Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Silsilah dan Monumen Hasibuan



Hasibuan adalah salah satu marga Batak Toba, jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hasibuan berada pada keturunan (sundut) kedelapan : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan.

Dalam silsilah masyarakat suku batak (dalam struktur tarombo) bahwa si Raja Hasibuan adalah keturunan dari si Raja Sobu, si Raja Sobu yang hidup pada abad xv atau sekitar tahun 1455 adalah keturunan ke V dari si Raja Batak, ayahnya bernama Tuan Sorbadibanua anak dari istrinya yang ke dua bernama si Boru Basopaet (Putri Mojopahit).

Si Raja Sobu memiliki dua orang anak putra yang bernama Raja Tinandang atau lebih dikenal dengan bernama Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan.

Di masa kecil, Toga Sitompul dan si Raja Hasibuan tinggal bersama orang tuanya di Desa Lobu Galagala yang terletak di kaki Gunung Dolok Tolong (Kabupaten Toba Samosir saat ini) dan setelah beranjak dewasa si Raja Hasibuan pergi merantau ke Desa Sigaol – Uluan dan menetap di sana yang pada akhirnya menjadi bonapasogit marga Hasibuan, dan ia pun meminang boru Simatupang dari Muara.

Toga Hasibuan memiliki keturunan :
  1. Raja Manjalo : tinggal di Sigaol, Uluan dan tetap memakai marga Hasibuan, namun setelah berumah tangga Raja Marjalo membuat atau membuka perkampungan baru yang diberi nama Hariaramarjalo di Lumban Bao Sigaol saat ini, Hariara (pohon ara) marjalo (namanya) dan membuat pertanda dengan menamakan pohon Hariara (ara) yang sampai saat ini masih berdiri kokoh dan di sampingnya telah dibangun Monumen si Raja Hasibuan yang sudah diresmikan tahun 2002 lalu.
  2. Guru Mangaloksa : pergi merantau ke daerah Silindung dan menetap disana di kampung Marsaitbosi dan menikah dengan marga boru (putri) Pasaribu. Keturunan Guru Mangaloksa telah memakai nama/marga baru yaitu marga Hutagalung, marga Hutabarat, marga Hutatoruan dan marga Lumbantobing, sementerata keturunan marga Panggabean ada yang menjadi marga Simorangkir dan keturunan dari Guru Mangaloksa ini dikemudian hari dikenal dengan sebutan "Si Opat Pusoran", menurut cerita bahwa sebahagian keturunan Guru Mangaloksa yang merantau ke Tapanuli Sealatan Sipirok tetap memaki marga Hasibuan, begitu juga dengan marga Hasibuan dan marga Lumbantobing yang bermukim di Laguboti.
  3. Guru Hinobaan : pergi merantau ke Barus/Sibolga atau Asahan dan tetap memakai marga Hasibuan.
  4. Raja Manjalang : pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan
  5. Raja Maniti : dikabarkan pergi meranatau ke daerah Aceh (Nangro Aceh Darussalam saat ini), dan kemungkinan keturunan inilah yang mengaku batak sampulu pitu (17) yang bermukim di kabupaten Alas saat ini, dan hingga saat ini Parsadaan Pomparan ni Raja Hasibuan dimanapun berada masih menanti kembalinya keturunan anak yang hilang ini.Anak ke lima adalah Guru Marjalang, dan ini pergi merantau ke Padang Bolak/Sibuhuan Tapanuli Selatan dan tetap memakai Marga Hasibuan.
  6. Lima putri si Raja Hasibuan :
  • Si Boru Turasi : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Sitorus Pane di Lumban Lobu,
  • Si Boru Tumandi : marhamulian/marhuta (kawin) ke Marga Panjaitan di Sitorang,
  • Si Boru Taripar laut : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Simanjuntak di Sitandohan Balige,
  • Si Boru Sande Balige : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siahaan di Hinalang Balige, dan
  • Si Boru Nauli : marhamulian/marhuta (kawin) ke marga Siringo-ringo di Muara.

Monumen Hasibuan

Tidak semua keturunan Hasibuan (termasuk keturunan Guru Mangaloksa) tahu di mana dan bentuk seperti apa monumen/Tugu Hasibuan.




Ketika diadakan perayaan Monumen si Raja Hasibuan di Lumban Bao Hariaramarjalo tahun 2002 lalu semua perwakilan dari si Raja hasibuan dan boru hadir bersama rombongannya masing-masing, kecuali keturunan dari Guru Maniti yang tidak hadir.


Polemik Hukum Adat Pernikahan sesama keturunan Hasibuan

Dalam Hukum ada pernikahan Batak Toba tidak boleh saling menikahi sesama marga, demikian halnya dengan Hasibuan, tidak boleh menikah dengan sesama Hasibuan, namun hal itu tidak disadari oleh beberapa keturunan Hasibuan bahwa sesungguhnya telah terjadi saling menikahi sesama Hasibuan, dan keturunan Hasibuan yang saling menikahi tersebut adalah keturunan dari Guru Mangaloksa sendiri. Parahnya ada pula aturan atau padan yang menyatakan bahwa keturunan Guru Mangaloksa tidak boleh menikah dengan Hasibuan yang menggunakan marga/boru Hasibuan.

Lalu kenapa sesama Si Opat Pusoran bisa saling menikahi? Ada sejarahnya, sebab pada zaman dahulu marga dan boru lain tidak sebanyak sekarang yang dijumpai pada waktu itu i daerah Si Opat Pisoran. Apalagi teknologi Informasi dan komunikasi serta transportasi tidak secanggih sekarang, maka untuk menghindari para putra dan putri Guru Mangaloksa tidak menjadi lajang terus atau tidak ketuaan menikah maka diberilah kebebasan untuk saling menikahi. Sebenarnya pemberian kebebasan seperti itu adalah melanggar aturan yang dijelaskan di atas.

Haruslah disadari, semua keturunan si opat pisoran atau keturunan Guru Mangaloksa berhak memakai marga/boru Hasibuan.

Bila memang sudah terjadi biarlah terjadi dan berlalu, namun jangan diulang lagi kebiasaan lama tersebut. Sebagai contoh: Buat apa dibuat kumpulan/punguan Guru Mangaloksa tapi saling menikahi? Bayangkan bila kumpulan tersebut membuat acara dan tentunya yang banyak bekerja atau repot adalah pihak "boru", dan ternyata pihak "boru" tersebut adalah bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa, otomatis yang merasa bermarga salah satu keturunan Guru Mangaloksa tidak akan melakukan pekerjaan sebagai pihak "boru".


Referensi:
  • W. M. Hutagalung, PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak.
  • http://agusthutabarat.wordpress.com/guru-mangaloksa-dan-hutabarat/
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Tarombo_Batak
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Hasibuan
  • Dari berbagai sumber.

Minggu, 01 Juni 2014

Aksara Batak Toba Baru Untuk Komputer



Puji Tuhan kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan karunia-Nyalah salah satu dari Saudara kita keturunan marga Hutagalung berhasil memperbaharui Font/Huruf Aksara Batak Toba yang dibuat oleh Uly Kozok sebelumnya.

Dalam hal ini saya memperbaharui kekurangan Font yang diciptakan oleh beliau dan semua itu adalah untuk menjaga dan mempertahankan budaya kita.

Telah disediakan dua file, satu file Font dan satu file Cara pengetikan, dan untuk mendapatkannya klik gambar Download di bawah ini:





Setelah kita klik DOWNLOAD di atas maka akan muncul seperti di bawah ini:
Klik tombol yang dilingkari warna merah! (klik gambar untuk melihat dengan jelas)

Klik kiri tombol yang ada dalam lingkaran warna merah di gambar di atas, lalu pilih tulisan Download. Ingat,  file yang kedua yang harus didownload, setelah didownload lalu ekstrak file zipnya. Jika kurang paham, klik Judulnya Batak Toba New.ttf, kemudian save as, dan juga Cara Pengetikannya, lalu save as.

Bagi yang memiliki akun 4shared.com (daftar bila belum memiliki) : klik DOWNLOAD!

Jika yang di atas tidak berhasil, maka, silahkan klik ini : DOWNLOAD! (otomatis)



CATATAN: Font ini bisa digunakan di komputer berbasis Linux dan Machintos, namun rumit cara instalnya, cara mudah salin terlebih dahulu fontnya ke komputer Linux/Machintos, klik font tersebut lalu klik tulisan instal.


Marilah kita menjaga, memelihara dan mempertahankan budaya kita.

HORAS!

Jumat, 09 Mei 2014

Misteri Guru Mangaloksa Ditemukan?


"Apa maksud dan tujuan judul tersebut mari kita baca dan simak penjelasannya di bawah ini!"


Misteri Guru Mangaloksa Ditemukan? 
Oleh: Jekson L. Tobing, SE

  • Telah Ditemukan Beberapa Benda Pusaka dari tempat yg berbeda;
  • Utusan PGM di Silindung sudah mengadakan Rapat.
# Surat Terbuka buat Pinompar Guru Mangaloksa#
Syalom / Assalamu Alaikum WWW


Sehubungan dengan adanya informasi yang beredar (Berita di Koran SIB, Sabtu 12 April 2014) perihal: adanya “Sorangan/Sandaran” atau orang yang menjadi sumber berita muncul, di mana Ompu i, Guru Mangaloksa “menunjukkan diri” (dalam tanda kutip) melalui orang yang kita sebut saja, Boy Tobing, umur 23 tahun, tinggal di Siatas Barita - Tapanuli Utara; dan ditemukannya Hinambor / Makam/ Kuburan di Sigaol – Lumban Bao dan beberapa benda pusaka (seperti Kursi, Keris, Buku Laklak) dari beberapa tempat yang berbeda yang diyakini sebagai peninggalan Ompung Guru Mangaloksa, Oleh berita tersebut sudah banyak terjadi pro kontra khususnya di media jaringan sosial.

Sebagaimana disampaikan oleh Amang MPL. Tobing (Sekjen PGM) pada pertemuan awal tanggal 11 April 2014, di Siatas Barita yang dihadiri oleh 43 org yang mewakili PGM, menyampaikan bahwa berita atau kabar tersebut nantinya akan menjadi perdebatan, menimbulkan beragam pendapat baik yang berupa pertanyaan, kritik, rasa penasaran bahkan sinisme yang kita kuatirkan dapat menimbulkan rasa ketidakenakan, perpecahan atau sikap bermusuhan di antara sesama kita.
Pada prinsipnya, wajar saja kalau tidak semua sepaham, percaya atau bahkan akan ada yang memandang sinis akan berita tersebut. Semua itu karna KITA keluarga besar PGM, adalah orang atau pribadi yang berbeda dalam banyak hal dalam Umur, Pengalaman, Pendidikan, Latar belakang, Era/zaman, bahkan berbeda Kepercayaan, dan lain-lain.

Penulis dan rekan Jurnalis yang lain, yang hadir dalam pertemuan tersebut memandang perlu untuk menyampaikan informasi dengan tujuan agar hal-hal yang tidak kita inginkan sedini mungkin dapat diantisipasi, agar jangan sampai ada orang atau kelompok yang memanfaatkan isu tersebut demi kepentingan pribadi atau memengaku-ngaku sorangan (titisan) dari Ompung kita, Guru Mangaloksa.
Oleh karena itu, sepanjang yang Penulis ikuti, ada beberapa hal atau fakta yang ingin disampaikan sebagai berikut:
  1. Bahwa benar, pada hari Jumat, 11 April 2014 telah diadakan pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 50 orang (dalam daftar Absensi berjumlah 43 orang), bertempat di Siatas Barita, di rumah keluarga Tobing untuk membicarakan, mendengar penjelasan dari orang-orang yang terlibat langsung dalam proses penemuan tersebut, membahas langkah-langkah selanjutnya sehubungan dengan adanya Penemuan Makam dan benda peninggalan (Harta Pusaka) dari Ompung kita Guru Mangaloksa dari beberapa tempat dan waktu yang berbeda.
  2. Bahwa dari penuturan beberapa orang yang terlibat langsung mencari Pusaka tadi, diperoleh penjelasan-penjelasan serta cerita yang cukup dan dapat dipercaya dan dari orang terpercaya juga. Dalam pertemuan awal tersebut, yang dihadiri Bendahara PGM, Freddy L. Tobing dan Amang Sekjen PGM (MPL.Tobing) dan di mana Amang MPL. Tobing, ternyata sudah ikut serta (minggu lalu) ke Sigaol – Lumban Bao dalam proses pencarian, yang belakangan ini diinfokan ditemukan Hinambor (Makam), tempat dikuburkan Ompung kita. Dengan berurai air mata, Beliau bercerita telah menyaksikan langsung hahomion (Keanehan/keajaiban) dalam proses penentuan lokasi Makam Ompung Guru Mangaloksa. Diceritakan bahwa sebelum Makam diketemukan, terlebih dahulu diinfokan oleh kita, sebut saja tondi (roh) melalui sorangan-nya (Boy Tobing) bahwa nanti akan ada ‘tanda’ jika sorangan sudah terjerembab/tergeletak di tanah, maka di situlah Ompung tersebut dikubur, lalu Kilat dan Petir tiba-tiba datang, hujan gerimis yang sebelumnya turun juga segera reda.
  3. Bahwa sudah ada 3 (tiga) jenis benda peninggalan yang diyakini sebagai Harta Pusaka yang ditemukan dari tempat dan waktu yang seperti Barus, Portibi, dan Batu Mardinding (Siatas Barita) dan sekarang diamankan di suatu tempat. Sehubungan dengan proses penemuan tersebut, orang yang terlibat juga menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal yang menuntun mereka kepada tempat-tempat yang harus mereka tuju.
  4. Bahwa masih ada Peninggalan Ompung Guru Mangaloksa yang harus diambil dari beberapa tempat yang proses pencarian (pengambilannya masih harus melalui proses yang bertahap).
  5. Bahwa pada hari Sabtu, 12 April 2014 telah diadakan gotong-royong yang dihadiri oleh utusan PGM yang ada di wilayah Silindung untuk ‘mangarintis’ (membersihkan) jalan di Dolok Siatas Barita (di bawah Patung Yesus), titik kumpul di Rumah Amang Tobing (Pak Kembar) di Simorangkir.
  6. Bahwa semua yang hadir pada pertemuan tadi, yang sudah mewakili PGM telah sepakat untuk mensosialisasikan “BERITA” tersebut kepada Marganya masing-masing.
  7. Bahwa pada hari Senin, 14 April 2014, juga ditemukan benda berupa Hujur (tombak?) dari Batu Mardinding Siatas Barita.

Saran-saran :
  • Untuk semua PGM di mana pun berada, diharapkan agar: jika belum mengetahui jelas atau tidak mengikuti sejarah dari awal, tidak terlibat langsung, diharapkan tidak sembarangan membuat berita, meng-upload (mengunggah/memosting) topik yang dapat menimbulkan perdebatan yang tidak perlu, yang berhubungan dengan Ompung kita, Guru Mangaloksa.
  • Adalah lebih baik, kita semua secara arif dan bijaksana, bersabar menunggu HASIL KESEPAKATAN atau perkembangan dan penjelasan dari pihak-pihak yang berkompeten, sehingga Kabar/Berita yang muncul tidak simpang siur.
Jayalah PGM. Mari kita bersatu, dalam Kasih Persaudaraan!
HORAS! HORAS! HORAS!


Editor HC: B. Marada Hutagalung (lihat profilnya -> klik FB - B. Marada Hutagalung )

Minggu, 02 Februari 2014

Penggunaan Marga dan Boru Salah Satu Identitas Orang Batak


Penggunaan marga/boru pada nama orang Batak adalah merupakan salah satu ciri khas suku Batak (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, dan Karo) dan itu merupakan identitas diri sebagai orang batak.

Bukan hal langka lagi jika beberapa orang Batak tidak menggunakan marga/boru pada namanya. Dulu banyak alasan orang Batak bila menggunakan marga/boru pada namanya maka akan kesulitan untuk mendapat pekerjaan, atau tertindas. Apalagi suku Batak diidentifikasi sebagai orang yang menganut agama Kristen (dan Katolik), sehingga ada istilah yang menyebutkan "Sudah Batak, Kristen Pula!" Atau "Sudah Kristen, Batak pula!" Apakah orang Batak pada zaman dahulu kala sudah beragama Kristen? Jawabannya tidak, sebab agama pertama orang Batak pada zaman dahulu adalah agama suku atau aliran kepercayaan.


Catatan Penting

Penghilangan marga/boru pada nama orang batak itu merupakan menghilangkan identitas diri sbgi orang batak, serta menjadi cikal bakal kepunahan budaya orang batak. Sebagai orang Batak Jika sudah terlanjur tidak menggunakan marga/boru maka untuk keturunan selanjutnya sebaiknya marga/boru itu digunakan.

Ciri khas utama orang batak :
- menggunakan marga/boru pada nama,
- memiliki silsilah, tutur sapa umum dan khusus,
- memiliki upacara adat umum dan khusus,
- memiliki bahasa dan aksara.

Tidak boleh ada alasan takut tidak dapat pekerjaan atau tertindas bila menggunakan marga/boru batak. Ada baiknya nama tidak usah terlalu panjang supaya marga/boru dapat digunakan pada namanya. Tidak harus mengikuti saran pembuatan nama dari ompung dari kedua belah pihak, orang tua kedua belah pihak, dari tulang kedua belah pihak, dan lain-lain.

Pengaruh negatif tidak menggunakan marga/boru sangatlah besar akibatnya, sekarang tidak masalah tapi di generasi berikutnya tak ingat lagi marganya, berikutnya tidak ingat lagi bahasa/budayanya, dan tidak ingat lagi suku dan asalnya.

Menghilangkan marga/boru pada nama orang batak adalah sama dengan menghilangkan identitas diri sebagi orang batak.

Horas.

Penulis : B. Marada Hutagalung (Klik - Lihat Profil Facebooknya)

Selasa, 28 Januari 2014

Mencari Kedudukan Dalihan Na Tolu Dalam Pesta Adat Perkawinan dan Adat Meninggal Batak Toba


Sekilas Tentang Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku tersebut adalah:
  1. Pertama, Somba Marhulahula/sembah/hormat kepada keluarga pihak Istri,
  2. Kedua, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita),
  3. Ketiga, Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga).

Dalihan Na Tolu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hulahula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu.

Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama, ketiga hal tersebut :
  1. Somba Marhulahula: ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hul-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata "Somba", yang tekanannya pada som berarti menyembah, akan tetapi kata "Somba" di sini tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula. Hula-hula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu (istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan.
  2. Elek Marboru/lemah lembut tehadap boru/perempuan. Berarti rasa sayang yang tidak disertai maksud tersembunyi dan pamrih. Boru adalah anak perempuan kita, atau kelompok marga yang mengambil istri dari anak kita (anak perempuan kita). Sikap lemah lembut terhadap boru perlu, karena dulu borulah yang dapat diharapkan membantu mengerjakan sawah di ladang. Tanpa boru, mengadakan pesta suatu hal yang tidak mungkin dilakukan.
  3. Manat mardongan tubu/sabutuha, suatu sikap berhati-hati terhadap sesama marga untuk mencegah salah paham dalam pelaksanaan acara adat. Hati-hati dengan teman semarga. Kata orang tua-tua “hau na jonok do na boi marsiogoson” yang berarti kayu yang dekatlah yang dapat bergesekan. Ini menggambarkan bahwa begitu dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik, konflik kepentingan, kedudukan, dan lain-lain.

Inti ajaran Dalihan Natolu adalah kaidah moral berisi ajaran saling menghormati (masipasangapon) dengan dukungan kaidah moral: saling menghargai dan menolong. Dalihan Natolu menjadi media yang memuat azas hukum yang objektif.


Pokok Pembahasan : Cara Mencari Kedudukan Dalihan Na Tolu Dalam Pesta Adat Perkawinan dan Meninggal (Oleh Dans Hutagalung)

Dalam hal ini kita mencoba menelusuri dengan mencari keududukannya pada pesta pernikahan dan pada acara Adat sesudah si Bola meninggal menurut Adat Batak.

Skema Silsilah :
Bp. Op. Bola
|
Op. Bola
|
Bp. Bola
|
Si Bola


Keterangan :
- Op. = Ompung,
- Bp. = Bapak (ayah).

Penjelasan
Namar Dongan Tubu:
1. Abang dan Adiknya bapak si Bola disebut Pamarai,
2. Abang dan Adiknya Op. Si Bola disebut Amangtua/Amang Uda,
3. Abang-Adiknya Opung bapak Bola disebut  Parmaan.
4. Abang-Adik dari Opungnya Opung si Bola disebut Bola Tambirik.

Hula-Hula:
  1. Saudara Laki-laki dari Istrinya Bp. Si Bola disebut; Tulang, dan Tulangnya Tulang itulah yang disebut; Tulang Narobot.
  2. Saudara laki dari Istrinya Op. Bola disebut Bona Tulang.
  3. Saudara Laki-laki Istrinya Op. Bp. Bola disebut Bona Ni Ari.
  4. Saudara Laki-laki Istrinya Opungnya Op. Bola disebut Pangabis.

Boru:
  1. Saudari perempuan Bp. Bola disebut Namboru/Parorot.
  2. Saudari perempuan Op. Bola disebut Parsonduk.
  3. Saudari perempuan Op. Bp. Bola disebut Sihunti Ampang.
  4. Saudari perempuan Op. Op. Bola disebut; Pangabis (boru na leleng).

Demikianlah cara mencari Dalihan Na tolu pada Pesta Adat Batak Dalihan Na Tolu dan Semoga bermanfaat bagi yang belum memahaminya. Horas.

Penulis : Dans Hutagalung (klik profil facebooknya)
Editor dan Penulis Sekilas Dalihan Na Tolu : B. Marada Hutagalung (klik profil facebooknya)
Referensi tentang Dalihan Na Tolu : id.wikipedia.com.

Rabu, 22 Mei 2013

Sotul atau Buah Kecapi



Pernahkah Saudara/i melihat atau mendengar Sotul (Buah Kecapi)? Sotul tidak hanya ada di daerah Tapanuli (Batak) saja, namun ada juga di daerah lain dandi luar negeri.


Sotul atau Kecapi, sentul atau ketuat adalah nama sejenis buah dan juga pohon penghasilnya. Nama-nama lainnya adalah kechapi (Mal.), sentol, santol atau wild mangosteen (Inggris), santor (Filipina) dan lain-lain. Nama ilmiahnya Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Meliaceae
Genus : Sandoricum
Spesies : S. koetjape
Nama binomial : S. indicum dan S. nervosum

I. Pemerian

Pohon kecapi merupakan pohon yang rimbun dan besar, dapat mencapai tinggi 30 m, meski umumnya di pekarangan hanya mencapai sekitar 20-an meter. Batang dapat mencapai diameter 90 cm, bergetah seperti susu.

Daun majemuk berselang-seling, bertangkai s/d 18 cm, menyirip beranak daun tiga, bentuk jorong sampai bundar telur, 6-26 × 3-16 cm; membulat atau agak runcing di pangkal, meruncing di ujung; hijau berkilat di sebelah atas, hijau kusam di bawahnya. Anak daun ujung bertangkai panjang, jauh lebih panjang dari tangkai anak daun sampingnya.

Bunga dalam malai di ketiak daun, berambut, menggantung, sampai dengan 25 cm. Bunga berkelamin dua, bertangkai pendek; kelopak bertaju 5; mahkota 5 helai, kuning hijau, lanset sungsang, 6-8 mm; samar-samar berbau harum.

Buah buni bulat agak gepeng, 5-6 cm, kuning atau kemerahan jika masak, berbulu halus seperti beludru. Daging buah bagian luar tebal dan keras, menyatu dengan kulit, kemerahan, agak masam; daging buah bagian dalam lunak dan berair, melekat pada biji, putih, masam sampai manis. Biji 2-5 butir, besar, bulat telur agak pipih, coklat kemerahan berkilat; keping biji berwarna merah.

II. Penyebaran dan hasilnya

Kecapi diperkirakan berasal dari Indocina dan Semenanjung Malaya. Berabad-abad yang silam, tumbuhan ini dibawa dan dimasukkan ke India, Indonesia (Borneo, Maluku, Tapanuli), Mauritius, dan Filipina, di mana tanaman buah ini kemudian menjadi populer, ditanam secara luas dan mengalami naturalisasi, dalam bahasa Batak disebut Sotul.

Pohon ini ditanam terutama karena diharapkan buahnya, yang berasa manis atau agak masam. Kulit buahnya yang berdaging tebal kerap dimakan dalam keadaan segar atau dimasak lebih dulu, dijadikan manisan atau marmalade.

Kayu kecapi bermutu baik sebagai bahan konstruksi rumah, bahan perkakas atau kerajinan, mudah dikerjakan dan mudah dipoles.

Berbagai bagian pohon kecapi memiliki khasiat obat. Rebusan daunnya digunakan sebagai penurun demam. Serbuk kulit batangnya untuk pengobatan cacing gelang. Akarnya untuk obat kembung, sakit perut dan diare; serta untuk penguat tubuh wanita setelah melahirkan.

Kecapi ada dua macam, yakni dengan daun tua sebelum gugur berwarna kuning dan yang berwarna merah. Dahulu, kedua varietas ini dianggap sebagai spesies yang berbeda (Sandoricum indicum berdaun kuning dan S. nervosum berdaun merah).


Bahan Bacaan :
  • Rasadah, M. A. et al (2004). Anti-inflammatory agents from Sandoricum koetjape Merr. Phytomedicine. 11:2 261-3.
  • Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. Pradnya Paramita, Jakarta.
  • Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2.
  • Fajar Andriyanto (2001). Kajian Aktivitas Antimikroba Ekstrak Buah Sotul (Sandoricum koetjape (Burm. f.) Merr.) Terhadap Bakteri Patogen dan Perusak Makanan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.

Referensi :

Terima kasih. HORAS!


Logo Hutagalung Sedunia
Flag Counter