Jefri Amas Hutagalung, Sang Pengusaha Jambi Berbicara

Written By Hutagalung Cyber on Rabu, 05 Desember 2012 | 19.03

Sumber Gambar dari Metro Jambi (Diedit Admin HC)


Jefri Amas Hutagalung adalah seorang pengusaha sukses yang berdomisili di Jambi, sekaligus Ketua BPD HIPMI Provinsi Jambi, dan beliau berbicara tentang Permodalan Memulai Usaha, beliau diisukan ikut mencalokan sebagai Walikota Jambi.

Permodalan Bukan Masalah Utama Dalam Memulai Usaha

Muda, berpengaruh, sukses dan banyak usaha, setidaknya itulah yang tergambar dari sosok seorang Jefri Amas Hutagalung SE, MM, MH. Anak seorang dokter yang memilih jalan hidup sebagai pebisnis ini ternyata juga memulai karirnya dengan kerja keras dan merintis dari bawah dengan berjualan handphone bekas dan pulsa di Kota Bandung.

Kemudian berdagang pakaian dengan sahabat masa SMA yang jadi rekan usaha saat ini. Lalu beralih profesi sebagai karyawan dengan diterima sebagai petugas biasa di salah satu bank swasta di Jambi sebagai tukang antar bilyet untuk kliring antar bank. Dan akhirnya memulai usaha sendiri dengan jatuh bangun hingga ditipu teman sendiri yang sangat ia percaya. Lalu berhasil bangkit dengan niat yang teguh dan pantang menyerah hingga dapat mandiri dalam menjalankan usahanya hingga kini. "Insya Allah dengan ikhtiar, doa, niat, jujur dan kerja keras yang baik untuk mencari berkah dalam hidup maka kita akan dimudahkan dalam menjalani pelbagai rintangan," ucapnya.

Berikut petikan wawancara wartawan Posmetro Jambi Raden Surahman dengan Ketua BPD HIPMI Provinsi Jambi ini :

Bagaimana anda memulai bisnis?
Semua diawali dengan keinginan untuk benar-benar mandiri secara finansial dan tidak bergantung dengan keterbatasan yang ada. Saat itu saya bantu jual handphone milik toko tetangga dengan mendapat komisi seadanya.

Siapa yang mengajari anda berbisnis?
Pebisnis ada 3 tipe menurut saya. Pertama lahir sebagai pebisnis (karena faktor lingkungan keluarga), kedua belajar sebagai pebisnis (dengan menimba ilmu dan pendidikan yang baik di bidang tersebut) dan ketiga pebisnis nekat. Sepertinya saya tipe yang ketiga, bisnis karena berbagai keterbatasan yang ada dan belajar sambil menjalaninya.

Terkait permodalan sendiri bagaimana?
Saya dapat dari sedikit tabungan hasil gaji yang seadanya dan bantuan dari jaringan pertemanan yang terbina baik dalam keseharian. Tapi tidak dalam jumlah yang besar karena usaha awal saya juga tipe UMKM.

Saat ini apa saja bisnis anda? Ada berapa jumlahnya?
Tidak banyak, Alhamdulillah cukup untuk dijalankan dan dapat menumbuhkan kondisi dan situasi yang positif di setiap aspek dalam lingkungan kerja dan hidup saya.

Anda juga aktif di organisasi. Seperti apa membagi waktu antara bisnis dan organisasi?
Sebisa mungkin setiap saya pulang ke Jambi selalu menyempatkan diri untuk kembali sharing setiap informasi dan kegiatan sesuai dengan kegiatan masing-masing organisasi yang saya aktif di dalamnya.

Pengamatan anda, bagaimana peluang dan iklim usaha di Jambi? Apa saja peluangnya?
Peluangnya sangat luas hampir di tiap bidang perekonomian. Mulai dari UMKM, industri-industri rumah tangga, perkebunan, infrastruktur, jasa hingga wisata sebenarnya. Apalagi saat ini Pemprov dengan program Jambi Emasnya sangat positif mendorong dan menunjang setiap bentuk kegiatan perekonomian. Ini iklim yang sangat baik.

Mengapa orang Jambi sedikit yang berbisnis dibanding pendatang?
Sepertinya tidak sedikit, hanya saja mungkin sudah banyak yang sangat mapan. Sehingga tidak terlalu kelihatan karena lebih banyak usahanya sudah secara profesional dijalankan oleh sistem dari manajemen masing-masing perusahaannya, hingga tidak terlihat terjun langsung. Karena lebih banyak liburannya, gitu kali ya? Hehehe.. dan yang pasti lebih banyak yang berminat terjun ke dunia politik.

Sebagai ketua BPD HIPMI Jambi, apa program anda?
Di era saya sekarang, saya sudah membentuk program Jambi Entrepreneurship Forum melibatkan adik-adik mahasiswa yang tergabung di dalam Bakorda dan HIPMI PT (Perguruan Tinggi) sebagai bentuk ataupun wadah pengkaderan di HIPMI. Dan juga sebagai jaring untuk menarik minat kawan-kawan mahasiswa berwirausaha selepas kuliah. Bahkan ada yang sudah menjalani kegiatan usahanya sejak masih di bangku kuliah ini sejalan dengan program BPP HIPMI di era kepemimpinan Erwin Aksa hingga sekarang Raja Sapta Oktohari. Serta akan dijalankan juga Jambi Energi Forum yang akan bekerjasama dengan kementrian BUMN dan ESDM. Saat ini di Jambi sudah tergabung 5 perguruan tinggi dan akan terus bertambah.

Dalam pandangan anda, para pemuda Jambi seperti apa, apakah mereka punya jiwa entrepreneur?
Rata-rata sejatinya sudah berkarakter entrepreneur, tapi lebih banyak masih dalam posisi sebagai konsumen. Mungkin karena kurang informasi tentang baiknya dunia usaha. HIPMI mencoba ikut mengisi kekosongan tersebut.

Apa yang menjadi kendala bagi pemula untuk berbisnis?
Biasanya informasi adalah kendala utama dalam memulai tahapan usahanya dan darimana harus mulai melangkah. Terkadang permodalan juga tapi tidak selalu yang utama.

Pebisnis pemula biasanya terkendala masalah permodalan. Menurut anda, sebaiknya permodalan yang bagaimana dan skemanya seperti apa untuk mengatasi masalah ini?
Semua tergantung dari bentuk usahanya. Yang pasti dibutuhkan kesabaran, tidak terburu-buru langsung memaksakan diri untuk menjalani usaha yang besar. Saya juga alami itu.

Apakah permodalan di bank sudah gampang diakses oleh pebisnis pemula?
Terkadang prinsip kehati-hatian dari bank yang diterapkan juga jadi kendala ketika berhadapan dengan ide-ide usaha kreatif yang kenyataannya banyak yang berhasil dengan baik. Hanya saja pihak bank kadang belum melihat peluang tersebut dan pengusaha pemula juga terkendala dalam penyampaian proposal yang baik dan bankable.

Menurut anda, apakah perizinan menjadi kendala bagi pebisnis pemula?
Sejauh ini sudah cukup banyak perbaikan positif di berbagai bidang terkait perizinan usaha. Namun memang masih perlu pembenahan yang lebih baik dan terintegrasi agar waktu dalam memperoleh perizinan dapat ditempuh dengan lebih singkat lagi.

Apakah pemerintah sudah memberikan iklim usaha yang mendukung bagi pebisnis pemula khususnya pebisnis muda?
Sudah, namun harus lebih mendukung lagi.

Mengenai layanan birokrasi pemerintahan?
Seperti saya sampaikan tadi sebelumnya, sudah banyak perbaikan, tapi perlu pembenahan yang lebih serius lagi. Libatkan kami para pengusaha pemula untuk dengarkan kendala-kendala yang kami hadapi di lapangan. Mungkin dengan diskusi santai atau semiformal yang lebih aktif dengan masyarakat di dunia usaha, jangan yang formal-formal, jenuh diskusinya di ruangan tertutup..hehehe...

Lalu soal dunia suap dan korupsi di kalangan pebisnis, apakah tanpa suap dan kolusi bisnis susah berkembang?
Kalau usaha harus dengan suap dan korupsi, bagaimana sahabat saya yang seorang pengusaha brownies "Tela Cake" dari bahan singkong dan umbi-umbian dapat berhasil hingga memiliki omset miliaran perbulannya? Jadi tidak benar kalau dikatakan tanpa suap dan kolusi bisnis susah berkembang. Mungkin hanya segelintir atau oknum saja yang seperti itu.

Terakhir, bagaimana dengan isu yang berkembang bahwa anda ingin ikut maju dalam meramaikan Pemilukada Kota Jambi?
Hehehehehehe......(hanya tertawa kecil itu saja jawabannya). ***

Sumber :
Metro Jambi Edisi Minggu, 16 September 2012 (Digital).

1 komentar:

Atang mengatakan...

Mantap, benar-benar bisa jadi contoh bagi pemuda di Kota Jambi khususnya....

Posting Komentar

Isilah komentar Saudara/i dengan baik dan benar, dilarang membuat komentar yang berbau SARA, Porno atau hal-hal yang melanggar Etika/Norma/Aturan yang berlaku.

Mauliate. HORAS!