulan Guru Mangaloksa mahir menggunakan sumpit (ultop). Pas berburu, dia berhasil menyumpit seekor burung yang konon katanya sebesar kambing, namun burung tersebut tidak langsung mati, malah terbang. Guru Mangaloksa pun mengikuti burung tersebut, namun tanpa disadari, beliau sudah semakin jauh dari kampung. Ketika dia sadar, dia tidak mengenal tempat itu. Namun tiba-tiba dia melihat asap, dan beliaupun mencari tahu asal asap itu. Dan akhirnya Guru Mangaloksa sampai lah ke Silindung (Sekarang Tarutung). Ternyata kampung tersebut milik marga Pasaribu.

Pada saat itu, kampung sedang dilanda teror. Di kampung tersebut sering didatangi burung rajawali berkepala tujuh yang suka memangsa anak-anak dan hewan ternak. Sudah banyak cara yang dilakukan raja Pasaribu untuk mengusir burung tersebut, namun hasilnya sia-sia. Akhirnya Guru Mangaloksa yang pandai menggunakan sumpit dan juga sakti itu, menawarkan diri untuk membunuh burung tersebut. Dan akhirnya dia berhasil membunuh burung rajawali berkepala tujuh itu. Sebagai imbalan, raja Pasaribu memberikan salah seorang putrinya untuk dijadikan istri oleh Guru Mangaloksa.

Setelah guru Mangaloksa menikah dengan boru Pasaribu, Guru Mangaloksa berniat meminta sedikit tanah untuk bertani kepada mertuanya(Raja Pasaribu). Sehingga dia mengutus istrinya untuk mengahadap sang raja. Namun ternyata terjadi salah paham, Guru Mangaloksa meminta sedikit tanah yang oleh Raja Pasaribu diartikan berbeda. Dia pun memberikan tanah dalam tandok (tempat beras/padi) untuk dibawa boru Pasaribu ke suaminya (Guru Mangaloksa).

Melihat hal itu, Guru Mangaloksa sakit hati terhadap mertuanya. Namun dia tidak ingin bertengkar dengan mertuanya. Akhirnya dia memikirkan sebuah siasat untuk mengelabui mertuanya dan menyuruh mereka untuk keluar dari kampung tersebut.

Guru Mangaloksa membuat seolah-olah kampung mereka sedang dikepung musuh, kemudian dia meletakkan poring (sebuah tanaman jika dipijak akan menimbulkan bunyi seperti letusan senjata). Ketika dia menyampaikan kabar bahwa kampung telah di kepung musuh, mertuanya pun panik dan berlari keluar. Tiba-tiba dia menginjak poring tadi, mertuanya mengira itu adalah suara letusan senapan (bodil) musuh. Akhirnya Guru Magaloksa berhasil mengajak mertuanya mengungsi. Sejak kejadian itu ada ungkapan dalam masyarakat batak yaitu “Pasaribu na dilele ni poring (Pasaribu yang dikejar poring)”.

Dalam perjalanan ke pengungsian bersama mertuanya, Guru Mangaloksa meminta izin kepada mertuanya untuk kembali ke kampung untuk melihat keadaan, dan mertuanya pun merestui. Dalam perjalanan, pas di tepi aek situmandi, anak pertama guru Mangaloksa pun lahir. Anak itu diberi nama Si Raja Nabarat, na barat artinya yang berlawanan. Saat itu Guru Mangaloksa menyadari perbuatannya terhadap mertua (hula-hula) bahwa itu sebenarnya bertentangan.

Kemudian lahirlah anak kedua, yang dinamakan Si Raja Panggabean, yang artinya sejahtera. Guru Mangaloksa melihat, walaupun dia telah berbuat salah terhadap mertua (hula-hula)nya, tapi dia masih diberikan kesejahteraan (hagebeon) oleh Ompu Mulajadi Nabolon.

Kemudian anak ketiga lahir diberi nama Si Raja Hutagalung. Dan Anak Keempat diberi nama Si Raja Hutatoruan (Hutapea dan Lumbantobing).

Minggu, 30 Maret 2008

Hutagalung

Hutagalung adalah salah satu marga dari suku batak, termasuk golongan batak toba. Hutagalung merupakan salah satu anak dari Hasibuan, memiliki 3 saudara, yaitu Hutabarat, Panggabean dan Tobing. Keturunan marga Hutagalung dilarang menikah dengan sesama marga Hutagalung dan dengan marga Hasibuan. Jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hutagalung berada pada sundut ke 8 : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan -- Guru Mangaloksa -- Hutagalung.

Hutagalung adalah anak ketiga Guru Mangaloksa dan keturunannya inilah yang bermarga Hutagalung. Hutagalung sendiri memiliki dua anak : Miralopak dan Raja Ina-ina.
Berikut adalah keturunan dari :
A. Miralopak
1. Datu Harean --> 1. Dt.Mulia | 2. Dt.nalimuton | 3. O.Ni Hobol | 4. Siboru Oloan
2. Tuan Napitu --> 1. O. Ni UjungOloan | 2. Namoratonggor | 3. Datu Timpus

Logo Hutagalung Sedunia
Flag Counter