Tampilkan postingan dengan label Partuturan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Partuturan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Mencari Kedudukan Dalihan Na Tolu Dalam Pesta Adat Perkawinan dan Adat Meninggal Batak Toba


Sekilas Tentang Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku tersebut adalah:
  1. Pertama, Somba Marhulahula/sembah/hormat kepada keluarga pihak Istri,
  2. Kedua, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita),
  3. Ketiga, Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga).

Dalihan Na Tolu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hulahula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu.

Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama, ketiga hal tersebut :
  1. Somba Marhulahula: ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hul-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata "Somba", yang tekanannya pada som berarti menyembah, akan tetapi kata "Somba" di sini tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula. Hula-hula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu (istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan.
  2. Elek Marboru/lemah lembut tehadap boru/perempuan. Berarti rasa sayang yang tidak disertai maksud tersembunyi dan pamrih. Boru adalah anak perempuan kita, atau kelompok marga yang mengambil istri dari anak kita (anak perempuan kita). Sikap lemah lembut terhadap boru perlu, karena dulu borulah yang dapat diharapkan membantu mengerjakan sawah di ladang. Tanpa boru, mengadakan pesta suatu hal yang tidak mungkin dilakukan.
  3. Manat mardongan tubu/sabutuha, suatu sikap berhati-hati terhadap sesama marga untuk mencegah salah paham dalam pelaksanaan acara adat. Hati-hati dengan teman semarga. Kata orang tua-tua “hau na jonok do na boi marsiogoson” yang berarti kayu yang dekatlah yang dapat bergesekan. Ini menggambarkan bahwa begitu dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik, konflik kepentingan, kedudukan, dan lain-lain.

Inti ajaran Dalihan Natolu adalah kaidah moral berisi ajaran saling menghormati (masipasangapon) dengan dukungan kaidah moral: saling menghargai dan menolong. Dalihan Natolu menjadi media yang memuat azas hukum yang objektif.


Pokok Pembahasan : Cara Mencari Kedudukan Dalihan Na Tolu Dalam Pesta Adat Perkawinan dan Meninggal (Oleh Dans Hutagalung)

Dalam hal ini kita mencoba menelusuri dengan mencari keududukannya pada pesta pernikahan dan pada acara Adat sesudah si Bola meninggal menurut Adat Batak.

Skema Silsilah :
Bp. Op. Bola
|
Op. Bola
|
Bp. Bola
|
Si Bola


Keterangan :
- Op. = Ompung,
- Bp. = Bapak (ayah).

Penjelasan
Namar Dongan Tubu:
1. Abang dan Adiknya bapak si Bola disebut Pamarai,
2. Abang dan Adiknya Op. Si Bola disebut Amangtua/Amang Uda,
3. Abang-Adiknya Opung bapak Bola disebut  Parmaan.
4. Abang-Adik dari Opungnya Opung si Bola disebut Bola Tambirik.

Hula-Hula:
  1. Saudara Laki-laki dari Istrinya Bp. Si Bola disebut; Tulang, dan Tulangnya Tulang itulah yang disebut; Tulang Narobot.
  2. Saudara laki dari Istrinya Op. Bola disebut Bona Tulang.
  3. Saudara Laki-laki Istrinya Op. Bp. Bola disebut Bona Ni Ari.
  4. Saudara Laki-laki Istrinya Opungnya Op. Bola disebut Pangabis.

Boru:
  1. Saudari perempuan Bp. Bola disebut Namboru/Parorot.
  2. Saudari perempuan Op. Bola disebut Parsonduk.
  3. Saudari perempuan Op. Bp. Bola disebut Sihunti Ampang.
  4. Saudari perempuan Op. Op. Bola disebut; Pangabis (boru na leleng).

Demikianlah cara mencari Dalihan Na tolu pada Pesta Adat Batak Dalihan Na Tolu dan Semoga bermanfaat bagi yang belum memahaminya. Horas.

Penulis : Dans Hutagalung (klik profil facebooknya)
Editor dan Penulis Sekilas Dalihan Na Tolu : B. Marada Hutagalung (klik profil facebooknya)
Referensi tentang Dalihan Na Tolu : id.wikipedia.com.

Jumat, 28 Desember 2012

Daftar Tutur Sapa dalam masyarakat Batak Toba

Tutur Sapa Masyarakat Batak Toba adalah merupakan panggilan/sebutan dalam masyarakat Batak Toba.

A
  • Ahu = aku, saya
  • Anak = anak laki-laki
  • Amang, damang, damang parsinuan = ayah, bapak.
  • Amang = sapaan umum menghormati kaum laki-laki.
  • Amanta, amanta raja = sapaan dalam sebuah acara pertemuan.
  • Amanguda = adik laki-laki dari ayah kita.
  • Amanguda = suami dari adik ibu kita.
  • Amangtua = abang dari ayah kita.
  • Amangtua = suami dari kakak ibu kita sendiri.
  • Amanguda/amangtua = suami dari pariban ayah kita.
  • Angkang = abang.
  • Angkangdoli = abang yang sudah kawin.
  • Angkang boru = isteri abang; Kakak yang boru tulang kita.
  • Anggi = adik kita (laki-laki); adik (perempuan) boru tulang kita.
  • Anggi doli = suami dari anggiboru; adik (laki-laki) sudah kawin.
  • Anggiboru, isteri adik kita yang laki-laki.
  • Amangboru = suami kakak/adik perempuan ayah kita.
  • Amangtua/inangtua mangulaki = ompung ayah kita.
  • Ama Naposo = anak (laki-laki) abang/adik dari hulahula kita.
  • Angkangboru mangulaki = namboru ayah dari seorang perempuan.
  • Ampara = penyapa awal sealur marga; marhaha-maranggi.
  • Aleale = teman akrab (bisa saja berbeda marga).

B
  • Bao, amangbao = suami dari eda seorang ibu.
  • Bao, inangbao = isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).
  • Bere = semua anak (laki-laki + perempuan) dari kakak atau adik perempuan kita.
  • Bere = semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.
  • Boru = semua pihak keluarga menantu (laki-laki) kita/amangboru.
  • Boru = anak kandung kita (perempuan) bersama suaminya.
  • Borutubu = semua menantu (laki-laki) / isteri dari satu ompung.
  • Boru Nagojong, borunamatua = keturunan namboru kakek.
  • Boru diampuan = keturunan dari namboru ayah.
  • Bonatulang = tulang dari ayah kita.
  • Bona niari = tulang dari kakek kita.
  • Bonaniari binsar = tulang dari ayah kakek kita.

C
  • Damang = ayah; bapak
  • Damang = sapaan kasih sayang dari anak kepada ayahnya.
  • Damang = digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.
  • Dainang = sebutan kasih sayang anak kepada ibunya.
  • Dainang = digunakan juga oleh ayah kepada anak perempuannya.
  • Daompung baoa+boru = kakek atau nenek kita.
  • Datulang = sebutan hormat khusus kepada tulang.
  • Dahahang (baoa+boru) = abang kita atau isterinya.
  • Dongan saboltok, dongan sabutuha = satu keluarga (sebutan lokal).
  • Dongantubu = abang adik (serupa marga).
  • Dongan sahuta = kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta (kampung).
  • Dongansapadan = dianggap semarga karena diikat oleh padan (janji).

E
  • Eda = kakak/adik ipar antar perempuan.
  • Eda = sapa awal antara sesama wanita.

H
  • Hahadoli = sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.
  • Haha doli = abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.
  • Haha = abang (berbeda sekali artinya dengan Hahadoli dan Haha doli).
  • Hahaboru = isteri abang kita, yang dihormati.
  • Haha Ni Hela = abang dari mantu kita.
  • Haha Ni Uhum = paling tua dalam silsilah sekelompok.
  • Hulahula = keluarga abang/adik dari isteri kita.
  • Hela = menantu (laki-laki) kita sendiri.
  • Hela = juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.
  • Hami = kami (sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri).
  • Hamu = sebutan atas pihak lawan bicara.
  • Hita = kita (menunjuk kelompok kita sendiri).
  • Halak = orang (menunjuk kepada kelompok orang lain).
  • Halak i = orang itu (dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen).
  • Ho = kau (terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita).

I
  • Iba (ahu) = saya.
  • Ibana = dia (penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita).
  • Ibebere = keluarga dari suami bere kita yang perempuan.
  • Inang, dainang = ibu (juga sebutan kasih kepada puteri kita).
  • Inang (simatua) =ibu mertua.
  • Inangbao = isteri dari hulahula atau tunggane kita.
  • Inanta = sebutan penghormatan bagi wanita yang sudah kawin.
  • Inanta soripada = kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.
  • Inanguda = isteri dari adik ayah; ada juga inanguda marpariban.
  • Inangtua = isteri dari abang ayah; ada juga inangtua marpariban.
  • Inangbaju = semua adik perempuan (belum kawin) dari ibu kita .
  • Inangnaposo = isteri dari paraman/amangnaposo kita.
  • Indikindik = cucu dari cucu perempuan kita - Sudah amat jarang ada.
  • Ito, iboto = kakak/adik perempuan kita (serupa marga).
  • Ito = tutur sapa awal dari laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya.
  • Ito = panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.

J
  • Jolma, jolmana = isterinya.
  • Jolmangku = isteriku.

L
  • Lae = tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (laki-laki).
  • Lae = tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.
  • Lae = suami dari kakak atau adik kita sendiri (laki-laki)
  • Lae = anak laki-laki dari namboru kita (laki-laki)

M
  • Maen = anak-gadis dari hulahula kita.
  • Marsada inangboru = abang adik karena ibu kita kakak-adik.

N
  • Namboru = kakak/adik ayah kita .
  • Nantulang = isteri dari tulang kita.
  • Nasida = mereka (penunjuk seseorang yang dihormati).
  • Nasida, halak-nasida = amat diormati karena berpantangan.
  • Natoras = orangtua kandung.
  • Natuatua = orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.
  • Nini = anak dari cucu laki-laki.
  • Nono = anak dari cucu perempuan.

O
  • Ondokondok = cucu dari cucu laki-laki kita - sudah jarang disebutkan.
  • Ompung, ompungdoli, ompung suhut = ayah dari bapak kita.
  • Ompungbao, daompung = orangtua dari ibu kandung kita.
  • Ompungboru = ibu dari ayah kita.

P
  • Pahompu = cucu (anak-anak dari semua anak kita).
  • Pinaribot = sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.
  • Paramaan = anak (laki-laki) dari hulahula kita.
  • Parboruon = semua kelompok namboru atau menantu (laki-laki) kita.
  • Pargellengon = sama Parboruon tetapi maknanya lebih meluas.
  • Parrajaon = semua kelompok dari hulahula dan tulang kita.
  • Pariban = abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.
  • Pariban = semua anak perempuan dari pihak tulang kita.
  • Pariban = anak perempuan yang sudah kawin, dari pariban mertua prp.
  • Parumaen = mantu perempuan (isteri anak kita).
  • Pamarai = abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.

R
  • Rorobot, tulangrorobot = tulang isteri (bukan narobot).

S
  • Sinonduk, Parsonduk bolon = suami;  sedangkan pardijabu = istri.
  • Simatua doli dan simatua boru = mertua laki-laki dan perempuan.
  • Simolohon (simandokhon atau iboto) = kakak atau adik laki-laki.
  • Suhut = pemilik hajatan; sedangkan Paidua ni suhut = orang kedua.

T
  • Tulang = abang/adik dari ibu kita.
  • Tulang/nantulang = mertua dari adik kita yang laki-laki.
  • Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.
  • Tulang Ni Hela = tulang dari pengantin laki-laki.
  • Tulang/nantulang mangulaki = panggilan cucu kepada mertua.
  • Tunggane = semua abang dan adik (laki-laki) dari isteri kita.
  • Tunggane = semua anak laki-laki dari tulang kita.
  • Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
  • Tunggane boru, inang siadopan, pardijabunami = isteri.
  • Tunggane huta = raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.
  • Tuan doli = suami.
  • Tuan boru = isteri

Sabtu, 06 Oktober 2012

Ciri khas orang Batak secara khusus Toba, bila berjumpa dengan sesama batak

Ciri khas orang Batak secara khusus Toba, bila berjumpa dengan sesama batak yang tidak dikenal pasti berusaha untuk mencari hubungan keluarga meski tidak satu keturunan marga.

Bila sudah ditemukan titik temu maka akan muncul panggilan ompung, uda/inanguda, tulang/nangtulang, amangboru/namboru, appara, ito, lae, dll.
 

Bila sudah tidak ada lagi titik temu hubungan marga, maka jalan terakhir adalah melihat umur, maka akan muncullah panggilan ito, lae, kakak, abang, ompung, atau bisa jadi tulang/nantulang, dan amang boru.

Rabu, 01 Juli 2009

Cara Bertutur dan Kampung Asli Hutagalung

A. CARA BERTUTUR

Jika Ingin bertutur sapa terhadap sesama Hutagalung terlebih dahulu sdr/i ikuti yg di bawah ini:

1. Hutagalung keturunan nomor (generasi keturunan yang berapa);

Minggu, 01 Maret 2009

Istilah Partuturan

Istilah partuturan maksudnya adalah panggilan kita kepada kerabat keluarga kita yang lain pada keluarga suku Batak.

Logo Hutagalung Sedunia
Flag Counter